Research  By Editorial Desk

Waspadai Sinyal Ekonomi Indonesia

14 Agustus, 2026

Ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026, tetapi indikator pendahulu, konsumsi, investasi domestik, dan perdagangan mulai melemah.

Ilutrasi tangan hendak menekan tombol emergency - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilutrasi tangan hendak menekan tombol emergency.

DOWNLOADS


Cover NEXT Review Review.Waspadai Sinyal Ekonomi.jpeg

NEXT Review - Waspadai Sinyal Ekonomi Indonesia

Download

Ringkasan
• Indikator ekonomi mulai memberi sinyal perlambatan

CLI OECD turun selama enam bulan berturut-turut hingga Juni 2026, sementara LEI CEIC merosot 9,69%. Keduanya menunjukkan momentum ekonomi mulai kehilangan tenaga.
• Konsumsi dan investasi domestik melemah
Keyakinan konsumen terus turun dan penjualan riil diperkirakan terkontraksi 4,44% pada Juni. PMDN semester I-2026 juga turun 1,45%, meski total investasi masih tumbuh 7,18%.
• Penyangga eksternal semakin menipis
Surplus perdagangan semester I-2026 menyusut 81,64% menjadi US$3,6 miliar. Pemerintah perlu menjaga daya beli, memperkuat lapangan kerja, mempercepat belanja produktif, dan memulihkan kepercayaan investor domestik.

 

 

NEXT Indonesia Center - Kinerja perekonomian kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29%, lebih baik dibandingkan periode yang sama, setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Tapi kondisi bulan-bulan berikutnya justru memberikan sinyal waspada.

Pada Juni 2026, indikator ekonomi pendahulu atau Composite Leading Indicator (CLI) yang dikeluarkan Organisation on Economic Cooperation and Development (OECD)1 untuk Indonesia tercatat menurun. Indikator ini memang bukan penentu apakah suatu negara akan mengalami resesi. Namun, pergerakannya dapat memberikan gambaran awal mengenai arah perekonomian dalam beberapa bulan mendatang.

1. Composite Leading Indicator (CLI) merupakan indeks yang dirancang untuk memberikan sinyal awal mengenai titik balik dalam siklus bisnis, yang ditandai oleh naik-turunnya aktivitas ekonomi di sekitar tingkat potensi jangka panjangnya.

Sederhananya, CLI bekerja seperti kaca depan kendaraan. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan perjalanan yang telah dilewati, sedangkan CLI membantu melihat kondisi jalan di depan. Karena itu, penurunan CLI perlu diperhatikan meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih terlihat cukup stabil.

Sinyal waspada tersebut semakin terang karena pada saat yang sama investasi pelaku usaha dalam negeri juga melemah. Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pada semester I-2026 menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini dapat menjadi tanda bahwa perusahaan domestik mulai menahan ekspansi, baik karena permintaan yang belum kuat, biaya usaha yang meningkat, maupun ketidakpastian kebijakan.

Pelemahan investasi domestik tidak boleh dipandang sebagai persoalan investor semata. Ketika dunia usaha menunda pembangunan pabrik, pembelian mesin, atau pembukaan cabang baru, kesempatan kerja dan permintaan terhadap berbagai barang dan jasa ikut tertahan. Jika berlangsung cukup lama, dampaknya akan menjalar ke konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Apalagi, hasil survei Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa keyakinan konsumen terus turun sejak Januari 2026. Ketika ekspektasinya melemah, biasanya masyarakat menahan untuk berbelanja alias konsumsi.

Dalam review ini, NEXT Indonesia Center menelaah seberapa kuat sinyal perlambatan tersebut dengan membandingkan pergerakan sejumlah indikator pendahulu dan perkembangan kegiatan ekonomi riil. Kajian ini juga mengidentifikasi bagian-bagian perekonomian yang mulai kehilangan tenaga sekaligus merumuskan langkah yang perlu ditempuh pemerintah agar perlambatan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Dua Indikator, Satu Arah Pelemahan

Ada dua indikator yang dapat digunakan untuk mencoba melihat arah kinerja perekonomian dalam beberapa bulan ke depan, yaitu Composite Leading Indicator (CLI) yang dirilis OECD dan Leading Economic Indicator (LEI) keluaran CEIC2, platform penyedia data dan analisis makroekonomi global. Meski memiliki fungsi serupa, ada perbedaan antara keduanya.

2. Leading Economic Indicator (LEI) CEIC adalah indeks komposit yang dirancang oleh CEIC Data untuk memprediksi titik balik dalam siklus bisnis suatu negara secara dini (biasanya dua hingga tiga kuartal sebelumnya). Indeks ini menggabungkan berbagai data makroekonomi pilihan untuk melihat arah tren ekonomi masa depan.

Indikator yang dikeluarkan OECD dirancang untuk memberikan sinyal awal ketika siklus ekonomi mulai berbalik arah, baik dari penguatan menuju perlambatan maupun sebaliknya. Indikator ini disusun dari sejumlah data yang cenderung bergerak lebih dahulu dibandingkan kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Karena itu, CLI tidak digunakan untuk meramalkan besarnya pertumbuhan ekonomi, melainkan untuk membaca arah perubahannya: menguat, mendatar, atau melemah.

Sementara, indikator dari CEIC menangkap perubahan momentum ekonomi sebelum sepenuhnya terlihat dalam data kinerja perekonomian nasional atau Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, komponen dan metode penyusunan LEI berbeda dengan CLI. Karena itu, keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung. Hal yang dapat diperbandingkan adalah arah pergerakan, lamanya tren, dan waktu terjadinya titik balik.

Sepanjang 2024, kedua indikator masih memberikan sinyal menguatnya perekonomian Indonesia. Pada Januari 2024, indikator CLI bergerak dari 99,65 menjadi 100,16 di November 2024. Dalam periode yang sama, LEI naik lebih kuat dari 95,04 menjadi 101,76.

Keduanya sempat melemah pada awal 2025, tetapi kembali meningkat pada paruh kedua tahun tersebut. CLI mencapai puncak sebesar 100,73 pada Desember 2025, sedangkan LEI lebih dahulu menyentuh puncak sebesar 102,33 pada November 2025.

Setelah itu, arah kedua indikator berbalik. Sinyal yang dikeluarkan CLI memberikan isyarat bahwa perekonomian Indonesia menurun selama enam bulan berturut- turut, dari 100,73 pada Desember 2025 menjadi 99,81 pada Juni 2026. Penurunannya memang hanya sebesar 0,92 poin atau 0,91%, tetapi berlangsung secara konsisten. Pada Mei 2026, CLI masih tepat berada pada level 100,00 sebelum turun ke bawah level tersebut pada Juni.

Sinyal dari LEI muncul lebih awal dan jauh lebih tajam. Indikator ini telah menurun sejak Desember 2025 dan terus merosot hingga Juni 2026. Nilainya turun dari 102,33 pada November 2025 menjadi 92,41 pada Juni 2026, atau sebesar 9,69%. LEI bahkan telah berada di bawah level 100 sejak Februari 2026.

Kesamaan arah kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa momentum ekonomi Indonesia sedang kehilangan tenaga. Perbedaannya terletak pada kuat-lemahnya sinyal. CLI memperlihatkan perlambatan yang masih bertahap, sedangkan LEI menunjukkan pelemahan yang jauh lebih dalam.

Kendati demikian, penurunan LEI sebesar 9,69% bukan berarti PDB Indonesia akan menyusut dalam besaran yang sama. Angka tersebut hanya menunjukkan bahwa indikator-indikator pendahulu yang dihimpun CEIC memburuk cukup cepat dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. 

Jika ditelisik lebih jauh, tekanan terbesar pada CLI terlihat pada komponen harga saham. Indeks komponen ini turun dari 100,76 pada Desember 2025 menjadi 99,16 pada Juni 2026 atau sebesar 1,59%. Pergerakan harga saham memang tidak selalu sama dengan kondisi ekonomi saat ini, tetapi dapat mencerminkan perubahan harapan investor terhadap keuntungan perusahaan, prospek dunia usaha, dan risiko ekonomi ke depan.

Pelemahan juga mulai terlihat pada keyakinan konsumen. Indeks kepercayaan konsumen (IKK) dalam CLI turun dari 100,42 pada Februari menjadi 100,11 pada Mei 2026. Angka untuk Juni belum tersedia dalam seri OECD. Namun, data yang diterbitkan lebih cepat oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa tekanan tersebut berlanjut. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026. Meskipun masih berada di atas 100 atau dalam zona optimis, penurunan itu menunjukkan bahwa keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi mulai berkurang.

Komponen aktivitas pariwisata juga turun dari 100,97 pada Agustus 2025 menjadi 100,72 pada Mei 2026. Sama seperti komponen kepercayaan konsumen, angka Juni dalam seri OECD belum tersedia. Namun, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan kunjungan wisatawan mancanegara pada Juni 2026 mencapai 1,4 juta kunjungan, sedikit meningkat dibandingkan Mei, tetapi turun 2,15% secara tahunan. Sebaliknya, perjalanan wisatawan domestik masih tumbuh 1,98%, menjadi 107,2 juta perjalanan, sedangkan tingkat hunian kamar hotel bintang meningkat menjadi 54,28%. Artinya, pelemahan wisatawan asing masih diimbangi oleh aktivitas wisata domestik dan kenaikan tingkat hunian hotel.

Tidak semua komponen CLI yang dikeluarkan OECD bergerak turun. Indeks nilai tukar meningkat dari 99,84 pada Desember 2025 menjadi 100,31 pada Juni 2026. Indeks harga produsen juga naik dari 99,26 menjadi 100,45, sedangkan komponen suku bunga jangka pendek meningkat dari 99,21 menjadi 99,38. Pergerakan yang berbeda-beda tersebut menunjukkan bahwa pelemahan belum terjadi secara merata pada seluruh sisi perekonomian.

Meski demikian, kesamaan arah CLI dan LEI tidak dapat diabaikan. Dua indikator dengan metode berbeda sama-sama menunjukkan titik balik pada penghujung  2025 dan pelemahan yang berlanjut hingga Juni 2026. Penurunan keyakinan konsumen turut memperkuat sinyal tersebut.

Rangkaian data ini memang belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Indonesia sedang menuju resesi, tetapi sudah cukup kuat untuk menyalakan lampu kuning. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah pelemahan tersebut telah menjalar ke investasi, konsumsi, dan kegiatan ekonomi nyata.

Konsumsi Rumah Tangga Mulai Lesu

Sinyal perlambatan yang ditunjukkan oleh yaitu Composite Leading Indicator (CLI) dari OECD dan Leading Economic Indicator (LEI) terbitan CEIC mulai tercermin pada salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia, yakni konsumsi rumah tangga. Sepanjang 2025, nilai konsumsi rumah tangga mencapai Rp12.834,8 triliun atau 53,88% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada semester I-2026, nilainya tercatat sebesar Rp6.856,7 triliun dengan kontribusi 53,82%. Besarnya porsi tersebut menunjukkan arah pertumbuhan ekonomi nasional sangat bergantung pada kemampuan dan keyakinan masyarakat dalam mempertahankan pengeluaran.

Komponen terbesar berikutnya adalah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) alias investasi dalam aset tetap, seperti bangunan, infrastruktur, mesin, kendaraan, maupun peralatan produksi. Nilainya mencapai Rp3.674,2 triliun pada semester I-2026 atau menyumbang 28,84% terhadap PDB, sedikit meningkat dari 28,77% pada 2025. Sebaliknya, kontribusi konsumsi pemerintah turun dari 7,53% menjadi 7,16%.

Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor barang dan jasa menyumbang 22,22% terhadap PDB semester I-2026, sedangkan impor mencapai 22,18%. Dengan demikian, kontribusi ekspor neto hanya sekitar 0,04%, jauh lebih kecil dibandingkan 2,31% sepanjang 2025. Kondisi ini semakin menegaskan besarnya ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap konsumsi rumah tangga dan investasi.

Namun, posisi konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama perekonomian mulai menghadapi tekanan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 123,0 pada April menjadi 120,9 pada Mei, kemudian kembali melemah menjadi 117,8 pada Juni 2026. Secara bulanan, penurunannya mencapai 1,71% pada Mei dan semakin dalam, menjadi 2,56% pada Juni. Meski masih berada di atas 100—yang berarti konsumen tetap berada dalam zona optimistis—tingkat keyakinannya terus menurun dan pada Juni 2026 kembali sama dengan posisi Juni 2025.

Penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek enam bulan mendatang juga melemah. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun dari 116,5 pada April menjadi 112,2 pada Mei dan 109,2 pada Juni 2026. Pada saat yang sama, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun dari 129,6 menjadi 126,4. Artinya, masyarakat tidak hanya merasakan pelemahan kondisi ekonomi saat ini, tetapi optimisme mereka terhadap perkembangannya ke depan juga berkurang.

Tekanan terhadap kondisi aktual terlihat pada seluruh komponen pembentuk IKE. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun 2,76% secara bulanan menjadi 119,8 pada Juni 2026. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) juga menurun 3,05% menjadi 101,8, sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama turun 2,22% menjadi 105,9. Seluruhnya masih berada dalam zona optimistis, tetapi posisinya semakin mendekati batas 100, terutama persepsi mengenai ketersediaan lapangan kerja.

Harapan konsumen terhadap enam bulan mendatang juga mengalami koreksi. Indeks Ekspektasi Penghasilan turun 2,12% secara bulanan menjadi 133,6, sedangkan Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja melemah 2,89% menjadi 124,4 pada Juni 2026. Penurunan paling menonjol terlihat pada Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha yang mencapai 121,2, lebih rendah 2,65% dibandingkan Mei 2026 dan 6,26% dibandingkan Juni 2025.

Melemahnya keyakinan tersebut seiring dengan perkembangan penjualan eceran. Indeks Penjualan Riil (IPR) total turun dari 226,9 pada April menjadi 223,4 pada Mei dan diprakirakan kembali turun menjadi 221,6 pada Juni 2026. Secara tahunan, penjualan riil terkontraksi 3,87% pada Mei dan diprakirakan turun lebih dalam sebesar 4,44% pada Juni. Penurunan secara bulanan dan tahunan menunjukkan bahwa pelemahan penjualan tidak hanya disebabkan oleh pola musiman setelah Ramadan dan Idulfitri.

Kontraksi terjadi pada kelompok barang yang berkaitan dengan konsumsi sehari- hari maupun kebutuhan nonprimer. Penjualan makanan, minuman, dan tembakau diperkirakan turun 4,45% secara tahunan pada Juni 2026. Penjualan bahan bakar kendaraan bermotor turun 7,84%, barang budaya dan rekreasi melemah 8,44%, sedangkan sandang terkontraksi 6,44%. Penurunan terdalam terjadi pada peralatan informasi dan komunikasi yang mencapai 25,49%.

Di tengah pelemahan tersebut, penjualan suku cadang dan aksesori masih tumbuh 10,98% secara tahunan pada Juni 2026. Perlengkapan rumah tangga lainnya juga diprakirakan tumbuh 1,82%. Namun, pertumbuhan pada dua kelompok tersebut belum mampu mengimbangi kontraksi pada sebagian besar kategori lainnya.

Penurunan keyakinan konsumen yang diikuti kontraksi penjualan riil menunjukkan bahwa kekuatan konsumsi rumah tangga sebagai jangkar perekonomian nasional mulai melemah. Konsumen memang masih optimistis, tetapi semakin berhati-hati dalam berbelanja karena penilaian terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha mulai menurun. Jika kecenderungan ini berlanjut, kekuatan konsumsi rumah tangga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah pada semester II-2026.

Waspada Penurunan Modal Domestik

Investasi memang masih memberikan sinyal ekspansi bagi perekonomian Indonesia. Sepanjang 2024, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp1.714,2 triliun. Nilainya meningkat menjadi Rp1.931,2 triliun pada 2025 atau tumbuh 12,66%. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang PMDN yang melonjak 26,57%, dari Rp814,0 triliun menjadi Rp1.030,3 triliun. Sebaliknya, PMA relatif stagnan di kisaran Rp900,0 triliun.

Memasuki 2026, investasi tetap tumbuh, tetapi sumber pertumbuhannya berbalik. Total investasi selama semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,18% dibandingkan Rp942,9 triliun pada semester I-2025. Pertumbuhan kali ini terutama ditopang PMA yang naik 17,36%, dari Rp432,5 triliun menjadi Rp507,6 triliun. Sementara itu, PMDN justru turun 1,45%, dari Rp510,3 triliun menjadi Rp502,9 triliun.

Perubahan tersebut membuat PMA kembali mengambil porsi sedikit lebih besar. Kontribusi PMA terhadap total investasi meningkat dari 45,88% pada semester I-2025 menjadi 50,23% pada semester I-2026. Sebaliknya, kontribusi PMDN turun dari 54,12% menjadi 49,77%. Jadi, investasi secara agregat memang masih ekspansif, tetapi melemahnya PMDN perlu diawasi karena dapat mencerminkan menurunnya dorongan investasi dari pelaku usaha domestik.

Pada sisi perdagangan luar negeri, kinerja Indonesia sempat menguat sepanjang 2025. Nilai ekspor meningkat dari US$266,5 miliar pada 2024 menjadi US$282,9 miliar pada 2025 atau tumbuh 6,14%. Pada periode yang sama, impor hanya naik 2,83%, dari US$235,2 miliar menjadi US$241,9 miliar. Lantaran ekspor tumbuh lebih cepat, surplus neraca perdagangan melebar dari US$31,3 miliar menjadi US$41,1 miliar.

Akan tetapi, arah pergerakan tersebut berubah pada semester I-2026. Ekspor masih meningkat 3,99% secara tahunan menjadi US$140,8 miliar, tetapi impor melesat 18,37% menjadi US$137,2 miliar. Akibatnya, surplus perdagangan menyusut tajam dari US$19,5 miliar pada semester I-2025 menjadi hanya US$3,6 miliar pada semester I 2026, atau turun 81,64%.

Tekanan terutama terlihat sejak April 2026. Surplus perdagangan pada bulan tersebut tinggal US$0,1 miliar. Pada Mei 2026, neraca perdagangan kemudian mengalami defisit US$1,6 miliar dan mengakhiri rangkaian surplus selama 72 bulan berturut-turut. Defisit kembali berlanjut sebesar US$0,5 miliar pada Juni 2026. Pada bulan tersebut, ekspor sebenarnya tumbuh 8,63% secara tahunan, tetapi impor melesat 34,02%.

Lonjakan impor dapat berarti dua hal. Apabila didominasi bahan baku dan barang modal, peningkatan tersebut dapat mencerminkan menguatnya aktivitas produksi dan investasi domestik. Namun, karena pertumbuhan ekspor jauh lebih lambat, kondisi ini sekaligus menunjukkan melemahnya penyangga eksternal dan berkurangnya kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi.

Perkembangan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi semakin bertumpu pada permintaan dan aktivitas domestik, sementara dukungan dari sektor eksternal mulai berkurang.

Belum di Zona Merah, Tetap Jangan Lengah

Rangkaian indikator hingga Juni 2026 menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia belum berada di zona merah, tetapi lampu kuning menyala semakin jelas. Composite Leading Indicator (CLI) yang dirilis OECD menurun selama enam bulan berturut-turut hingga berada di bawah level 100, sedangkan Leading Economic Indicator (LEI) keluaran CEIC menunjukkan pelemahan yang lebih tajam. Kedua indikator tersebut memang tidak membuktikan Indonesia sedang menuju resesi, tetapi memberikan peringatan bahwa momentum pertumbuhan mulai kehilangan tenaga.

Sinyal tersebut mulai tercermin pada konsumsi rumah tangga, penopang lebih dari separuh perekonomian nasional atau Produk Domestik Bruto (PDB). Keyakinan konsumen masih berada dalam zona optimistis, tetapi terus menurun seiring melemahnya penilaian terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha. Kontraksi penjualan riil sebesar 3,87% pada Mei 2026, dan diperkirakan semakin dalam menjadi 4,44% pada Juni 2026, memperlihatkan bahwa masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Investasi secara agregat memang masih tumbuh 7,18% pada semester I-2026. Namun, pertumbuhan tersebut terutama ditopang PMA yang meningkat 17,36%, sedangkan PMDN justru turun 1,45%. Perbedaan arah ini perlu mendapat perhatian karena dapat menunjukkan bahwa pelaku usaha domestik mulai menahan ekspansi di tengah melemahnya permintaan dan meningkatnya ketidakpastian.

Pada saat yang sama, penyangga dari sektor eksternal semakin menipis. Surplus neraca perdagangan semester I-2026 menyusut 81,64% menjadi US$3,6 miliar setelah pertumbuhan impor jauh melampaui ekspor. Defisit pada Mei dan Juni 2026 juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak dapat terus mengandalkan ekspor neto untuk menutup melemahnya permintaan domestik. Lonjakan impor bahan baku dan barang modal dapat menjadi sinyal kegiatan produksi, tetapi manfaatnya baru akan terasa apabila diikuti peningkatan investasi, produksi, dan ekspor.

Oleh karena itu, pemerintah perlu merespons sebelum pelemahan sepenuhnya terlihat dalam pertumbuhan PDB. Prioritas kebijakan harus diarahkan pada perlindungan daya beli, penciptaan lapangan kerja, percepatan belanja produktif, serta kepastian regulasi untuk memulihkan keberanian pelaku usaha domestik dalam berinvestasi. Lampu kuning bukan alasan untuk panik, tetapi peringatan agar kebijakan segera bekerja sebelum perekonomian kehilangan momentum lebih jauh.

Related Articles

blog image

Bunga Tinggi Bank Digital Menggiurkan, Nasabah Perlu Waspadai Risikonya

Bunga tinggi menjadi strategi bank digital menarik dana masyarakat, tetapi nasabah hadapi risiko kehilangan perlindungan LPS jika bunga melampaui TBP.

Selengkapnya
blog image

Daya Pikat Bank Digital

Bank digital menawarkan bunga simpanan hingga 8% per tahun. Namun, bunga di atas batas LPS berisiko membuat seluruh simpanan kehilangan perlindungan.

Selengkapnya
blog image

Tabungan Masih Jadi Harapan, Tapi Kemampuan Menabung Warga RI Menurun

Pertumbuhan simpanan perbankan diproyeksi melambat pada 2026. Kenaikan DPK banyak ditopang rekening bernilai besar, bukan tabungan masyarakat luas.

Selengkapnya