Kinerja Ekonomi Kalimantan
25 Mei, 2025
Pada tahun 2024 BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan mencapai 5,3%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,03%.
Keterangan foto: Ilustrasi daerah ekonomi Kalimantan
NEXT Indonesia - Selama 10 tahun terakhir, Kalimantan telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, didukung oleh sektor-sektor utama seperti pertambangan dan industri pengolahan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi di pulau tersebut selaras dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional.
MOST POPULAR
Pada tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi di Kalimantan mencapai 5,3%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,03%. Pendorong utamanya, menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti seperti dikutip Antara, adalah aktivitas konstruksi yang tumbuh 15,82%.
Tingginya pertumbuhan aktivitas lapangan usaha tersebut, terutama di Kaltim, dipicu oleh pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Selain aktivitas konstruksi, pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur juga didorong oleh tingginya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) –pengeluaran untuk barang modal yang memiliki umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi–yang juga merupakan imbas pembangunan berbagai infrastruktur di IKN.
Pembangunan IKN membuat Provinsi Kalimantan Timur, yang sempat tertatih dan mencatatkan pertumbuhan ekonomi terendah khususnya pada periode 2011-2018, kini menjadi motor utama pertumbuhan di Kalimantan.
Walau demikian, BPS mencatat, kontribusi Pulau Kalimantan terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terbilang kecil, hanya sebesar 8,49%. Peran itu masih jauh di bawah Pulau Jawa, yang berkontribusi 57,05% terhadap PDB 2024.
Bambang Brodjonegoro, saat masih menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pernah memaparkan bahwa untuk mendongkrak pertumbuhan, ekonomi Kalimantan harus bisa bertumpu pada industrialisasi yang berbasis hilirisasi sumber daya alam (SDA). Wilayah itu, katanya, tidak bisa lagi hanya mengandalkan konsumsi dan ekspor SDA mentah.
”Perekonomian tidak bisa moody, kita butuh stabilitas yang hanya bisa melalui penciptaan nilai tambah melalui hilirisasi SDA,” kata Bambang.
Sektor Utama Penopang Ekonomi Kalimantan
Untuk dapat mengetahui sektor-sektor ekonomi yang kompetitif dan berpotensi digenjot guna meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Kalimantan, NEXT Indonesia menggunakan tiga metode analisis.
Pertama, metode analisis shift-share yang digunakan untuk mengetahui pergeseran sektor-sektor ekonomi di setiap provinsi di Kalimantan dibandingkan dengan perekonomian Indonesia dalam kurun waktu tertentu. Kemudian, Location Quotient (LQ) Sektor Utama Penopang Ekonomi Kalimantan digunakan untuk mencari tahu sektor- sektor apa saja yang menjadi basis perekonomian di setiap provinsi tersebut.
Terakhir, Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui sektor lapangan usaha/sektor ekonomi yang bersifat andalan, potensial, berkembang atau relatif tertinggal, menggunakan hasil pengolahan data pada dua analisis sebelumnya (Differential Shift pada sumbu vertikal dan Indeks LQ pada sumbu horisontal).
1. Kalimantan Timur
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur sempat berjalan lambat dan tersendat, hampir selalu berada di posisi paling bawah di antara provinsi-provinsi lain di Kalimantan. Bahkan ketika dua kabupatennya diumumkan sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Agustus 2019, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat 4,7%, hanya lebih tinggi dari Kalimantan Selatan yang 4,1%. Sementara tiga provinsi lain tumbuh di atas 5%.
Saat Indonesia mulai bangkit usai pandemi Covid-19 dengan pertumbuhan ekonomi 5,31% pada 2022, ekonomi Kaltim hanya tumbuh 4,48%, terendah di Kalimantan. Rata-rata pertumbuhan periode 2011-2024 hanya 2,9%.
Namun, konstruksi yang masif dalam pembangunan IKN ikut melejitkan perekonomian wilayah berjulukan ”Benua Etam” ini. Selama dua tahun berturut-turut, 2023 dan 2024, pertumbuhan ekonomi Kaltim masing-masing mencapai 6,2%, yang tertinggi di Kalimantan.
Tipologi Klassen menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian menjadi satu-satunya lapangan usaha yang masuk dalam kuadran I (lapangan usaha andalan). Nilai ekonomi lapangan usaha ini mencapai Rp329,5 triliun, berkontribusi 38,4% terhadap PDRB 2024 yang mencapai Rp858,4 triliun.
Hal ini tidak mengherankan mengingat Kaltim merupakan penghasil minyak dan gas bumi serta batu bara, terutama di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara. Sektor pertambangan dan penggalian menyerap 168.391 tenaga kerja atau 8,5% dari total angkatan kerja di Kaltim.
Industri pengolahan juga memiliki kontribusi yang signifikan, khususnya yang terkait dengan pengolahan hasil tambang dan migas. Perbaikan kinerja industri pengolahan, termasuk dari industri migas (Liquefied Natural Gas, LNG), turut mendukung pertumbuhan
ekonomi Kaltim.
Tampak juga konstruksi mulai bergerak menjadi lapangan usaha andalan, terutama dengan berjalannya proyek IKN. Sektor ini diprediksi akan terus memberikan andil besar pada pertumbuhan
ekonomi Kaltim di masa depan.
Untuk mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif dan menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan, Kalimantan Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor-sektor lain yang berdasarkan hasil analisis NEXT Indonesia masih terhitung kompetitif. Beberapa sektor tersebut, antara lain:
• Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: Pengembangan hilirisasi komoditas pertanian dan perkebunan seperti kelapa sawit (menjadi CPO dan produk turunannya), karet, dan hasil hutan bukan kayu (misalnya rotan, madu) dapat meningkatkan nilai tambah. Wilayah pesisir yang luas juga membuat pengembangan perikanan tangkap dan budidaya jadi menjanjikan.
• Industri Manufaktur (non-migas dan batu bara): Diversifikasi industri ke sektor pengolahan yang tidak tergantung pada migas dan batu bara sangat penting. Contohnya, pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan, industri kreatif, atau industri berbasis teknologi seiring dengan perkembangan IKN.
• Jasa (khususnya terkait IKN): Pembangunan IKN akan menciptakan peluang besar di sektor jasa, seperti jasa logistik, transportasi, keuangan, kesehatan, pendidikan, dan layanan profesional lainnya. Kaltim perlu mempersiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung untuk memenuhi permintaan jasa tersebut.
• Pariwisata: Kalimantan Timur memiliki keanekaragaman alam
dan budaya yang menarik. Pengembangan ekowisata, wisata bahari, dan wisata budaya dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Untuk bisa mengembangkan potensi-potensi tersebut, pemerintah Kaltim wajib mengelola sumber daya manusia (SDM) terdidik dengan lebih baik. Pembangunan IKN menarik masuk banyak pekerja dari luar provinsi, sehingga pekerja Kaltim harus siap berkompetisi.
Pembangunan besar-besaran tentunya butuh modal tambun. Oleh karena itu, pemerintah Kaltim memasang target investasi, baik lokal (PMDN) maupun asing (PMA), sebesar total Rp79,9 triliun sepanjang tahun 2025 ini. Target tersebut lebih tinggi dari realisasi PMA dan PMDN 2024 senilai Rp76,3 triliun.
2. Kalimantan Selatan
Perekonomian Kalimantan Selatan menunjukkan ketahanan yang baik dan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun sempat terkontraksi pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19 (seperti halnya banyak wilayah lain). Perekonomian Kalsel dengan cepat bangkit dan menunjukkan pertumbuhan positif yang konsisten.
Pada tahun 2024, ekonomi provinsi tersebut tumbuh 5,05% dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan dataBPS, ada empat lapangan usaha yang menjadi penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), yaitu pertambangan dan penggalian (29,47%); pertanian, kehutanan dan perikanan (11,55%); industri pengolahan (10,95%); perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (9,82%).
Peran empat lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Kalimantan Selatan mencapai 61,79% dari PDRB atau senilai Rp177,2 triliun.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kalsel akan tetap kuat dalam kisaran 4,4% hingga 5,2% yoy pada tahun 2025. Namun angka tersebut masih lebih rendah dari target 5,4% pada RPJMN 2025-2029.
Tampaknya mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8,1% pada tahun 2029 adalah target yang sangat ambisius bagi provinsi ini. Meski demikian, target tersebut bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai.
Dengan location quotient (LQ) yang masih tinggi, mencapai nilai 3,15, sementara ini sektor pertambangan dan penggalian masih bisa
diandalkan. Namun, pemerintah Kalsel harus segera mendorong hilirisasi produk tambang untuk mengangkat daya saingnya atau differential shift sektor tersebut.
Salah satu upaya untuk mendukung inisiatif tersebut, dengan membangun pabrik gasifikasi batu bara untuk memproduksi Dimetil Eter (DME) sebagai substitusi LPG. Apalagi Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyatakan bahwa Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bakal mengucurkan dana untuk mendorong produksi DME guna mengurangi ketergantungan pada impor LPG.
Hilirisasi juga perlu dilakukan pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, yang merupakan sektor andalan. Apalagi lapangan usaha ini menyerap tenaga kerja terbanyak dengan 621.668 pekerja, atau nyaris 30% dari 2,12 juta tenaga kerja di Kalsel.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel, Ariadi Noor, menyatakan bahwa mereka tengah berusaha untuk mendorong industrialisasi komoditas unggulan dan penguatan sektor agroindustri.
Kalsel juga berambisi untuk menjadi gerbang logistik Kalimantan dan menjadi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Untuk itu, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalsel 2025-2029, ada empat kawasan industri terintegrasi yang tengah dalam pengembangan yaitu di Jorong, Batulicin, Banua Anam, dan Mekar Putih.
Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi industri dan meningkatkan investasi yang masuk, sehingga menggerakkan roda perekonomian untuk tumbuh lebih tinggi.
Perkembangan kawasan industri juga akan ikut mengangkat sektor jasa pendidikan, jasa kesehatan dan layanan sosial, serta pengadaan air dan pengelolaan limbah yang saat ini sudah menjadi sektor andalan dalam PDRB Kalsel.
Secara keseluruhan, perekonomian Kalimantan Selatan dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan ketahanan yang baik. Namun, upaya diversifikasi perlu terus dilakukan untuk memastikan pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan.