Menghitung Efek Rambatan RDMP Balikpapan
02 Mei, 2026
Defisit migas tembus US$3,2 miliar awal 2026. RDMP Balikpapan digadang tekan impor, dorong ekonomi, namun dampaknya masih terbatas dan belum merata.
Keterangan foto: Ilustrasi kawasan industri.
Ringkasan
• Defisit Migas dan Peran Strategis RDMP Balikpapan
Defisit migas Indonesia masih besar, mencapai US$3,2 miliar di awal 2026 dan berpotensi menembus US$19 miliar setahun. RDMP Balikpapan hadir untuk menekan impor BBM dengan tambahan kapasitas hingga 100.000 barel per hari. Proyek ini diproyeksikan mampu mengurangi impor sekitar Rp68 triliun per tahun atau sekitar 20% dari defisit migas. Namun, dampaknya tetap terbatas jika konsumsi BBM terus meningkat dan tidak diimbangi kebijakan pengendalian permintaan.
• Dampak Ekonomi: Tumbuh, Tapi Belum Merata
Simulasi ekonomi menunjukkan RDMP Balikpapan mendorong PDB naik sekitar 0,72% atau Rp142,1 triliun, serta menambah sekitar 1,28 juta lapangan kerja. Konsumsi rumah tangga juga meningkat, dan impor turun signifikan. Namun, manfaat ekonomi lebih cepat terasa pada konsumsi dibanding investasi jangka panjang. Dampak juga terkonsentrasi pada sektor energi, sementara sektor lain tidak mengalami lonjakan berarti, bahkan sebagian cenderung stagnan.
• Efek Sosial dan Tantangan Struktural
RDMP Balikpapan berkontribusi menurunkan kemiskinan sekitar 68,9 ribu orang, tetapi penurunannya sangat tipis dan tidak mengubah ketimpangan pendapatan. Dampak lebih terasa di perkotaan dibanding desa. Ini menunjukkan proyek bersifat pro-growth, tetapi belum inklusif. Tanpa kebijakan lanjutan seperti penguatan hilirisasi dan distribusi energi, RDMP berisiko hanya menjadi pengungkit pertumbuhan jangka pendek tanpa transformasi ekonomi yang mendalam.
MOST POPULAR
NEXT Indonesia Center - Defisit perdagangan minyak dan gas (migas) masih menjadi momok dalam neraca perdagangan Indonesia. Angkanya cukup besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS)= menunjukkan bahwa pada Januari-Februari 2026, defisit migas mencapai sekitar US$3,2 miliar. Jika diproyeksikan secara kasar berarti defisit tahun ini berpotensi mencapai angka sekitar US$19 miliar.
Jadi, sangat wajar bila impor BBM dipandang sebagai salah satu sumber utama kerentanan bagi perekonomian Indonesia. Selama ketergantungan ini tidak dikoreksi, stabilitas nilai tukar rupiah dan ruang fiskal akan terus terpapar volatilitas harga minyak global.
Sebagai upaya menekan defisit, pada 12 Januari 2026 Presiden Prabowo Subianto meresmikan Refinery Development Master Plan Balikpapan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur. Kehadiran RDMP dengan nilai investasi US$7,4 miliar (sekitar Rp127 triliun) itu diharapkan menambah output bersih produk migas hingga kisaran 100.000 barel per hari (bph), dari saat ini 260.000 bph. Dengan demikian, bakal menjadi 360.000 bph.
Jika diasumsikan tingkat utilisasi kilang baru di Balikpapan tinggi dan sebagian besar output menggantikan impor bahan bakar minyak (BBM), menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral potensi substitusi impor berada pada kisaran Rp68 triliun per tahun, dengan rincian pengurangan impor bensin Rp44,6 triliun; solar Rp14,9 triliun; avtur Rp5,4 triliun; dan liquified petroleum gas (LPG) Rp2,9 triliun per tahun. Angka ini begitu berarti, karena mampu menutup sekitar 20% dari defisit migas tahunan.
Tak hanya meningkatkan volume, RDMP juga mengubah struktur ekonomi kilang. Produksi bahan bakar standar Euro V (≤10 ppm sulfur), kemampuan mengolah heavy dan sour crude yang lebih murah, serta output petrokimia seperti propylene berpotensi meningkatkan margin dan mengurangi ketergantungan pada impor produk tertentu.
Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan Lawe-lawe

Selain semua hal yang telah disebutkan itu, keberadaan RDMP Balikpapan ini juga disebut-sebut berpotensi mendorong perekonomian nasional, terkhusus ekonomi Balikpapan. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron dalam wawancara dengan CNBC Indonesia mengungkapkan, keberadaan proyek di Kalimantan Timur ini dapat membuka dan memperluas lapangan kerja, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” kata Baron.
Untuk membuktikan adanya multiplier effect (efek rambatan) tersebut, dalam publikasi ini NEXT Indonesia Center menguji dampak keberadaan RDMP Balikpapan terhadap perekonomian nasional dengan menggunakan pendekatan model Computable General Equilibrium (CGE). Pendekatan ini memungkinkan simulasi berbasis skenario untuk mengukur dampak langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian nasional, termasuk efek rambatan ke sektor industri dan kesejahteraan rumah tangga.
Hasil analisis ini diharapkan memberikan gambaran bahwa RDMP Balikpapan dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi defisit migas dan sekaligus mendorong perekonomian nasional, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada kebijakan pendukung, disiplin implementasi, dan dinamika ekonomi global.
RDMP Balikpapan Memompa Produktivitas
Sebelum lanjut pada pembahasan mengenai dampak Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan terhadap perekonomian nasional, mari tengok mengapa proyek ini penting sehingga menjadi salah satu agenda strategis pemerintah. Jika melihat data historis produktivitas kilang minyak nasional, urgensi program ini menjadi sangat jelas.
Pada periode 2015-2024, produktivitas kilang Indonesia menunjukkan pola yang cenderung stagnan. Volume bahan baku kilang memang bergerak fluktuatif di kisaran 43-53 juta kilo liter (KL) per tahun. Puncak volume bahan baku terjadi pada 2018-2019, sebelum turun saat pandemi dan kembali pulih terbatas. Akan tetapi, peningkatan input tersebut tidak diikuti oleh lonjakan output yang sepadan. Produksi hasil kilang hanya naik tipis dan bahkan pada 2024 kembali ke level sekitar 39,58 juta KL, hampir sama dengan posisi satu dekade sebelumnya.
Masalah utama terlihat dari tren refinery yield (rasio antara bahan baku dan produk hasil olahan). Pada 2015, yield masih berada di level tinggi sebesar 0,92, kemudian turun tajam dan berfluktuasi di kisaran 0,81-0,85. Bahkan pada 2024 menyentuh 0,80, yield terendah dalam 10 tahun terakhir. Dengan demikian, untuk menghasilkan satu satuan hasil olahan minyak mentah, diperlukan lebih dari satu satuan tertentu minyak mentah.
Kondisi ini menunjukkan tingkat efisiensi kilang yang lemah. Sebagai contoh, setiap satu kiloliter minyak mentah yang diolah, hasilnya hanya setara 0,8 kiloliter produk olahan.
Penurunan efisiensi produksi kilang ini mengindikasikan adanya beragam persoalan, mulai dari keterbatasan teknologi, mismatch antara spesifikasi kilang dengan jenis crude yang diolah, hingga lambatnya modernisasi fasilitas existing. Tanpa intervensi seperti RDMP, peningkatan kapasitas saja tidak akan cukup untuk memperbaiki kinerja sektor migas.
Di sinilah RDMP Balikpapan bisa mengambil peran kunci sebagai titik balik. Jika berhasil, proyek ini tidak hanya meningkatkan volume produksi, tetapi juga mengangkat kembali yield dan efisiensi kilang nasional. Sebaliknya, jika dampaknya tidak signifikan, Indonesia akan tetap terjebak dalam pola lama—mengolah dalam jumlah besar, tetapi dengan hasil yang tidak optimal.
Selanjutnya, NEXT Indonesia Center akan mengukur dampak langsung dan tidak langsung dari operasi RDMP Balikpapan terhadap perekonomian nasional, termasuk efek rambatan ke sektor industri dan kesejahteraan rumah tangga.
Pendekatan Computable General Equilibrium (CGE) untuk RDMP Balikpapan
Analisis dampak pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan terhadap perekonomian Indonesia dalam white paper ini menggunakan pendekatan Computable General Equilibrium (CGE). Secara sederhana, model ini digunakan untuk melihat bagaimana perubahan di satu sektor—dalam hal ini sektor kilang minyak—akan memengaruhi sektor lain dalam perekonomian secara keseluruhan. Pendekatan ini penting, mengingat dampak proyek seperti RDMP tidak berhenti di sektor energi saja, tetapi juga menjalar ke industri, perdagangan, hingga rumah tangga.
Model CGE yang digunakan dibangun berdasarkan Social Accounting Matrix (SAM) Indonesia tahun 2022, yaitu suatu kerangka data yang menggambarkan struktur perekonomian nasional secara lengkap. Di dalamnya tercakup hubungan antara sektor produksi, perdagangan, faktor produksi (tenaga kerja dan modal), serta berbagai kelompok rumah tangga. Dengan basis ini, model mampu mencerminkan kondisi nyata perekonomian Indonesia secara lebih akurat.
Dalam simulasi, pengembangan RDMP Balikpapan diperlakukan sebagai sebuah “shock” atau perubahan ekonomi, yang mencerminkan peningkatan investasi dan kapasitas produksi di sektor kilang. Dampak ini dimasukkan ke dalam model melalui beberapa jalur utama, yaitu: peningkatan produksi di sektor refinery sekitar 22,2% dari produksi nasional serta peningkatan efisiensi (produktivitas) sektor refinery sekitar 2,3% akibat penggunaan teknologi dari proses peningkatan akumulasi kapital yang dilakukan.
Selanjutnya, model akan menghitung bagaimana perubahan tersebut memengaruhi berbagai indikator ekonomi, seperti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), investasi, konsumsi rumah tangga, serta ekspor dan impor. Tidak hanya itu, model ini juga dapat melihat dampaknya pada tingkat sektoral—misalnya terhadap output industri, penyerapan tenaga kerja, dan perubahan harga. Bahkan, analisis bisa diturunkan hingga ke tingkat rumah tangga untuk melihat siapa yang paling diuntungkan atau terdampak dari pengembangan RDMP ini.
Model CGE yang digunakan dalam kajian ini diadopsi dari kerangka standar yang dikembangkan oleh International Food Policy Research Institute (IFPRI), khususnya model CGE generik yang dirumuskan oleh Hans Lofgren, R.L.Harris dan Sherman Robinson (2002). Model ini telah dikenal luas dan digunakan dalam berbagai analisis kebijakan ekonomi di banyak negara. Dalam studi ini, model tersebut disesuaikan dengan karakteristik Indonesia, terutama dengan menekankan peran sektor energi dan industri pengolahan.
Melalui pendekatan tersebut, hasil analisis diharapkan tidak hanya valid secara metodologis, tetapi juga mampu memberikan gambaran utuh mengenai dampak RDMP Balikpapan terhadap perekonomian nasional.
Aliran Nilai Tambah dari RDMP Balikpapan
Kehadiran kilang pengolahan minyak mentah atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur sejatinya mampu memberikan nilai tambah yang rambatannya tidak terbatas pada penyerapan tenaga kerja. Hasil simulasi NEXT Indonesia Center menggunakan permodelan ekonomi Computable General Equilibrium (CGE) membuktikan dampak positif tersebut.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberadaan RDMP Balikpapan berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Produk Domestik Bruto (PDB) berpotensi bertambah sebesar 0,72% atau sekitar Rp142,1 triliun akibat proyek tersebut.
Transmisinya, secara simpel mudah diidentifikasi. Penambahan investasi, yang dalam bahasa Badan Pusat Statistik (BPS) disebut sebagai Pembentukan Modal Tetap Bruto alias PMTB, merupakan komponen penting dalam perekonomian nasional. Pada 2025, kontribusinya sebesar 28,77% terhadap Produk Domestik Bruto.
Dukungan terhadap PDB akibat proyek RDMP Balikpapan tak hanya dari investasi, tapi juga konsumsi masyarakat. Hasil simulasi menunjukkan ada potensi penambahan 0,82% atau sekitar Rp64,1 triliun. Saat ini, konsumsi masyarakat masih menjadi komponen terbesar yang menopang perekonomian nasional.
Tak kalah pentingnya, kehadiran RDMP Balikpapan, menurut hasil simulasi, berpotensi menambah serapan tenaga kerja sebesar 0,89% (sekitar 1,28 juta orang). Temuan ini menegaskan bahwa RDMP tidak hanya mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli masyarakat.
Pola pertumbuhan yang terbentuk tetap menunjukkan dominasi konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama. Kenaikan konsumsi rumah tangga yang relatif tinggi dibandingkan investasi, mengindikasikan bahwa dampak RDMP lebih cepat terasa pada aktivitas ekonomi riil dibandingkan pembentukan kapasitas jangka panjang. Dengan kata lain, proyek ini efektif menggerakkan ekonomi dalam jangka pendek, namun belum sepenuhnya mendorong ekspansi investasi yang lebih luas.
Skenario ini juga menunjukkan adanya perbaikan pada sektor eksternal. Ekspor relatif stagnan dengan kenaikan tipis 0,03%, namun impor justru turun sebesar 1,51% atau sekitar Rp59,8 triliun. Penurunan impor ini menjadi sinyal kuat bahwa RDMP akan berfungsi sebagai instrumen substitusi impor, khususnya di sektor energi. Implikasinya, tekanan terhadap neraca perdagangan, terutama migas, berpotensi berkurang secara lebih nyata.
Distribusi manfaat ekonomi juga menunjukkan pola yang relatif konsisten. Seluruh kelompok rumah tangga mengalami peningkatan pendapatan, dengan potensi tambahan 0,78% hingga 0,95%. Namun, kelompok berpendapatan tertinggi tetap menikmati peningkatan terbesar, baik secara persentase maupun nominal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun RDMP bersifat pro-growth, dampaknya terhadap pemerataan masih terbatas dan cenderung mengikuti struktur ekonomi yang sudah ada.
Secara keseluruhan, hasil ini memperlihatkan bahwa RDMP Balikpapan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mulai menunjukkan peran strategis dalam memperbaiki keseimbangan eksternal melalui penurunan impor. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam mendorong investasi lanjutan dan memastikan distribusi manfaat yang lebih merata. Tanpa kebijakan pendukung yang tepat, RDMP berpotensi menjadi pengungkit pertumbuhan yang kuat, tetapi belum sepenuhnya menjadi alat transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Imbas Kemiskinan dari RDMP Balikpapan
Dari sudut pandang kesejahteraan, RDMP Balikpapan turut memberikan dampak terhadap penurunan kemiskinan. Akan tetapi, skalanya masih relatif terbatas.
Dalam rangka mengukur potensi dampak dari proyek RDMP Balikpapan terhadap kemiskinan, Next Indonesia Center memanfaatkan hasil simulasi CGE untuk melakukan analisis microsimulation dengan menggunakan data Susenas Maret 2025 sebagai basis dasar perhitungan.
Hasil simulasi menunjukkan, secara nasional, jumlah penduduk miskin akan berkurang sekitar 68,9 ribu orang, dengan tingkat kemiskinan turun tipis dari 9,03% menjadi 9,00%. Penurunan ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi mampu menjangkau kelompok berpendapatan rendah, meskipun efeknya relatif kecil.
Jika dilihat secara spasial, dampak penurunan kemiskinan lebih terasa di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Jumlah penduduk miskin di kota berkurang sekitar 43,65 ribu orang, sementara di desa hanya sekitar 25,24 ribu orang. Ada indikasi bahwa manfaat ekonomi RDMP Balikpapan terasa lebih kuat di wilayah yang terkait erat dengan sektor industri dan jasa dibandingkan wilayah perdesaan.
Sementara, indikator ketimpangan yang diukur melalui koefisien gini tidak menunjukkan perubahan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, distribusi pendapatan secara keseluruhan belum mengalami perbaikan.
Sektor Terdampak RDMP Balikpapan
Analisis sektoral menunjukkan bahwa dampak dari proyek RDMP Balikpapan terkonsentrasi pada sektor energi, khususnya industri pengilangan migas. Sektor ini mencatat lonjakan output sebesar 22,25%, peningkatan ekspor hingga 12,23%, serta penurunan impor sebesar 32,31%.
Pada saat yang sama, harga output atau produk hasil olahan minyak berpotensi turun 9,93%. Hal ini mencerminkan peningkatan efisiensi dan kapasitas produksi. Temuan tersebut menegaskan bahwa RDMP secara langsung memperkuat sektor inti energi dan meningkatkan daya saingnya. Di luar sektor tersebut, dampaknya jauh lebih beragam dan cenderung moderat hingga negatif.
Secara keseluruhan, dampak RDMP Balikpapan terhadap sektor ekonomi ini memperlihatkan pola yang jelas. Kilang baru terhadap memperkuat sektor energi secara signifikan, tetapi belum menciptakan pertumbuhan yang merata di seluruh sektor ekonomi. Tanpa kebijakan pendukung yang mampu memperluas keterkaitan antar sektor, manfaat proyek ini berisiko tetap terkonsentrasi pada sektor inti, dengan efek limpahan yang terbatas ke perekonomian yang lebih luas.
Fondasi Awal, Bukan Tujuan Akhir
RDMP Balikpapan adalah langkah maju yang penting, tetapi bukan solusi ajaib yang dapat langsung menyelesaikan semua persoalan migas Indonesia. Proyek ini jelas membawa perbaikan, seperti kapasitas kilang naik, kualitas produk membaik, dan ada peluang mengurangi impor BBM. Dari hasil simulasi, dampaknya juga terasa ke ekonomi, dengan naiknya pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja bertambah, dan kemiskinan sedikit turun. Jadi, bisa dikatakan bahwa arah kebijakan ini sudah tepat.
Akan tetapi, dampak tersebut masih terbatas. Defisit migas tidak akan hilang hanya dengan satu proyek, bahkan dengan proyek sebesar RDMP Balikpapan. Potensi penghematan impor memang ada, tapi porsinya masih relatif kecil dibandingkan total defisit. Di sisi lain, ada potensi terus naiknya konsumsi BBM dalam negeri, sehingga sebagian kebutuhan tetap harus dipenuhi dari impor. Artinya, perbaikan yang ada belum cukup untuk membalikkan keadaan secara signifikan.
Dampak RDMP juga masih sangat terkonsentrasi di sektor energi. Kilang dan industri terkait memang tumbuh cukup kuat, tapi efeknya ke sektor lain belum terasa luas. Bahkan, beberapa sektor lain justru terdorong naik secara terbatas atau cenderung stagnan. Ini menunjukkan bahwa keberadaan RDMP memang mendorong pertumbuhan, tapi belum mengubah struktur ekonomi secara menyeluruh.
Oleh karena itu, RDMP Balikpapan sebaiknya dilihat sebagai fondasi awal, bukan tujuan akhir. Supaya manfaatnya benar-benar maksimal, perlu ada dorongan lanjutan, seperti penguatan industri petrokimia (hilirisasi), perbaikan distribusi energi, sampai kebijakan yang menahan laju konsumsi BBM agar tidak terus melonjak. Tanpa itu, tambahan kapasitas kilang berisiko hanya mengejar permintaan yang terus naik, tanpa pernah benar-benar mengurangi ketergantungan impor.
Jadi, RDMP Balikpapan membuka peluang besar, tapi hasil akhirnya tetap ditentukan oleh apa yang dilakukan setelahnya. Kalau dimanfaatkan dengan tepat, ini bisa jadi titik balik menuju kemandirian energi. Tapi kalau tidak, kita hanya akan mengolah lebih banyak, tanpa benar-benar memperbaiki masalah dasarnya.