Sektor Usaha Favorit Perbankan
26 Juni, 2026
Kredit perbankan mengalir deras ke konstruksi, energi, real estat, dan jasa profesional. Sektor-sektor ini menjadi favorit baru bank pada 2026.
Keterangan foto: Ilustrasi crane mengankat tumpukan uang.
Ringkasan
• Lima sektor favorit perbankan 2026
Berdasarkan pertumbuhan kredit tertinggi per April 2026, sektor favorit bank adalah konstruksi (45,54%), pengadaan listrik dan gas (23,27%), aktivitas profesional dan perusahaan (15,15%), real estat (14,12%), serta kesehatan dan aktivitas sosial (12,92%).
• Kredit investasi menjadi motor utama
Kredit investasi tumbuh paling cepat dibanding kredit modal kerja dan konsumsi. Nilainya mencapai Rp2.772 triliun pada April 2026 dengan pertumbuhan 19,48%, menunjukkan bank semakin agresif membiayai ekspansi usaha dan aset produktif.
• Kualitas kredit masih terjaga
Meski kredit tumbuh pesat, rasio kredit bermasalah (NPL) bank umum tetap rendah di level 2,17%. Sektor energi memiliki NPL terendah (0,22%), sementara konstruksi berhasil mencatat lonjakan kredit sekaligus penurunan NPL menjadi 1,99%.
MOST POPULAR
- Restitusi Pajak Menggerogoti Penerimaan Negara
- Pemerintah Siapkan Badan Khusus Ekspor untuk Berantas Praktik Under Invoicing
- Potret Dunia Kerja RI: Cuma 40 Persen Bekerja Sesuai Pendidikan
- Repatriasi Aset Dibayangi Modus Penghindaran Pajak
- Importir Kedelai Untung Rp12,9 Triliun, Produsen Tahu Tempe Malah Menjerit
NEXT Indonesia Center - Arah penyaluran kredit perbankan Indonesia memberikan petunjuk soal sektor-sektor usaha yang dianggap paling menjanjikan, setidaknya oleh industri keuangan. Bank tak hanya menyalurkan kredit ke sektor usaha dengan kebutuhan biaya tambun, tetapi juga sektor usaha dengan prospek yang dinilai bagus, kualitas risikonya rendah, sehingga mampu menghasilkan arus laba yang deras.
Oleh karena itu, menilik pertumbuhan kredit berdasarkan sektor usaha menjadi penting. Apalagi, sektor usaha dengan pertumbuhan kredit tertinggi sering kali memberi cerita yang berbeda. Di sana terlihat sektor usaha yang sedang “naik daun”, sektor yang mulai dipercaya bank, dan sektor yang mendapat dorongan baru—mungkin karena perubahan kebijakan ataupun kebutuhan ekonomi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kredit bank umum terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Outstanding kredit bank umum per April 2026 mencapai Rp8.755 triliun, dengan nilai kredit ke sektor ekonomi tercatat Rp6.454 triliun. Kenaikan ini menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan, meski kecepatannya berbeda antarjenis penggunaan dan antarsektor usaha.
Pada publikasi kali ini, NEXT Indonesia Center menelusuri sektor-sektor usaha yang menjadi favorit perbankan. Status favorit tersebut dilihat dari pertumbuhan aliran kredit paling tinggi ke sektor tersebut, bukan yang paling besar nominalnya.
Sektor-sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi mencerminkan area yang tengah menjadi incaran perbankan. Penyebabnya bisa beragam. Mungkin karena adanya permintaan pembiayaan yang kuat, prospek bisnis yang membaik, dukungan proyek pemerintah, perubahan struktur industri, atau persepsi risiko yang rendah.
Kredit Tumbuh, Selera Bergeser
Perkembangan kredit atau pembiayaan bank umum kepada pihak ketiga bukan bank dalam satu dekade terakhir memperlihatkan perubahan siklus yang cukup jelas: dari konsumsi bergeser ke sektor usaha.
Pada periode pra-Covid-19, kredit perbankan masih tumbuh relatif kuat. Total kredit bank umum naik dari Rp4.738 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp5.295 triliun pada akhir 2018, lalu Rp5.617 triliun pada akhir 2019.
Guncangan besar muncul pada 2020. Pandemi Covid-19 membuat permintaan kredit melemah, aktivitas usaha tertahan, dan bank menjadi lebih hati-hati menyalurkan pembiayaan. Total kredit bank umum turun menjadi Rp5.482 triliun pada akhir 2020, sementara pertumbuhan kredit tercatat -2,41%.
Momentum pemulihan yang lebih solid mulai berjalan pada 2022 dan 2023. Total kredit bank umum naik menjadi Rp6.424 triliun pada akhir 2022 (tumbuh 11,35%) dan Rp7.090 triliun pada akhir 2023 (tumbuh 10,53%). Dunia usaha kembali butuh pembiayaan, sementara perbankan mulai lebih ekspansif, meski tetap menjaga prinsip kehati-hatian setelah pengalaman restrukturisasi kredit selama pandemi.
Perkembangan pada 2024-2026 menunjukkan fase yang berbeda. Kredit tidak hanya tumbuh, tetapi juga mulai berubah arah. Pada 2024-2026, kredit investasi1 menjadi komponen yang paling menonjol. Jenis kredit ini tumbuh 13,36% pada akhir 2024, melonjak menjadi 22,38% pada akhir 2025, dan masih tinggi di 19,48% pada April 2026.
1. Menurut OJK, pembiayaan investasi adalah pembiayaan barang modal beserta jasa yang diperlukan untuk aktivitas usaha/investasi, rehabilitasi, modernisasi, ekspansi atau relokasi tempat usaha/investasi yang diberikan kepada debitur.
Secara nominal, kredit investasi naik dari Rp2.144 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp2.642 triliun pada Desember 2025, lalu Rp2.772 triliun pada April 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa bank semakin aktif membiayai ekspansi kapasitas, pembangunan aset produktif, dan proyek usaha berjangka menengah-panjang.
Kredit modal kerja2 tumbuh lebih moderat. Nominalnya tetap paling besar, yakni Rp3.506 triliun pada Desember 2024, Rp3.665 triliun pada Desember 2025, dan Rp3.682 triliun pada April 2026. Namun pertumbuhannya melambat, dari 8,40% pada akhir 2024 menjadi 4,52% pada akhir 2025, sebelum membaik menjadi 6,04% pada April 2026.
2. Menurut OJK, pembiayaan modal kerja adalah pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran yang habis dalam satu siklus aktivitas usaha debitur.
Sementara kredit konsumsi3 tumbuh stabil tetapi cenderung lemah. Outstanding kredit konsumsi meningkat dari Rp2.182 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp2.279 triliun pada akhir 2025, lalu Rp2.301 triliun pada April 2026. Namun, pertumbuhannya turun dari 10,30% pada Desember 2024 menjadi 6,58% pada Desember 2025, dan 6,13% pada April 2026.
3. Menurut OJK, pembiayaan multiguna (konsumsi) adalah pembiayaan barang dan/atau jasa yang diperlukan oleh debitur untuk pemakaian/konsumsi dan bukan untuk keperluan usaha atau aktivitas produktif dalam jangka waktu yang diperjanjikan.
Pergerakan aliran kredit tersebut memperlihatkan bahwa pembiayaan rumah tangga masih tumbuh, tetapi tak lagi menjadi motor utama ekspansi kredit perbankan. Di tengah tekanan daya beli dan sikap hati-hati konsumen, bank sepertinya lebih menjaga ritme pembiayaan konsumsi.
Jika dilihat khusus pada kredit bank umum berdasarkan sektor ekonomi, tren ekspansi juga menguat. Kredit sektor ekonomi naik dari Rp5.688 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp6.306 triliun pada Desember 2025, lalu mencapai Rp6.454 triliun pada April 2026.
Tren pertumbuhannya juga bergerak positif, dari 10,30% (2024) menjadi 10,86% (2025), dan 11,43% pada April 2026. Ini menunjukkan bahwa dalam periode terbaru, pertumbuhan kredit makin banyak bergerak ke sektor usaha, bukan semata ke pembiayaan konsumsi.
Nilai Kredit Macet Masih Terjaga
Sepanjang periode 2017-2023, siklus kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bank umum naik-turun. Penelusuran data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kualitas kredit relatif terkendali sebelum pandemi, memburuk saat pandemi, lalu pulih kembali setelah kegiatan ekonomi berjalan normal.
Pada 2017, OJK mencatat NPL gross sebesar 2,59%, kemudian 2,37% pada tahun berikutnya, sebelum naik tipis menjadi 2,53% pada akhir 2019. Pandemi mengubah arah tersebut. NPL gross naik menjadi 3,06% pada akhir 2020 dan masih berada di level 3,00% pada akhir 2021, seiring tekanan terhadap pendapatan rumah tangga, arus kas dunia usaha, serta kemampuan bayar debitur.
Setelah tekanan pandemi mereda, kualitas kredit mulai membaik. NPL gross turun hingga menjadi 2,19% pada akhir 2023. Perbaikan ini menandai aktivitas ekonomi kembali bergerak pasca-pandemi Covid-19.
Memasuki periode 2024-2026, kualitas kredit bank umum tetap terjaga. NPL gross bertahap turun menjadi 2,05% pada akhir 2025, sebelum sedikit meningkat menjadi 2,17% pada April 2026. Kenaikan pada awal 2026 itu memang perlu dicermati, tetapi levelnya masih relatif rendah. Artinya, ekspansi kredit usai pandemi belum memunculkan tekanan pada NPL. Perbankan terlihat masih mampu menjaga kualitas aset di tengah pertumbuhan kredit.
Jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan, arah risikonya mulai berbeda. Kredit investasi menjadi segmen dengan kualitas kredit paling baik.
NPL kredit investasi turun dari 1,48% pada akhir 2024 menjadi 1,33% pada akhir 2025, lalu tetap rendah di 1,34% pada April 2026. Hal ini menarik karena pada saat yang sama kredit investasi tumbuh paling cepat dibandingkan jenis kredit lain. Kombinasi antara pertumbuhan tinggi dan NPL rendah menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan investasi masih berlangsung secara selektif dan relatif sehat.
Sebaliknya, kredit modal kerja tetap menjadi segmen dengan risiko paling besar. NPL modal kerja memang turun menjadi 2,44% pada akhir 2025, tetapi kembali naik ke 2,64% pada April 2026. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pembiayaan operasional usaha masih rentan terhadap perubahan kondisi bisnis.
Sementara itu, lampu kuning menyala pada kredit konsumsi. Kredit bermasalah di segmen tersebut meningkat dari 1,90% pada akhir 2024 menjadi 2,25% pada akhir 2025, lalu naik lagi menjadi 2,40% pada April 2026. Kenaikan ini penting dicermati karena terjadi ketika pertumbuhan kredit konsumsi justru melambat. Artinya, tak sedikit rumah tangga yang kemampuan bayarnya melemah.
Beban cicilan, tekanan daya beli, dan ketidakpastian pendapatan dapat menjadi faktor yang mengganggu kualitas kredit konsumsi.
Dengan demikian, perkembangan NPL sejak 2017 menunjukkan bahwa kualitas kredit perbankan Indonesia masih berada dalam jalur yang sehat, meski tidak sepenuhnya bebas risiko. Pada periode 2024-2026, risiko kredit secara agregat tetap terkendali, namun polanya mulai bergeser. Kredit investasi tampil paling kuat karena tumbuh cepat dengan NPL rendah. Kredit modal kerja masih menjadi segmen paling rentan, sedangkan kredit konsumsi mulai menunjukkan tekanan dari sisi rumah tangga.
Pola ini penting untuk membaca sektor-sektor favorit perbankan. Sektor yang mencatat pertumbuhan kredit tinggi belum tentu otomatis menjadi favorit jika diikuti oleh kenaikan NPL. Sebaliknya, sektor atau jenis pembiayaan yang tumbuh cepat dengan risiko gagal bayar rendah menunjukkan kombinasi yang lebih menarik bagi bank.
5 Sektor Favorit Perbankan
Untuk mengetahui sektor usaha yang paling diminati perbankan, NEXT Indonesia Center tidak menggunakan ukuran nominal kredit terbesar, melainkan pertumbuhan kredit tertinggi. Pertimbangannya, sektor usaha dengan outstanding kredit besar belum tentu sedang mengalami akselerasi pembiayaan. Sebaliknya, sektor dengan pertumbuhan kredit tinggi dapat menunjukkan adanya peningkatan permintaan pembiayaan, perbaikan prospek usaha, atau perubahan penilaian risiko oleh perbankan.
Dengan kata lain, pertumbuhan kredit menjadi salah satu cara untuk melihat ke mana bank mulai lebih berani mengalirkan pembiayaan. Sektor apa saja yang sedang menjadi incaran?
Sektor Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan, serta Jaminan Sosial Wajib tidak disertakan dalam pembahasan ini. Alasannya, karakter pembiayaan sektor tersebut berbeda dari sektor usaha komersial pada umumnya. Kredit ke sektor administrasi pemerintahan lebih dekat dengan aktivitas kelembagaan, layanan publik, dan kewajiban negara, sehingga kurang tepat digunakan untuk membaca “sektor favorit” perbankan dalam konteks ekspansi sektor usaha produktif.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026 menunjukkan bahwa lima sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi di luar administrasi pemerintahan adalah konstruksi; pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin; aktivitas profesional dan perusahaan; real estat; serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial. Kelima sektor ini tumbuh lebih cepat dibandingkan total kredit bank umum yang pada April 2026 meningkat 9,98% secara tahunan (year-on-year, yoy). Artinya, sektor-sektor tersebut memperoleh aliran kredit yang lebih deras dibandingkan rata-rata industri perbankan.
Sektor usaha dengan pertumbuhan kredit tertinggi adalah konstruksi4. Kreditnya melonjak 45,54% yoy pada April 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,99% yoy pada April 2025. Secara nominal, posisi kredit konstruksi naik dari Rp392 triliun pada April 2025 menjadi Rp571 triliun pada April 2026.
4. Mencakup kegiatan konstruksi gedung, konstruksi bangunan sipil, dan konstruksi khusus. Termasuk pembangunan baru, perbaikan, penambahan, renovasi, pendirian bangunan/struktur prafabrikasi, serta pekerjaan konstruksi yang dilakukan atas dasar kontrak mau-pun untuk dijual.
Kenaikan kredit tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan ke sektor konstruksi kembali kuat setelah sebelumnya relatif stagnan. Pemulihan ini dapat berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan proyek, pembangunan infrastruktur, properti, maupun aktivitas konstruksi lain yang membutuhkan modal besar.
Menariknya, lonjakan kredit konstruksi diikuti oleh perbaikan kualitas kredit. NPL gross sektor tersebut turun dari 2,64% pada April 2025 menjadi 1,99% pada April 2026. Ini menjadi sinyal bahwa perbankan tak sekadar menambah eksposur ke konstruksi, tetapi juga memilih proyek dan debitur yang dianggap lebih layak secara risiko.
Sektor berikutnya adalah pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin5. Kredit ke sektor ini tumbuh 23,27% yoy pada April 2026, dengan posisi kredit meningkat dari Rp215 triliun pada April 2025 menjadi Rp265 triliun pada April 2026. Tingginya pertumbuhan kredit ke sektor energi dan utilitas menunjukkan kuatnya kebutuhan pembiayaan pada sektor yang bersifat strategis, padat modal, dan berjangka panjang.
5. Mencakup pengadaan tenaga listrik, gas alam, uap panas, air panas, dan sejenisnya melalui jaringan, saluran, atau pipa infrastruktur permanen. Termasuk kegiatan pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan listrik; pengadaan gas; serta produksi/distribusi uap, air panas, udara dingin, dan es.
Dari sisi risiko, sektor pengadaan listrik dan gas memiliki kualitas kredit yang sangat baik. NPL gross hanya 0,22% pada April 2026, meski sedikit naik dari 0,15% pada April 2025. Level kredit bermasalah yang rendah ini memperlihatkan bahwa pembiayaan ke sektor energi dan utilitas relatif aman. Karakter bisnis yang berbasis kontrak jangka panjang, kebutuhan layanan yang stabil, serta peran strategis dalam perekonomian membuat sektor ini menjadi salah satu tujuan kredit yang menarik bagi bank.
Pada posisi ketiga ada aktivitas profesional dan perusahaan6. Per April 2026 kredit ke sektor ini tumbuh 15,15% yoy, dengan posisi kredit naik menjadi Rp148 triliun dari Rp128 triliun pada April 2025. Meski tumbuh lebih rendah dibandingkan April 2024 yang mencapai 26,33% yoy, sektor ini tetap mencatat ekspansi di atas rata-rata total kredit. Kinerja tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pada aktivitas jasa profesional, konsultasi, teknis, dan berbagai layanan pendukung perusahaan.
6. Mencakup pekerjaan yang membutuhkan keahlian, pelatihan, dan pengetahuan khusus, serta layanan pendukung dan operasional penunjang bisnis.
NPL gross sektor ini tercatat 1,67% pada April 2026, naik dari 1,40% pada April 2025, tetapi masih lebih rendah dari NPL gross total kredit bank umum sebesar 2,17%. Artinya, meski terdapat kenaikan risiko, kualitas kredit sektor ini masih relatif terjaga.
Sektor real estat7 menempati posisi keempat. Pertumbuhan kreditnya mencapai 14,12% yoy pada April 2026, naik dari 8,01% yoy pada April 2025. Secara nominal, posisi kreditnya naik dari Rp238 triliun menjadi Rp272 triliun dalam setahun. Akselerasi ini menunjukkan bahwa pembiayaan ke sektor properti kembali menguat.
7. Mencakup pembelian, penjualan, penyewaan, dan pengoperasian real estat milik sendiri atau sewa, termasuk gedung, hunian, mal, pusat perbelanjaan, tanah, kawasan pariwisata, serta penyediaan hunian untuk penggunaan jangka panjang.
Namun, kenaikan kredit itu perlu diwaspadai karena NPL gross real estat naik dari 1,81% pada April 2025 menjadi 2,18% pada April 2026. Level tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan NPL gross total kredit bank umum. Jadi, real estat menyumbang pertumbuhan kredit yang tinggi, tetapi risikonya perlu dipantau lebih hati-hati.
Terakhir ada sektor aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial8. Kredit ke sektor ini tumbuh 12,92% yoy pada April 2026, dengan nilai Rp54 triliun—naik dari Rp48 triliun pada April 2025. Meski pertumbuhannya melambat dari 25,54% yoy pada April 2025, kredit sektor kesehatan tetap tumbuh lebih tinggi dari total kredit bank umum. Hal ini menunjukkan bahwa sektor kesehatan masih dipandang memiliki prospek yang cerah.
8. Mencakup layanan kesehatan manusia dan kegiatan sosial, mulai dari rumah sakit, praktik dokter, pelayanan kesehatan lainnya, hingga kegiatan sosial dengan atau tanpa akomodasi.
Dari sisi kualitas kredit, sektor kesehatan masih tergolong sehat. NPL gross naik dari 0,89% pada April 2025 menjadi 1,18% pada April 2026, tetapi tetap jauh di bawah NPL total kredit bank umum. Pembiayaan ke sektor kesehatan bisa dibilang relatif aman.
Secara keseluruhan, lima sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi pada April 2026 menunjukkan bahwa pilihan bank mengarah pada sektor-sektor yang memiliki kombinasi antara kebutuhan pembiayaan besar, prospek ekspansi, dan risiko yang masih dapat diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa sektor “favorit perbankan” tidak selalu identik dengan mereka yang menerima kredit terbesar.
Untuk diketahui, data OJK menunjukkan bahwa nilai kredit terbesar per April 2026 didapat oleh sektor industri pengolahan yang mencapai sekitar Rp1.351,3 triliun (tumbuh 9,3% yoy). Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor ada di posisi kedua dengan nilai kredit Rp1.247,3 triliun (tumbuh 3,40% yoy), disusul sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan nilai Rp578,0 triliun (tumbuh 3,07% yoy).
Kredit Tumbuh, Investasi Bergerak
Pertumbuhan kredit yang tinggi pada lima sektor favorit perbankan perlu ditengok berbarengan dengan realisasi investasi dan penyerapan tenaga kerja. Kredit yang tumbuh cepat memang menunjukkan peningkatan minat pembiayaan dari bank, tetapi daya tarik suatu sektor akan lebih kuat apabila diikuti oleh kenaikan investasi dan kemampuan menyerap tenaga kerja.
Berdasarkan data realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), lima sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi menunjukkan pola yang tidak seragam. Ada sektor yang pertumbuhan kreditnya tinggi dan investasinya juga meningkat kuat, tetapi ada pula yang kreditnya tumbuh tinggi namun investasinya relatif datar atau bahkan menurun.
Perbedaan itu penting untuk dicermati karena memperlihatkan bahwa ekspansi kredit tidak selalu berjalan searah dengan realisasi investasi pada periode yang sama. Kredit dapat digunakan untuk membiayai proyek berjalan, refinancing, kebutuhan modal kerja, atau ekspansi yang realisasi investasinya baru tercatat pada periode berikutnya.
Di antara lima sektor tersebut, real estat menjadi sektor yang paling menonjol dari sisi investasi. Realisasi investasinya per Maret 2026 tumbuh 27,91% yoy menjadi Rp48,0 triliun. Kontribusinya terhadap total investasi juga naik menjadi 9,62%. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit real estat yang juga cukup tinggi pada April 2026 (14,12% yoy). Jadi, minat perbankan terhadap real estat memiliki dasar yang kuat di sektor riil karena investasi pada sektor ini memang sedang meningkat.
Sektor aktivitas profesional dan perusahaan, yang dalam data investasi BKPM tercermin pada kategori jasa perusahaan, juga menunjukkan kinerja kuat. Pertumbuhan investasinya menjadi yang terbesar, yakni 36,82% yoy per Maret 2026, dengan nilai Rp19,6 triliun. Kontribusinya terhadap total investasi meningkat dari 3,08% menjadi 3,93%. Pertumbuhan kredit ke sektor ini karena ini dapat dibaca sebagai respons perbankan terhadap meningkatnya kebutuhan pembiayaan pada ekosistem jasa perusahaan.
Sektor pengadaan listrik dan gas memiliki karakter berbeda. Realisasi investasinya hanya naik tipis dari Rp21,02 triliun pada Maret 2025 menjadi Rp21,6 triliun pada Maret 2026, atau tumbuh 2,84% yoy. Namun, sektor ini tetap penting karena bersifat padat modal, strategis, dan risiko kreditnya sangat rendah. Perbankan melihat daya tarik sektor energi dan utilitas ini tak hanya soal pertumbuhan investasi jangka pendek, tetapi juga pada stabilitas permintaan, sifat proyek yang berjangka panjang, serta perannya sebagai infrastruktur dasar bagi aktivitas ekonomi.
Sementara itu, konstruksi menunjukkan hubungan yang lebih kompleks antara kredit dan investasi. Kredit konstruksi tumbuh paling tinggi di antara lima sektor favorit bank pada April 2026, tetapi realisasi investasinya justru turun dari Rp10,1 triliun pada Maret 2025 menjadi Rp9,9 triliun pada Maret 2026, atau -1,48% yoy.
Hal itu menunjukkan bahwa lonjakan kredit konstruksi tidak selalu berarti ada ledakan investasi baru pada periode yang sama. Kenaikan kredit dapat berkaitan dengan pembiayaan proyek yang sudah berjalan, kebutuhan penyelesaian konstruksi, pembiayaan kontraktor, atau aktivitas turunan dari proyek properti dan infrastruktur.
Adapun aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial masih mencatat pertumbuhan investasi, meski relatif terbatas. Realisasi investasinya tumbuh 1,82% yoy menjadi Rp6,9 triliun per Maret 2026. Tampaknya, daya tarik sektor ini bagi perbankan lebih karena stabilitas dan risiko yang terkendali, bukan dari besarnya investasi yang masuk.
Dari sisi penyerapan tenaga kerja, lima sektor favorit perbankan juga menunjukkan karakter yang berbeda. Konstruksi menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di antara kelima sektor tersebut, dengan jumlah pekerja meningkat menjadi 8,97 juta orang pada Februari 2026, atau tumbuh 3,10% yoy. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total tenaga kerja nasional sebesar 1,30% yoy. Ini menunjukkan bahwa konstruksi bukan hanya menarik dari sisi kredit, tetapi juga berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja.
Sektor aktivitas profesional dan perusahaan juga mencatat peningkatan tenaga kerja. Jumlah pekerja naik menjadi 2,64 juta orang pada Februari 2026, atau tumbuh 4,35% yoy. Pertumbuhan ini lebih tinggi dari rata-rata nasional dan memperlihatkan makin pentingnya jasa profesional dalam struktur ekonomi.
Sektor real estat mencatat pertumbuhan tenaga kerja paling cepat di antara lima sektor tersebut, meski basisnya kecil. Jumlah pekerja meningkat dari 0,50 juta orang pada Februari 2025 menjadi 0,56 juta orang pada Februari 2026, atau tumbuh 12,00% yoy. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan investasi dan kredit real estat yang sama-sama meningkat. Dengan demikian, real estat menjadi salah satu sektor yang menunjukkan konsistensi paling kuat: kredit tumbuh, investasi naik, dan tenaga kerja juga bertambah.
Sebaliknya, sektor pengadaan listrik dan gas tidak menunjukkan perubahan berarti dalam penyerapan tenaga kerja. Jumlah pekerjanya stagnan di sekitar 0,36 juta orang pada Februari 2024-2026. Hal ini mencerminkan karakter sektor utilitas yang padat modal, tetapi tidak padat karya. Karena itu, meski kredit dan investasinya relatif besar, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja langsung cenderung terbatas.
Sektor aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial juga tumbuh sangat terbatas dari sisi tenaga kerja. Jumlah pekerjanya hanya tumbuh 0,40% yoy per Februari 2026, menjadi 2,52 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan dan investasi di sektor kesehatan belum langsung diterjemahkan menjadi peningkatan besar dalam penyerapan tenaga kerja.
Secara keseluruhan, keterkaitan antara kredit, investasi, dan tenaga kerja memperlihatkan bahwa lima sektor favorit perbankan tidak memiliki profil yang sama. Real estat serta aktivitas profesional dan perusahaan menunjukkan kombinasi yang paling seimbang karena kreditnya tumbuh, investasinya meningkat kuat, dan tenaga kerjanya bertambah.
Sektor usaha konstruksi unggul dari sisi kredit dan penyerapan tenaga kerja, tetapi realisasi investasinya belum ikut naik pada periode yang sama. Pengadaan listrik dan gas menarik karena stabil dan berisiko rendah, tetapi lebih bersifat padat modal daripada padat karya. Sementara itu, kesehatan tetap menjanjikan dari sisi stabilitas, meski pertumbuhan investasi dan tenaga kerjanya masih terbatas.
Memperkuat Fondasi Pertumbuhan Ekonomi
Arah penyaluran kredit perbankan pada 2024-2026 menunjukkan bahwa bank tidak hanya membiayai sektor dengan outstanding terbesar, tetapi juga mulai mengarahkan pembiayaan ke sektor-sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih kuat.
Per April 2026, lima sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi adalah konstruksi, pengadaan listrik dan gas, aktivitas profesional dan perusahaan, real estat, serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial. Kelima sektor tersebut tumbuh di atas rata-rata kredit bank umum, sehingga dapat dibaca sebagai sektor yang sedang memperoleh kepercayaan lebih besar dari industri perbankan.
Namun, status sebagai sektor favorit perbankan tetap perlu dibaca secara hati-hati. Pertumbuhan kredit yang tinggi tidak selalu berarti seluruh sektor tersebut memiliki fondasi yang sama kuat.
Oleh karena itu, membaca selera kredit perbankan perlu dilakukan dengan melihat tiga hal sekaligus, yaitu pertumbuhan kredit, kualitas kredit, dan dampaknya terhadap sektor riil. Dengan demikian, perbankan berperan penting bukan hanya sebagai penyalur dana, tetapi juga sebagai penentu arah pembiayaan ekonomi produktif.
Tantangan ke depan adalah memastikan kredit yang tumbuh cepat tidak berhenti sebagai ekspansi neraca bank semata, melainkan benar-benar mendorong kapasitas produksi, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.