Insight  By Editorial Desk

Upah Buruh Berpacu dengan Inflasi

03 Mei, 2025

Bila mengamati pergerakan inflasi dan upah minimum dalam tujuh tahun terakhir, tampak hubungan antara keduanya tidak selalu ideal.

Ilustrasi demo buruh - NEXT Indonesia

Keterangan foto: Ilustrasi demo buruh

DOWNLOADS


Cover Next Brief_Para Buruh Berpacu dengan Kenaikan Harga.jpg

Para Buruh Berpacu dengan Kenaikan Harga

Download

NEXT Indonesia - Penyesuaian upah minimum dengan laju inflasi setiap tahun memang sangat penting. Kebijakan itu bertujuan untuk menjaga daya beli para pekerja, terutama yang berpenghasilan kecil.

Bila mengamati pergerakan inflasi dan upah minimum dalam tujuh tahun terakhir, tampak hubungan antara keduanya tidak selalu ideal. Hanya sekali, pada tahun 2022, kenaikan upah jauh lebih tinggi daripada inflasi. Itu pun terjadi setelah dua tahun sebelumnya upah minimum tumbuh negatif akibat terganggunya laju perekonomian karena pandemi Covid-19.

Ketika kondisi membaik, upah mulai kembali naik dan mencapai puncaknya pada tahun 2022 dengan kenaikan sebesar 12,2%. Namun pada dua tahun berikutnya, kenaikan upah hanya sedikit di atas laju inflasi.

Untuk tahun ini, pemerintah telah mengumumkan kenaikan upah minimum sebesar 6,5%. Pengusaha dan pekerja sempat mengeluhkan besaran tersebut, walau kemudian menerima keputusan.

Pengusaha menilai kenaikan itu terlalu  tinggi di tengah situasi perekonomian nasional dan global yang belum bangkit sepenuhnya dari kejatuhan saat pandemi. Asosiasi Pengusaha Indonesia menyatakan berdasarkan hitungan mereka seharusnya kenaikan upah yang ideal adalah 3,5%.

Sementara pekerja memandang angkanya terlalu rendah. Bahkan beberapa serikat buruh sempat meminta kenaikan upah antara 8-10%, yang menurut mereka bisa lebih menjamin kehidupan yang layak.

Ketimpangan Upah di Sektor Ekonomi

BPS membagi sektor ekonomi ke dalam 17 lapangan pekerjaan utama. Kesenjangan rata-rata upah buruh yang bekerja di sektor berbeda tampak begitu nyata. 

Secara keseluruhan, rata-rata upah pekerja Indonesia berdasarkan data Agustus 2024 mencapai Rp3,3 juta/bulan. Ada 10 sektor ekonomi yang para pekerjanya berpenghasilan di atas rata-rata nasional.

Rata-rata upah tertinggi dikantongi oleh pekerja pada sektor pertambangan dan penggalian. Berdasarkan data BPS Agustus 2024, besarannya mencapai Rp5,2 juta/bulan, sekitar 60% di atas rata-rata upah secara nasional.

Pekerja di dua bidang ekonomi lain juga menerima upah rata-rata mencapai angka Rp5 juta/bulan, yaitu aktivitas keuangan dan asuransi serta informasi dan komunikasi. Sementara itu, pekerja sektor aktivitas jasa lainnya adalah penerima upah terendah. Rata-rata dari pekerja tersebut mendapatkan Rp2 juta/bulan, lebih kecil 39% dari rata-rata upah nasional.

Pekerja sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin menikmati kenaikan upah tertinggi sepanjang empat tahun terakhir, mencapai 7,1%. Kenaikan upah terendah dialami pekerja sektor pendidikan, hanya tumbuh 1,8% dalam empat tahun terakhir.

Related Articles

blog image

Daerah-daerah Boros Sampah

TPA diproyeksi penuh 2028, sementara sampah makanan dan plastik terus naik, menuntut perubahan serius pengelolaan dari sumbernya.

Selengkapnya
blog image

Daya Beli Masyarakat Tertekan, Masyarakat Pilih Nabung Dibanding Belanja

Daya beli masih terjaga, namun konsumsi tertahan tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, membuat rumah tangga makin berhati-hati berbelanja.

Selengkapnya
blog image

Membaca Sinyal Daya Beli Masyarakat

Daya beli masyarakat masih terjaga, namun tertekan. Konsumsi stabil, tetapi upah riil melemah dan rumah tangga kian hati-hati belanjakan pendapatan.

Selengkapnya