Ketegangan Indonesia-Singapura Berkepanjangan Berisiko Merugikan Kedua Negara
01 November, 2026
Pemerintah diingatkan agar bijak menyikapi ketegangan dengan Singapura karena hubungan dagang, energi, dan investasi kedua negara saling terkait.
Keterangan foto: Ilustrasi Indonesia-Singapura.
DOWNLOADS
Press Release - Ketegangan Indonesia-Singapura Berkepanjangan Berisiko Merugikan Kedua Negara
Ringkasan
• Ketergantungan impor Indonesia pada Singapura lebih besar
Pada 2025, produk Singapura mencakup 7,93% dari total impor Indonesia. Sebaliknya, produk Indonesia hanya menyumbang 3,82% dari total impor Singapura.
• Kedua negara saling bergantung pada pasokan energi
Sepanjang 2021-2025, Singapura memasok 47,99% impor produk minyak olahan Indonesia. Sementara itu, Indonesia memenuhi 36,94% impor gas dan hidrokarbon Singapura.
• Investasi Singapura berperan besar bagi ekonomi Indonesia
Realisasi PMA yang tercatat berasal dari Singapura mencapai Rp1.134,6 triliun atau 31,06% dari total PMA pada 2021-2025. NEXT Indonesia Center menilai pemerintah perlu menjaga kepentingan energi domestik sekaligus mengutamakan komunikasi dan menghormati kesepakatan dagang agar ketegangan tidak merugikan kedua negara.
MOST POPULAR
- Hanya 55 dari 546 Daerah yang Mampu Menutup Gaji Pegawai dari PAD
- Ada Impor Ribuan Ton Beras dari Singapura dan Malaysia di Tengah Klaim Swasembada Beras
- Tingkatkan Tata Kelola Ekspor Komoditas Strategis, Langkah DSI Perkuat Sistem Data Dinilai Tepat
- Anomali Surplus Beras RI, Stok Aman tapi Harganya Melonjak
- Menimbang Arah Peran DSI: Hindari Beban Finansial, Prioritaskan Pengawasan Berbasis Integrasi Data
NEXT Indonesia Center - Ketegangan hubungan Indonesia dan Singapura kembali menjadi sorotan setelah pemerintah memangkas ekspor gas alam ke Singapura sebesar 31 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kebijakan ini muncul di tengah polemik kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengingatkan pemerintah agar mempertimbangkan hubungan ekonomi kedua negara secara menyeluruh. Menurutnya, pasokan energi tidak bisa dipisahkan dari keterkaitan dagang dan investasi yang sudah lama terjalin.
“Indonesia tentu harus mengutamakan kepentingan nasional, termasuk memastikan kebutuhan energi dalam negeri terpenuhi. Namun, kita juga perlu mempertimbangkan besarnya keterkaitan ekonomi dengan Singapura. Ketegangan yang berkepanjangan justru berisiko merugikan kedua negara,” ujar Herry Gunawan di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
Kajian NEXT Indonesia Center bertajuk “Indonesia-Singapura: Memanas, tapi Saling Butuh” menunjukkan ketergantungan Indonesia pada Singapura lebih besar. Pada 2025, barang dari Singapura mencakup 7,93% impor Indonesia, sedangkan barang dari Indonesia hanya 3,82% dari total impor Singapura.
Ketergantungan paling terasa di sektor migas. Meski produsen minyak mentah, Indonesia mengimpor 28,70% migasnya dari Singapura sepanjang 2021-2025. Untuk produk minyak olahan (HS 2710), nilainya mencapai US$47,23 miliar atau 47,99% dari total impor kategori itu. Untuk kokas minyak bumi dan residu sejenis (HS 2713), Singapura memasok 62,20%.
Singapura pun bergantung pada energi Indonesia. Impor gas, minyak bumi, dan hidrokarbon berbentuk gas lainnya (HS 2711), termasuk LPG, mencapai US$11,5 miliar atau 36,94% dari total impor kategori tersebut. Di nonmigas, impor terbesarnya adalah mesin dan peralatan listrik (HS 8543) senilai US$5,91 miliar, disusul telepon (US$3,97 miliar) dan emas (US$3,96 miliar).
Dari sisi investasi, Singapura adalah sumber Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar di Indonesia. Realisasinya pada 2021-2025 mencapai Rp1.134,6 triliun atau 31,06% dari total PMA, jauh di atas Hongkong (14,68%), Tiongkok (14,12%), dan Malaysia (7,20%). Namun, Singapura adalah pusat keuangan regional, sehingga negara asal yang tercatat belum tentu negara asal pemilik akhir modal. Dana tersebut paling banyak mengalir ke industri logam dasar dan barang logam, senilai Rp286,1 triliun atau 25,22%.
“Hubungan kedua negara memang tidak selalu seimbang, tetapi kepentingannya jelas saling terhubung. Kepentingan dalam negeri, seperti pasokan gas, tentu perlu dijaga. Namun pernyataan keras dan emosional dari pejabat publik justru berisiko memperkeruh keadaan,” ujar Herry Gunawan.
Ia menilai pemerintah perlu mengutamakan komunikasi, menghormati kesepakatan, dan mencari jalan keluar yang menguntungkan kedua pihak.
“Setiap kebijakan perlu mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Menjaga hubungan baik dengan negara tetangga seperti Singapura juga bagian dari menjaga kepentingan ekonomi Indonesia sendiri,” tegasnya.