Aksi Lepas Saham dan Rupiah
28 Maret, 2025
Salah satu penyebab melemahnya IHSG dan nilai tukar rupiah adalah kaburnya modal asing dari pasar Indonesia.
Keterangan foto: Ilustrasi balon lepas ke langit
NEXT Indonesia - Salah satu penyebab melemahnya IHSG dan nilai tukar rupiah adalah kaburnya modal asing dari pasar Indonesia. Sejak Januari hingga 24 Maret, ada sekitar Rp33,3 triliun dana asing yang keluar.
MOST POPULAR
- Dibayangi Ketidakpastian Global, Ekonomi Indonesia Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
- Akibat Praktik Trade Misinvoicing, Kebocoran Ekspor Batu Bara RI Tembus US$20 Miliar
- Sejarah Baru Industri Pengolahan: Tumbuh Lampaui Ekonomi Nasional Setelah 13 Tahun
- Ekonomi Beri Sinyal Positif
- Indonesia Raja Sawit, tapi Singapura yang Panen Untung
Sementara itu, dari 55 hari transaksi sejak awal Januari 2025, tercatat ada 44 hari perdagangan para investor asing atau nonresiden (individu atau institusi) ramai-ramai melepas sahamnya. Mereka melakukan aksi penjualan bersih (net sell) -lebih banyak menjual ketimbang belanja. Sebaliknya, aksi pembelian bersih (nett buy) oleh investor asing hanya berlangsung 11 hari sepanjang periode tersebut.
Dengan demikian, transaksi bersih para investor asing lebih banyak aksi jual ketimbang beli. Kondisi ini memberikan sentimen negatif terhadap pasar, sehingga menekan IHSG.
Aksi jual yang terjadi di bursa saham, diikuti gerakan lepas rupiah untuk ditukar dengan dolar AS. Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun terjerembap. Pada periode 17- 20 Maret 2025, Bank Indonesia (BI) mencatat modal asing yang kabur dari pasar keuangan domestik mencapai Rp4,25 triliun.
Sebenarnya gerakan keluarnya modal asing dari pasar domestik sudah terjadi sejak awal Januari. Bank Indonesia mencatat, nilai terbesar terjadi pada periode 24-27 Februari, ketika Rp10,3 triliun modal asing keluar dari pasar keuangan.
Dari beberapa instrumen di pasar keuangan, dana asing yang keluar paling banyak terjadi di di pasar saham, dengan nilai jual bersih sekitar Rp7,3 triliun. Kemudian di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) Rp1,8 triliun dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp1,2 triliun.
Separuh Dana Asing Beralih Instrumen
Sepanjang 6 Januari hingga 20 Maret 2025, investor asing (nonresiden) telah melakukan penjualan bersih atau net sell di pasar saham dan SRBI senilai Rp39,5 triliun.
Tak semua hasil penjualan dibawa ke luar dari Indonesia. Tekanan yang terjadi pada pasar saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berbanding terbalik dengan perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) atau surat utang yang diterbitkan pemerintah. Pada periode yang sama, transaksi SBN di pasar sekunder menunjukkan aksi net buy atau lebih banyak yang beli (investasi) ketimbang yang menjual. Selisih beli dan jual tersebut mencapai Rp19,9 triliun. Sangat bisa jadi, terjadi perpindahan dana dari SRBI ke SBN.
Dengan begitu, dana yang keluar Indonesia hanya Rp19,6 triliun atau 49,56 persen dari total penjualan bersih investor asing di pasar saham dan SRBI. Tampaknya para investor masih melihat situasi aman sekaligus menguntungkan di instrumen investasi surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah.