Research  By Editorial Desk

Menuju Swasembada Beras

06 Juni, 2025

Produksi dan harga beras di pasar terus naik. Sebaliknya, tingkat kesejahteraan petani tanaman pangan yang berstatus buruh justru makin turun.

Ilustrasi tangan memegang beras - Next Indonesia

Keterangan foto: Ilustrasi tangan menggenggam beras

DOWNLOADS


Cover next review menuju swasembada beras.jpg

Menuju Swasembada Beras

Download

Ringkasan
• Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4 juta ton per Mei 2025, tertinggi sejak 1969. Produksi beras meningkat tajam, membuat Indonesia berada di posisi teratas produsen beras ASEAN.
• Harga Beras Eceran Masih Tinggi dan Melebihi HET
Meski stok melimpah, harga beras eceran premium di sebagian besar provinsi tetap di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), dengan disparitas harga dari petani ke konsumen hingga 2,5 kali lipat.
• Dugaan Permainan Harga oleh Mafia Beras
Menteri Pertanian mencurigai adanya mafia yang menahan distribusi beras untuk mendesak impor. Harga beras domestik jauh lebih tinggi dibandingkan beras impor dari Thailand dan Vietnam.

 

 

NEXT Indonesia - Ketahanan pangan Indonesia, khusus komoditas beras, tengah berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), menurut Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, telah mencapai 4 juta ton pada akhir Mei 2025. Jumlah tersebut merupakan pencapaian tertinggi sejak Badan Usaha Logistik (Bulog), lembaga yang mengurus cadangan beras, didirikan pada tahun 1969.

Stok CBP dalam lima bulan pertama tahun 2025 tersebut sudah hampir dua kali lipat lebih banyak dari cadangan di Bulog pada akhir tahun 2024 yang mencapai sekitar 2 juta ton. ”Kita tidak lagi hanya bicara swasembada, tapi sudah bicara kedaulatan. Dengan angka serapan seperti ini, Indonesia secara tidak langsung siap mengambil peran lebih besar dalam sistem pangan dunia,” ujar Mentan Amran dalam siaran pers yang dirilis Kementerian Pertanian, Sabtu (31/5/2025).

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dalam ”Rice Outlook: April 2025” memproyeksikan cadangan beras Indonesia bisa mencapai 5 juta ton pada akhir periode 2024/2055, dengan total produksi diperkirakan 34,6 juta ton. Sementara impor beras Indonesia diproyeksikan turun menjadi sekitar 800 ribu ton sepanjang 2025, dari 4,5 juta ton pada tahun sebelumnya.

Proyeksi USDA tersebut menempatkan Indonesia pada posisi teratas produsen beras di antara negara-negara ASEAN. Kemampuan produksi Indonesia itu, jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam (26,5 juta ton), Thailand (20,1 juta ton), Filipina (12 juta ton), Kamboja (7,4 juta ton), Laos (1,8 juta ton) dan Malaysia (1,7 juta ton).

Pada awal Mei 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) juga merilis proyeksi produksi beras nasional. Menurut hitungan BPS, produksi beras pada semester I-2025 akan mencapai 18,8 juta ton, naik sekitar 11,24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 16,9 juta ton.

Kenyataan tersebut tentu saja menggembirakan. Berlimpahnya stok beras membuat target pemerintah untuk mencapai swasembada beras pada akhir 2025 atau 2026, seperti yang kerap dinyatakan Presiden Prabowo Subianto, berpeluang besar tercapai.

Namun demikian, ada satu masalah lain yang perlu diawasi, yaitu disparitas (kesenjangan) harga beras sejak tingkat petani hingga nilai akhir yang harus dibayarkan oleh konsumen. Hal ini penting karena harga akan berpengaruh terhadap keterjangkauan beras oleh para konsumen, yang menjadi salah satu dari tiga aspek1 ketahanan pangan. 

1. Pemerintah Indonesia memiliki konsep ketahanan pangan yang diatur dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Fokusnya ada pada tiga aspek utama, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan.

Publikasi NEXT Indonesia Center ini akan membedah disparitas harga beras di berbagai tingkatan rantai pasok: perbedaannya di berbagai daerah produsen beras serta perkembangan impor beras. Selain itu, NEXT Indonesia juga akan melihat bagaimana naik turunnya harga beras turut memengaruhi tingkat kesejahteraan petani hingga saat ini.

Sampel harga beras eceran yang digunakan dalam publikasi NEXT Review ini dibatasi pada beras premium. Pilihan ini diambil agar lebih memungkinkan untuk dibandingkan dengan harga beras internasional. 

Beras premium merupakan beras yang memiliki kualitas terbaik menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk beras, ditandai dengan beberapa ciri. Misalnya, derajat sosoh yang tinggi (minimal 95%), kadar air yang sesuai, jumlah butir utuh yang banyak, dan kandungan butir lainnya yang minimal.

Ketimpangan Harga di Petani dan Pasar

Selisih harga beras di tingkat petani dengan di pasar bisa berlipat. Mengapa bisa terjadi?

Perjalanan beras dimulai dari gabah kering panen (GKP)2 yang dituai para petani dari sawah mereka untuk kemudian diproses menjadi gabah kering giling (GKG)3. Produsen kemudian membeli GKP atau GKG tersebut untuk diproses menjadi beras dalam beragam kualitas yang bisa dinikmati konsumen.

2. Gabah yang baru saja dipanen dari sawah dan belum melalui proses pengeringan, dengan kadar air maksimum 25% dan kadar hampa/kotoran maksimum 10%.
3. Gabah curah yang telah mengalami proses pengeringan dan siap digiling, dengan kadar air maksimum 14% dan kadar hampa/kotoran 3%.

Dari produsen, beras tidak langsung dijual ke konsumen. Ada pedagang grosir yang menjadi penampung dan kemudian menyalurkannya ke pasar, baik yang tradisional maupun modern. Di pasar-pasar itulah masyarakat awam baru bisa membeli beras sesuai kebutuhan.

Grafik di bawah ini menunjukkan perkembangan disparitas harga gabah hingga beras premium dalam setiap rantai pasoknya. Begitu tampak, jurang yang lebar antara harga gabah yang dijual petani dengan harga di pasar tradisional yang mesti dibayar oleh konsumen.

Pada Mei 2025 misalnya, harga GKP dari petani rata-rata Rp6.620 per kilogram. Sementara para pedagang pasar tradisional menjual beras premium ke konsumen akhir rata-rata Rp16.690/kg. Jadi, biaya yang harus dibayar konsumen lebih tinggi hingga 2,5 kali lipat dari harga di tingkat petani.

Lonjakan harga terjadi karena margin keuntungan berjenjang. Artinya, setiap pelaku dalam rantai pasok (petani, penggilingan, grosir, hingga pedagang eceran) mengambil margin keuntungan untuk menutupi biaya operasional dan mendapatkan laba.

Harga Patokan Kehilangan Taji

Agar harga beras tetap terjangkau, pemerintah telah lama mengatur harga jual ecerannya. Namun, istilah Harga Eceran Tertinggi (HET) baru digunakan sejak terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras. HET merupakan harga patokan di tingkat konsumen.

Kemudian sejak tahun 2023, HET ditetapkan melalui Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 7 Tahun 2023. Pada tahun 2024 HET beras berubah seiring terbitnya Peraturan Bapanas Nomor 5 Tahun 2024 tentang Perubahan Peraturan Bapanas No 7/2023 tentang HET Beras. Regulasi itu mengatur HET beras medium dan premium berdasarkan wilayah atau zonasi.

Tahun ini, melalui Surat Keputusan Kepala Bapanas No 2/2025, pemerintah menetapkan HET beras medium dan premium sama dengan tahun 2024. Surat keputusan yang berlaku sejak 15 Januari itu menetapkan HET beras sebagai berikut:

• Zona 1 (Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi), HET beras medium Rp12.500/kg dan beras premium Rp14.900/kg.

• Zona 2 (Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan), HET beras medium Rp13.100/kg dan beras premium Rp15.400/kg.

• Zona 3 (Maluku dan Papua), HET beras medium sebesar Rp13.500/kg dan beras premium Rp15.800/kg.

Dalam praktiknya, sejak Januari 2024 data Bapanas menunjukkan rata-rata harga beras medium dan premium eceran selalu lebih tinggi dari HET. Angkanya selalu bergerak di atas Rp16.000/kg. Naiknya biaya produksi dan harga gabah di tingkat petani disebut sebagai penyebabnya.

”Harga eceran tertinggi itu sulit turun, meskipun produksi panen raya sudah melimpah. Karena memang biaya agroinput4, biaya petani, sewa lahan, pokok, tenaga kerja, semuanya naik,” kata Joko Widodo, Presiden ke-7, saat itu.

4. Agroinput adalah subsistem agribisnis yang fokus pada penyediaan dan distribusi sarana produksi pertanian, seperti benih, pupuk, pestisida, alat pertanian, dan tenaga kerja.

Pemerintah, pada Maret 2024, lantas memberlakukan relaksasi HET, mengizinkan para pedagang menjual beras di atas harga maksimum yang telah ditetapkan. Tak hanya sekali, relaksasi HET tahun itu dilakukan juga pada April dan Mei, hingga akhirnya keluar Peraturan Bapanas No 5/2024 yang menetapkan HET beras premium dan medium.

Tahun ini pun sama, hingga akhir Mei 2025 rata-rata harga beras medium dan premium eceran selalu di atas HET.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PHIPS) nasional kelolaan Bank Indonesia dan data Bapanas yang diolah NEXT Indonesia menunjukkan sepanjang bulan Mei 2025 harga beras premium eceran yang lebih rendah dari HET hanya ada di empat provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Barat, dan Aceh. Harga di 34 provinsi lainnya lebih mahal dari HET.

Kenyataan tersebut menjadi sebuah anomali karena stok cadangan beras pemerintah tengah berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah.

Mentan Amran, dikutip detik.com, mencurigai ada mafia yang tengah mempermainkan harga beras. Dia memperkirakan ada pihak yang sengaja menahan beras dengan tujuan menekan pemerintah untuk membuka keran impor.

”Ini dimainkan. Kalau stok kita tidak banyak apa yang terjadi? Pasti minta impor kan, benar nggak? Apa mau minta impor dengan kondisi kita punya stok 4 juta ton?” kata Amran.

Satgas Pangan Polri menyatakan tengah melakukan pendalaman untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terkait ”hilangnya” beras di beberapa pasar, sehingga harga naik.

Mungkinkah Ada Mafia Beras? 

Bila melihat perbandingan harga beras eceran di Indonesia dengan harga beras impor dari Thailand dan Vietnam, kecurigaan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman soal kemungkinan ada mafia beras yang bermain memang beralasan.

Pemerintah, yang memasang target swasembada beras paling lambat pada 2026, berambisi menutup rapat keran impor beras pada 2025, kecuali beras khusus5. Padahal, tahun lalu impor beras mencapai 4,5 juta ton, mayoritas datang dari Thailand dan Vietnam.

5. Impor beras khusus adalah impor beras yang memiliki karakteristik atau sifat tertentu, tidak termasuk beras umum yang dikonsumsi sehari-hari. Contohnya, beras ketan, beras kukus, beras Hom Mali, beras japonica, atau beras basmati.

Harga beras dari Thailand dan Vietnam jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan harga eceran di Indonesia. Bahkan harga beras kedua negara tersebut terus turun dalam beberapa bulan terakhir.

Ambil contoh pada April 2025. Harga beras premium domestik bulan itu rata-rata mencapai 16.668/kg, sementara harga beras Thailand hanya Rp6.980/kg dan Vietnam Rp6.354/kg. Jadi, ada selisih harga Rp9.688/kg dengan beras Thailand dan Rp10.314 dengan beras Vietnam. Perkembangan Harga Beras Domestik dan Internasional

Dengan demikian ada ruang yang cukup lebar untuk bisa mengambil keuntungan yang menggiurkan. Walau, tentu saja pengimpor harus mengeluarkan uang juga untuk pajak, transportasi, penyimpanan, dan asuransi.

Related Articles

blog image

Restitusi Pajak Menggerogoti Penerimaan Negara

Lonjakan restitusi pajak hingga Rp361,2 triliun pada 2025 dinilai mulai menggerus penerimaan neto dan ketahanan fiskal negara.

Selengkapnya
blog image

Dilema Restitusi Pajak

Lonjakan restitusi pajak usai batu bara jadi BKP dinilai menggerus penerimaan negara hingga memicu potensi kehilangan Rp25 triliun per tahun.

Selengkapnya
blog image

Pemerintah Siapkan Badan Khusus Ekspor untuk Berantas Praktik Under Invoicing

Presiden Prabowo siapkan Badan Khusus Ekspor untuk tekan under invoicing yang diduga merugikan negara hingga US$40 miliar per tahun.

Selengkapnya