Ekonomi Beri Sinyal Positif
08 April, 2026
Belanja negara naik 31,4% pada triwulan I-2026. Penerimaan tumbuh 10,5%. Pemerintah percepat belanja untuk jaga daya beli dan dorong ekonomi.
Keterangan foto: Ilustrasi ekonomi tumbuh positif.
Ringkasan
• Penerimaan Negara Tumbuh Kuat
Realisasi penerimaan negara pada triwulan I-2026 mencapai Rp574,9 triliun atau naik 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang tumbuh 20,7 persen hingga mencapai Rp394,8 triliun. Kinerja penerimaan yang kuat tersebut dinilai memberikan ruang fiskal yang lebih sehat bagi pemerintah untuk meningkatkan belanja negara sekaligus menjaga stabilitas anggaran.
• Belanja Negara Ekspansif Dorong Aktivitas Ekonomi
Penyerapan belanja negara pada Januari–Maret 2026 mencapai Rp815 triliun atau naik 31,4 persen secara tahunan. Realisasi ini setara dengan 21,2 persen dari total target belanja APBN, lebih tinggi dibanding rata-rata triwulan pertama pada tahun-tahun sebelumnya yang sekitar 17 persen. Peningkatan belanja didorong berbagai program strategis pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis serta stimulus ekonomi Rp15 triliun menjelang Lebaran yang bertujuan menjaga daya beli dan mendorong konsumsi masyarakat.
• Defisit APBN Tetap Terkendali
Defisit anggaran pada triwulan I-2026 tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto. Meski meningkat dibanding beberapa tahun sebelumnya, angka ini dinilai masih berada dalam batas aman. Pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan target defisit di bawah 3 persen PDB, sehingga ekspansi belanja negara dapat berlangsung tanpa mengganggu stabilitas keuangan negara.
MOST POPULAR
NEXT Indonesia Center - Belanja negara yang ekspansif pada triwulan I-2026 menunjukkan bahwa pemerintah terus mendorong pergerakan ekonomi nasional, dengan tetap menjaga disiplin fiskal sesuai dengan koridor yang ditetapkan peraturan perundang-undangan.
“Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan,” ungkap Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Sepertidisampaikan Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan negara triwulan I-2026 mencapai Rp574,9 triliun, naik 10,5 persen secara tahunan (year on year). Penopang utamanya adalah penerimaan pajak yang tumbuh 20,7 persen, menjadi Rp394,8 triliun.
"Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat," kata Christiantoko.
Sementara pada sisi belanja negara, penyerapan anggaran mencapai Rp815,0 triliun atau meningkat 31,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, menurut Christiantoko, defisit APBN sebesar 0,93 persen pada triwulan I-2026 ini masih dalam batas wajar. "Jika dicermati secara utuh, angka tersebut justru mencerminkan strategi fiskal yang terukur," ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini mengakselerasi belanja negara sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Defisit berada dalam kendali pemerintah, bukan sesuatu yang terjadi di luar kontrol.
Realisasi belanja negara pada periode Januari-Maret telah mencapai 21,2 persen dari target. Sementara rata-rata realisasi belanja negara pada triwulan I di tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 17 persen. Dari sisi nominal pun penyerapan anggaran naik sampai 31,4 persen.
"Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik," papar Christiantoko.
Belanja negara untuk program-program strategis meningkat, misalnya Makan Bergizi Gratis (MBG), yang berdampak pada aktivitas ekonomi. Peningkatan realisasi belanja negara juga dipengaruhi faktor musiman, yaitu momen Lebaran.
Pada Lebaran tahun ini, pemerintah mengeluarkan paket stimulus Rp15 triliun untuk mendorong konsumsi masyarakat di bulan suci. Mulai dari bantuan pangan, diskon transportasi, hingga Tunjangan Hari Raya (THR) untuk ASN, TNI, dan Polri.
"Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi," ucap Christiantoko.
Tak kalah penting, ia menekankan, pemerintah tetap menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga disiplin fiskal. Target defisit anggaran yang dijaga di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi jangkar utama agar ekspansi fiskal tetap berada dalam koridor yang aman.
"Dengan demikian, defisit sebesar 0,93 persen pada triwulan I-2026 harus dilihat bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan," tutupnya.