Research  By Editorial Desk

Beban Ekspor untuk Tumbuh Tinggi

29 Mei, 2026

Ekspor bersih RI terus melemah. Ketergantungan impor dan ekspor komoditas membuat kontribusi perdagangan ke PDB makin kecil.

Ilustrasi tangan mengankat peti kemas - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilustrasi tangan mengankat peti kemas.

DOWNLOADS


Cover Next Review Beban Ekspor untuk Tumbuh Tinggi.jpeg

NEXT Review - Beban Ekspor untuk Tumbuh Tinggi

Download

Ringkasan
• Ekspor Bersih Indonesia Makin Lemah

Kontribusi ekspor bersih terhadap PDB Indonesia terus menurun dalam lima tahun terakhir. Data BPS menunjukkan kontribusinya turun dari 2,47% pada Maret 2022 menjadi hanya 0,93% pada Maret 2026. Kondisi ini terjadi karena pertumbuhan impor lebih tinggi dibanding ekspor. Pada triwulan I-2026, ekspor riil hanya tumbuh 0,90%, sedangkan impor naik 7,18%, sehingga ekspor bersih terkontraksi sekitar 24,3%. Situasi ini menunjukkan ekspor Indonesia belum mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang stabil.
• Indonesia Tertinggal dari Malaysia dan Vietnam
Dibanding Malaysia dan Vietnam, kontribusi ekspor Indonesia terhadap PDB jauh lebih rendah. Indonesia masih bertumpu pada pasar domestik dan ekspor komoditas, sementara Malaysia dan Vietnam sudah kuat di sektor manufaktur dan rantai pasok global. Pada 2024, kontribusi ekspor terhadap PDB Vietnam mencapai sekitar 90,15%, Malaysia sekitar 66-71%, sedangkan Indonesia hanya di kisaran 17-22%. Akibatnya, kontribusi ekspor bersih Indonesia juga selalu lebih kecil dibanding dua negara tersebut dalam satu dekade terakhir.
• Struktur Ekspor dan Impor Jadi Tantangan Utama
Kinerja perdagangan Indonesia tertekan karena impor barang modal dan bahan baku meningkat tajam, sementara beberapa komoditas ekspor utama justru melemah. Impor pesawat terbang melonjak 546,5% pada triwulan I-2026, disusul kenaikan impor bahan baku industri lainnya. Di sisi ekspor, produk perikanan turun 14,8% akibat gangguan akses pasar AS, sementara ekspor karet dan produk kayu juga melemah. Kondisi ini menunjukkan Indonesia perlu memperkuat hilirisasi, memperdalam industri domestik, dan meningkatkan kualitas ekspor agar tidak terus bergantung pada komoditas mentah dan impor produksi.

 

 

NEXT Indonesia Center - Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini lebih sering dibaca dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Padahal, ada satu komponen lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu net export atau ekspor bersih. 

Dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB), ekspor bersih merupakan selisih antara ekspor dan impor. Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar Indonesia mampu menjual barang dan jasa ke luar negeri, tetapi juga oleh seberapa besar ketergantungan ekonomi domestik terhadap barang dan jasa impor.

Secara sederhana, ekspor berperan sebagai sumber permintaan dari luar negeri terhadap produksi domestik. Ketika ekspor meningkat, aktivitas produksi di dalam negeri ikut terdorong. Namun, dampak ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi bisa berkurang apabila peningkatan ekspor tersebut diikuti oleh kenaikan impor yang lebih besar. Karena itu, ekspor bersih menjadi indikator penting untuk melihat seberapa besar perdagangan luar negeri benar-benar memberikan kontribusi bersih terhadap ekonomi nasional.

Ekspor yang besar belum otomatis menghasilkan dorongan kuat terhadap PDB apabila struktur produksinya masih sangat bergantung pada impor. Sebaliknya, impor juga tidak selalu buruk, terutama jika digunakan untuk bahan baku dan barang modal yang dapat memperkuat kapasitas produksi nasional. Persoalan muncul ketika kenaikan impor tidak diimbangi oleh ekspor bernilai tambah tinggi, sehingga kontribusi bersih ekspor terhadap pertumbuhan jadi terbatas.

Kontribusi Ekspor Bersih terhadap PDB 
Tahun 2024

Jika melihat data yang dikeluarkan oleh Bank Dunia (World Bank), kinerja ekspor bersih Indonesia yang berkontribusi sekitar 1,79% terhadap PDB, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga. Sebagai contoh, ekspor bersih Malaysia berkontribusi 5,32% terhadap PDB, dan Vietnam mencapai 6,45%.

Boleh jadi data Bank Dunia ini masih bersifat sementara, namun untuk trennya tidak akan mengalami perubahan. Karena itu, data ini hanya digunakan untuk perbandingan dengan negara lain. Sementara untuk data individual Indonesia, data resmi yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Data BPS juga menunjukkan bahwa kontribusi ekspor dan impor terhadap PDB bergerak dinamis dalam beberapa tahun terakhir. Ekspor sempat menjadi penopang penting, terutama ketika harga komoditas global berada pada level tinggi. Namun, dalam periode berikutnya tampak melambat. Akibatnya, ruang ekspor bersih sebagai mesin pertumbuhan menjadi lebih sempit, bahkan dalam sejumlah periode menunjukkan kecenderungan kontraksi.

Kondisi ini penting dibaca lebih jauh karena Indonesia tidak berdiri sendiri. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam menunjukkan bahwa sektor eksternal dapat menjadi motor pertumbuhan apabila struktur ekspor lebih kompetitif, terdiversifikasi, dan terhubung kuat dengan rantai pasok global.

Review NEXT Indonesia Center ini membahas kontribusi ekspor, impor, dan ekspor bersih terhadap PDB Indonesia; menjelaskan kecenderungan kontraksi ekspor bersih Indonesia dan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Pertumbuhan Minim Ekspor Bersih

Kontribusi ekspor bersih (net export) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang menjadi dasar perhitungan kinerja perekonomian nasional, masih jauh dari maksimal. Perannya cenderung makin layu, bahkan terendah dalam lima tahun terakhir.

Persoalan ekspor bersih menjadi penting karena kinerja ekspor yang besar tidak otomatis mengangkat pertumbuhan ekonomi. Jika ekspor meningkat, tetapi pada saat yang sama kebutuhan impor juga ikut naik, maka kontribusi bersihnya terhadap PDB akan terbatas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada dua hal, yaitu momentum harga komoditas dan dinamika impor domestik. Ketika harga komoditas tinggi atau impor melemah, ekspor bersih dapat menjadi penopang pertumbuhan. Namun, ketika harga komoditas turun dan kebutuhan impor kembali meningkat, kontribusinya cepat menyempit. Oleh karenanya, ekspor bersih Indonesia belum menjadi mesin pertumbuhan yang stabil.

Bahkan dalam lima tahun terakhir (Maret 2022-Maret 2026), data BPS memperlihatkan kontribusi ekspor bersih terhadap PDB ada di posisi yang terendah secara kuartalan. Jika pada Maret 2022 masih berkontribusi 2,47% terhadap perekonomian nasional atau PDB, saat Maret 2026 tersisa 0,93%.

Secara nominal, kinerja ekspor bersih juga belum menggembirakan. Pada Maret 2026, nilainya sekitar Rp117 triliun. Itu pun menjadi kinerja yang terendah dalam empat tahun terakhir atau sejak Maret 2023.

Pada titik waktu itu, ekspor riil hanya tumbuh sekitar 0,90%, sementara impor tumbuh lebih tinggi, sekitar 7,18%. Akibatnya, pertumbuhan ekspor bersih secara riil kembali terkontraksi alias tumbuh minus sekitar 24,3%.

Kinerja ekspor seperti ini tentu jadi beban bagi perekonomian nasional yang diharapkan melesat, menuju di atas 6%. Namun dengan ekspor yang masih berjalan lambat, justru berpotensi menjadi beban pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, upaya memperkuat ekspor bersih tidak cukup dilakukan dengan mengejar surplus perdagangan. Para pemangku kepentingan perlu memperbesar nilai tambah ekspor, memperluas basis ekspor, memperdalam rantai pasok industri di dalam negeri, dan memastikan impor lebih banyak diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi nasional.

Membandingkan Indonesia dengan Malaysia dan Vietnam

Bagaimana posisi Indonesia bila dibandingkan dengan Malaysia dan Vietnam? Perbandingan ini penting karena tiga negara Asia Tenggara tersebut memiliki model ekonomi eksternal yang berbeda. Indonesia bertumpu pada pasar domestik dan komoditas, Malaysia lebih lama membangun basis ekspor manufaktur, sementara Vietnam agresif masuk ke rantai pasok global melalui ekspor berbasis investasi asing.

Oleh karena itu, perbandingan ini membantu melihat apakah sektor eksternal Indonesia sudah cukup kuat menjadi sumber pertumbuhan, atau masih tertinggal dari sisi orientasi ekspor dan kontribusi bersih perdagangan terhadap PDB dari dua negara tetangga itu.

Data periode 2015-2024 menunjukkan, posisi Indonesia cukup kontras dibandingkan dua negara tersebut. Dari sisi kontribusi ekspor terhadap PDB, Indonesia berada jauh di bawah Malaysia dan Vietnam. Sepanjang 10 tahun itu, kontribusi ekspor Indonesia umumnya hanya bergerak di kisaran 17-22% terhadap PDB. Sementara Malaysia berada jauh lebih tinggi (66-71%) dan Vietnam meningkat dari 72,92% pada 2015 menjadi sekitar 90,15% pada 2024.

Jadi, bisa dikatakan bahwa ekonomi Indonesia lebih berorientasi domestik, sementara Malaysia dan Vietnam jauh lebih terhubung dengan perdagangan internasional.

Tentu ekspor bukan sekadar angka perdagangan, tetapi juga mencerminkan posisi suatu negara dalam rantai produksi global (global value chain, GVC). Malaysia sejak lama memiliki basis ekspor manufaktur, terutama electrical & electronics (E&E). Bank Dunia mencatat bahwa sektor E&E memainkan peran penting dalam ekonomi Malaysia sejak 1970-an dan masih menjadi bagian besar dari ekspor negara tersebut1.

1. M.P. Eltgen, Y. Liu, Y.K. Chong, “ Malaysia—Attracting superstar firms in the electrical and electronics industry through investment promotion”, dalam buku An Investment Perspective on Global Value Chain, ed. C.Z. QIang, Y. Liu, V. Steenbergen, World Bank, 2021, bab 8.

Vietnam menunjukkan pertumbuhan ekspor yang lebih agresif. Kontribusi ekspor terhadap PDB Vietnam terus meningkat dari 54,2% pada 2010 menjadi lebih dari 72,92% pada 2015, bahkan mencapai 90,15% pada 2024. Lonjakan ini mencerminkan keberhasilan Vietnam masuk ke rantai pasok global, terutama melalui manufaktur berbasis investasi asing langsung (foreign direct investment, FDI) seperti elektronik, tekstil, alas kaki, dan produk teknologi.

Menurut OECD Economic Surveys: Viet Nam 2025, sektor manufaktur Vietnam didorong oleh arus FDI yang mencapai rata-rata 4,8% PDB pada 2015-2023, lebih tinggi dibandingkan banyak peers ASEAN, bahkan India dan Tiongkok. Ini menjelaskan mengapa rasio ekspor Vietnam terhadap PDB bisa jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Vietnam berhasil menjadi basis produksi ekspor dalam jaringan manufaktur global.

Namun dari sisi ekspor bersih gambarnya lebih bernuansa. Kontribusi ekspor bersih Malaysia tampak paling konsisten. Pada 2015, data Bank Dunia menunjukkan kontribusi ekspor bersih Malaysia mencapai 7,53% terhadap PDB, lalu melandai hingga 5,32% pada 2024.

Ini menunjukkan bahwa meskipun kontribusi ekspornya menurun dari level sangat tinggi pada awal periode, Malaysia tetap mampu mempertahankan surplus eksternal yang relatif kuat. Dengan kata lain, ekspor Malaysia masih cukup tangguh hingga melampaui impornya.

Dalam 10 tahun terakhir, Vietnam terus mengejar Malaysia. Mulai 2023, kontribusi ekspor bersih terhadap PDB Vietnam sudah melampaui Malaysia.

Sedangkan Indonesia memiliki kontribusi ekspor terhadap PDB yang jauh lebih rendah, tetapi ekspor bersihnya juga kecil dan berfluktuasi. Dalam rentang data 10 tahun terakhir, kontribusi ekspor bersih terhadap PDB Indonesia selalu ada di bawah Malaysia dan Vietnam.

Perbandingan ini memberi pelajaran penting. Malaysia menunjukkan pentingnya basis ekspor manufaktur yang mapan, meskipun tantangannya adalah memperbesar nilai tambah domestik. Vietnam menunjukkan bagaimana integrasi agresif ke rantai pasok global dapat mendorong ekspor sangat tinggi, meskipun risikonya adalah ketergantungan pada input impor dan investasi langsung.

Data juga menunjukkan model pertumbuhan eksternal yang berbeda. Indonesia masih bertumpu besar pada pasar domestik dan komoditas, sementara Malaysia dan Vietnam lebih kuat dalam ekspor manufaktur dan integrasi rantai pasok global. 

Jika Indonesia ingin ekspor bersih menjadi mesin pertumbuhan yang lebih stabil, agenda utamanya bukan sekadar menaikkan ekspor, tetapi juga memperdalam struktur industri domestik. Dengan begitu, ekspor tidak mudah bergantung pada boom komoditas dan impor tidak terus menggerus kontribusi bersih terhadap PDB.

Impor Pesawat Terbang Melesat

Mari telusuri Komoditas yang paling berperang dalam meningkatkan nilai impor Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, kenaikan impor Indonesia pada triwulan I-2026 terutama didorong oleh barang bernilai tinggi, bahan baku, dan barang modal.

Dari 10 komoditas dengan kenaikan paling signifikan, mengacu data TradeMap, lonjakan terbesar terjadi pada pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, dan bagiannya, yang tumbuh 546,5% secara tahunan (year-on-year, yoy), dari US$132,99 juta pada triwulan I-2025 menjadi US$859,86 juta pada triwulan I-2026. Mengingat kelompok barang ini bernilai besar, tambahan pengadaan dalam jumlah terbatas pun dapat langsung mendorong kenaikan nilai impor secara signifikan.

Pada posisi kedua ada garam, belerang, tanah dan batu, serta bahan plester, yang naik 71,95% yoy. Kenaikan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk berbagai sektor, seperti industri kimia, pangan, konstruksi, dan manufaktur. Jadi, sebagian kenaikan impor tidak langsung mencerminkan konsumsi akhir, melainkan kebutuhan input produksi.

Ketiga ada bijih logam, terak, dan abu, yang tumbuh 60,64% yoy. Peningkatan ini dapat mengindikasikan naiknya kebutuhan bahan baku mineral untuk industri pengolahan logam. Namun, dari sisi struktur ekonomi, kenaikan impor bijih juga menunjukkan bahwa sebagian kebutuhan bahan baku industri belum sepenuhnya dapat dipenuhi pasokan domestik.

Secara keseluruhan, pola kenaikan impor triwulan I-2026 menunjukkan dua sisi. Di satu sisi, impor yang meningkat dapat menjadi sinyal bergeraknya aktivitas ekonomi, terutama jika berupa barang modal dan input produksi. Namun, di sisi lain, kenaikan impor tetap dapat menekan ekspor bersih apabila tidak diimbangi oleh peningkatan ekspor yang lebih kuat. Karena itu, tantangannya bukan sekadar menahan impor, melainkan memastikan impor yang naik benar-benar memperkuat kapasitas produksi dan mendorong ekspor bernilai tambah.

Kinerja Ekspor Tertekan Udang dan Karet

Penurunan ekspor pada triwulan I-2026 menunjukkan bahwa tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia tidak hanya berasal dari komoditas primer, tetapi juga menyentuh sektor manufaktur dan produk bernilai tambah. Dari 10 komoditas dalam data, penurunan paling tajam terjadi pada kelompok ikan dan krustasea, moluska serta invertebrata air, yang turun dari US$1,01 miliar pada triwulan I-2025 menjadi US$864,67 juta pada triwulan I-2026, atau melemah 14,8% yoy.

Penurunan ekspor ikan dan krustasea, moluska serta invertebrata air perlu mendapat perhatian khusus karena sebagian tekanannya dapat berkaitan dengan gangguan akses ke pasar utama, terutama Amerika Serikat (AS). Gangguan terjadi setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menemukan 18 peti kemas udang asal Indonesia mengandung cesium-137 (Cs-137)2, sehingga kontainer tersebut dikembalikan dan ekspor udang dari Indonesia ke AS disetop sementara.

2. Cs-137 adalah isotop radioaktif yang umum digunakan dalam kalibrasi alat pengukur industri dan terapi medis. Namun, dengan waktu paruh sekitar 30 tahun, zat ini sangat berbahaya karena memancarkan radiasi gamma yang dapat menembus tubuh, mencemari lingkungan, serta memicu kerusakan sel, sindrom radiasi akut, dan kanker.

Dampaknya berpotensi besar mengingat pasar udang Indonesia sangat bergantung pada AS. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor udang Indonesia pada 2024 mencapai sekitar US$2 miliar, dengan porsi tujuan AS mencapai 63%-64% atau sekitar US$1,4 miliar. Kasus ini menunjukkan bahwa perbaikan ekspor perikanan tidak cukup hanya mengejar volume produksi, tetapi juga harus memperkuat standar keamanan pangan agar akses ke pasar utama tidak mudah terganggu.

Komoditas ekspor dengan penurunan terbesar berikutnya adalah karet dan barang dari karet, yang turun 13,6% yoy. Ini mengindikasikan tekanan pada salah satu komoditas ekspor tradisional Indonesia. Perbaikannya tidak cukup hanya bergantung pada pemulihan harga karet global, tetapi juga perlu diarahkan pada peningkatan hilirisasi, seperti produk karet industri, ban, komponen otomotif, dan barang teknis berbasis karet agar nilai tambah ekspor lebih besar.

Penurunan ketiga terjadi pada kayu dan barang dari kayu serta arang kayu, yang turun 13,25% yoy. Pelemahan ini penting dicermati karena sektor kayu memiliki peluang nilai tambah yang besar jika diarahkan ke produk olahan. Jadi, peningkatan ekspor tidak cukup dilakukan dengan menjual bahan atau produk setengah jadi, tetapi perlu memperkuat desain, standar, legalitas kayu, dan akses ke pasar premium.

Di luar tiga komoditas utama tersebut, ada satu komoditas yang menarik untuk diperhatikan. Walau pertumbuhannya tidak negatif, ekspor besi dan baja hanya naik tipis 0,56% yoy. Pertumbuhannya yang sangat kecil menunjukkan bahwa sektor yang selama ini menjadi salah satu andalan hilirisasi juga mulai menghadapi perlambatan.

Dengan demikian, agenda perbaikan ekspor perlu diarahkan pada dua jalur sekaligus: memperkuat komoditas yang turun signifikan melalui hilirisasi dan standardisasi, serta menjaga sektor unggulan seperti besi baja agar tidak kehilangan momentum.

Perbaiki Kualitas Ekspor Indonesia

Pada akhirnya, pelemahan ekspor bersih Indonesia bukan sekadar persoalan naik-turunnya ekspor dan impor dalam jangka pendek. Lebih jauh, kondisi ini menunjukkan bahwa struktur perdagangan luar negeri Indonesia belum cukup kuat untuk menjadi mesin pertumbuhan yang stabil. Ketika harga komoditas global tinggi, ekspor bersih dapat menjadi penopang PDB. Namun, ketika harga melemah dan impor kembali meningkat, kontribusinya cepat menyempit.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan utama Indonesia bukan hanya memperbesar ekspor, tetapi memperbaiki kualitas ekspor. Ekspor yang masih bertumpu pada komoditas primer membuat kinerja perdagangan rentan terhadap siklus harga global. Di saat yang sama, kebutuhan impor bahan baku, barang modal, dan produk bernilai tinggi masih besar karena struktur industri domestik belum sepenuhnya mampu memasok kebutuhan produksi nasional

Perbandingan dengan Malaysia dan Vietnam memberi pelajaran penting. Daya saing ekspor hanya dapat diperkuat jika industri domestik semakin dalam, terdiversifikasi, dan mampu menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Karena itu, agenda memperkuat ekspor bersih harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memperluas basis ekspor, memperkuat hilirisasi, menjaga standar produk, memperdalam rantai pasok domestik, serta memastikan impor benar-benar menjadi input produktif, bukan sekadar menambah tekanan terhadap neraca perdagangan.

Related Articles

blog image

Restitusi Pajak Menggerogoti Penerimaan Negara

Lonjakan restitusi pajak hingga Rp361,2 triliun pada 2025 dinilai mulai menggerus penerimaan neto dan ketahanan fiskal negara.

Selengkapnya
blog image

Dilema Restitusi Pajak

Lonjakan restitusi pajak usai batu bara jadi BKP dinilai menggerus penerimaan negara hingga memicu potensi kehilangan Rp25 triliun per tahun.

Selengkapnya
blog image

Pemerintah Siapkan Badan Khusus Ekspor untuk Berantas Praktik Under Invoicing

Presiden Prabowo siapkan Badan Khusus Ekspor untuk tekan under invoicing yang diduga merugikan negara hingga US$40 miliar per tahun.

Selengkapnya