Research  By Editorial Desk

Indonesia-SIngapura: Memanas, tapi Saling Butuh

30 Oktober, 2026

Hubungan dagang Indonesia-Singapura saling terikat, mulai dari impor migas hingga investasi, sehingga ketegangan perlu disikapi secara bijak.

Ilustrasi lambang Indonesia dan Singapura - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilustrasi lambang Indonesia dan Singapura.

DOWNLOADS


Cover Next Review Indonesia-SIngapura Memanas, tapi Saling Butuh.jpeg

NEXT Review - Indonesia-SIngapura: Memanas, tapi Saling Butuh

Download

Ringkasan
• Ketergantungan impor Indonesia pada Singapura lebih besar

Pada 2025, impor dari Singapura mencapai 7,93% dari total impor Indonesia, sedangkan impor dari Indonesia hanya 3,82% dari total impor Singapura. Nilai perdagangan kedua arah sama-sama mencapai US$19,2 miliar.
• Kedua negara saling bergantung pada komoditas strategis
Singapura memasok 47,99% impor produk minyak olahan Indonesia sepanjang 2021-2025. Sebaliknya, Indonesia memasok 36,94% impor gas dan hidrokarbon Singapura. Ini menunjukkan keterkaitan pasokan energi kedua negara.
• Singapura berperan besar dalam investasi Indonesia
Sepanjang 2021-2025, investasi yang tercatat berasal dari Singapura mencapai Rp1.134,6 triliun atau 31,06% dari total PMA. Industri logam menjadi tujuan terbesar dengan nilai Rp286,1 triliun. Di tengah ketegangan, pemerintah perlu menjaga kepentingan nasional melalui komunikasi dan penghormatan terhadap kesepakatan dagang.

 

 

NEXT Indonesia Center - Hubungan perdagangan Indonesia-Singapura kembali menjadi sorotan setelah Indonesia mengurangi ekspor gas alam ke tetangga dekat tersebut. Keputusan ini semakin menarik perhatian karena berdekatan dengan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bahwa pemerintah akan mengevaluasi ekspor energi ke negara yang dinilai “tidak menghargai Indonesia.”1 

1. Putu Indah Savitri, “Bahlil Evaluasi Kontrak Ekspor Energi ke Negara yang Tak Hargai RI”, Antaranews.com, 22 Oktober 2026.

Selang beberapa hari, ekspor gas ke Singapura mulai dikurangi sebesar 31 Billion British Thermal Units per Day (BBUTD), yang terdiri atas 15 BBUTD dari Natuna dan 16 BBTUD dari Sumatra, mulai 24 Oktober 2026.2 Pemerintah menyebut kebutuhan dalam negeri sebagai salah satu pertimbangan penataan pasokan. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong merespons dengan menekankan pentingnya pemenuhan komitmen kontrak komersial.3

2. Azura Y.R. Purnama, “SKK Migas Umumkan Kurangi Ekspor Gas ke Singapura 31 BBtud”, Bloomberg Technoz, 24 Oktober 2026.
3. Samuel Devaraj, “S’pore Expects All Parties to Honour Commit-ments, Says PM Wong after Indonesia Cuts Gas Exports”, The Straits Times, 25 Oktober 2026.

Keputusan tersebut muncul di tengah ketegangan terkait kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, termasuk di Sumatra dan Kalimantan, yang juga berdampak pada Singapura dan Malaysia. Seperti diuraikan media umum Tirto.id, ketegangan dengan Singapura bermula dari silang pendapat mengenai penanganan karhutla dan penindakan terhadap perusahaan yang diduga terkait dengan kebakaran.4

4. Rizal Amril Yahya, “Ribut Indonesia-Singapura soal Karhutla, Gas, & Akses Internet”, Tirto.id, 28 Oktober 2026.

Dalam rangkaian peristiwa itu, Menteri Bahlil menyampaikan ancaman evaluasi ekspor pada 22 Oktober, dua hari sebelum pengurangan gas ke Singapura mulai berlaku. Urutan tersebut memunculkan dugaan bahwa polemik karhutla turut melatari keputusan pengurangan ekspor, meski pemerintah juga menyebut kebutuhan domestik dan kaitan langsung antara kedua isu itu belum dikonfirmasi secara resmi.

Perkembangan ini juga mengundang perhatian karena Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan good neighbor policy (kebijakan bertetangga dengan baik). Dalam pidatonya pada Mei 2026, Prabowo mengatakan Indonesia ingin menjadi “tetangga yang baik” dan menyebut upaya memperbaiki hubungan dengan Singapura.5 Pesan tersebut menjadi konteks penting untuk menimbang bagaimana kepentingan nasional dijaga sekaligus hubungan dengan negara tetangga dirawat di tengah perbedaan pandangan.

5. Humas Sekab, “Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Kuat karena Persatuan dan Politik Bebas Aktif”, Sekretariat Kabinet RI, 16 Mei 2026.

Hubungan dagang Indonesia dan Singapura memiliki latar panjang. Sebab, selain kedekatan geografis, posisi kedua negara juga berada tepat di jalur perdagangan Selat Malaka. Bahkan Singapura telah membuka kantor penghubung untuk menangani urusan perdagangan di Jakarta sejak 1966, sebelum hubungan diplomatik resmi kedua negara dibuka pada 7 September 1967.6

6. Nlb, “Singapore Establishes Diplomatic Relations with Indonesia”, National Library Board Singapore.

Berangkat dari sejarah dan dinamika terkini hubungan kedua negara, review NEXT Indonesia Center ini memetakan nilai impor Indonesia dari Singapura dan sebaliknya, komoditas migas dan nonmigas utama yang diperdagangkan, serta investasi Singapura di Indonesia. Uraian tersebut diharapkan memberi gambaran yang lebih utuh tentang eratnya keterkaitan ekonomi dan saling ketergantungan Indonesia-Singapura.

Ketergantungan Impor Indonesia pada Singapura Lebih Besar

Dilihat dari porsi dalam total impor, Indonesia lebih bergantung pada Singapura dibandingkan sebaliknya, setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Pada 2025, barang yang dikirim dari Singapura sekitar 7,93% dari seluruh impor Indonesia. Sebaliknya, barang dari Indonesia mencakup 3,82% dari total impor Singapura.

Hal yang menarik, data ITC TradeMap menunjukkan bahwa meski bobot relatif impornya berbeda, pada tahun 2025 nilai impor Indonesia dari Singapura dan sebaliknya menunjukkan angka yang sama, yaitu US$19,2 miliar. Nilai yang sama itu memiliki arti berbeda dalam konteks total impor masing-masing: impor Indonesia dari Singapura merupakan bagian dari total impor Indonesia sebesar US$241,9 miliar, sedangkan impor Singapura dari Indonesia merupakan bagian dari total impornya yang mencapai US$503,7 miliar.

Dengan demikian, dari indikator porsi impor, ketergantungan Indonesia pada Singapura tampak lebih besar. Namun, ukuran ini hanya melihat sisi impor dan belum menggambarkan seluruh hubungan ekonomi kedua negara.

Derasnya Aliran Minyak dari Singapura

Meski Indonesia adalah negara produsen minyak mentah, ternyata tingkat ketergantungannya terhadap minyak impor dari Singapura justru relatif tinggi. Data ITC Trade Map periode 2021-2025 menunjukkan bahwa secara kumulatif, Singapura memasok 28,70% dari total impor migas Indonesia. Sementara, komoditas non-migas dari Singapura hanya 4,68% dari total impor nonmigas Indonesia.

Untuk kelompok migas, impor produk minyak olahan (HS 2710) dari Singapura mencapai US$47,23 miliar sepanjang 2021-2025. Nilai ini setara dengan 47,99% dari total impor Indonesia untuk HS 2710 pada periode yang sama. Pada 2025, porsinya tercatat 49,47%. Ketergantungan lebih tinggi tampak pada kokas minyak bumi dan residu sejenis (HS 2713). Singapura memasok 62,20% dari total impor Indonesia untuk komoditas tersebut selama periode pengamatan.

Impor gas, minyak bumi dan hidrokarbon berbentuk gas lainnya (HS 2711) dari Singapura turun dari US$57,1 juta pada 2021 menjadi hanya US$23 ribu pada 2025. Porsinya terhadap total impor Indonesia untuk kategori tersebut hanya 0,62% secara kumulatif.

Pada kelompok nonmigas, ketergantungan paling tinggi terlihat pada hidrokarbon siklik (HS 2902). Singapura memasok 56,49% dari total impor Indonesia untuk komoditas yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan berbagai produk kimia dan industri ini sepanjang 2021-2025. Sementara dari sisi nilai, mesin pemroses data otomatis (HS 8471) menjadi komoditas nonmigas dengan nilai impor terbesar dari Singapura, mencapai US$3,35 miliar selama lima tahun.

Gas jadi Impor Terbesar Singapura dari Indonesia

Dari arah sebaliknya, Indonesia memasok 3,49% dari total impor nonmigas Singapura dan 4,71% dari total impor migasnya. Nilai pasokan nonmigas lebih besar, tetapi data ITC TradeMap menunjukkan bahwa ketergantungan Singapura terhadap Indonesia lebih tinggi pada beberapa komoditas migas tertentu. 

Di kelompok nonmigas, nilai impor terbesar Singapura dari Indonesia adalah mesin dan peralatan listrik (HS 8543) yang mencapai US$5,91 miliar selama lima tahun. Porsi pasokan Indonesia untuk kategori ini naik dari 11,64% pada 2021 menjadi 49,78% pada 2025, dengan porsi kumulatif 43%. Komoditas nonmigas lain dengan nilai besar ialah telepon, termasuk telepon pintar (HS 8517), sebesar US$3,97 miliar dan emas (HS 7108) sebesar US$3,96 miliar.

Pada kelompok migas: gas, minyak bumi dan hidrokarbon berbentuk gas lainnya (HS 2711) menjadi komoditas utama, dengan nilai impor Singapura dari Indonesia sebesar US$11,5 miliar selama lima tahun. Kategori ini mencakup gas hidrokarbon seperti LPG yang dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun bahan baku industri. Indonesia memasok 36,94% dari total impor Singapura untuk kategori tersebut secara kumulatif. Namun, porsinya turun dari 48,90% pada 2021 menjadi 31,78% pada 2025.

Impor produk minyak hasil pengolahan (HS 2710) dari Indonesia mencapai US$7,96 miliar sepanjang 2021-2025. Produk dalam kelompok ini dapat mencakup bahan bakar seperti bensin, solar, dan avtur, serta produk minyak lain. Meski nilai impornya cukup besar, pasokan Indonesia hanya mencakup 3,07% dari total impor Singapura untuk kategori ini secara kumulatif. Adapun impor minyak mentah (HS 2709) dari Indonesia mencapai US$725,3 juta selama lima tahun, atau 0,53% dari total impor Singapura untuk kategori tersebut.

Singapura Dominasi Sumber Pemodal Asing di Indonesia

Singapura adalah sumber Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar di Indonesia. Pada 2021-2025, realisasi investasi dari city-state tersebut mencapai Rp1.134,6 triliun, atau 31,06% dari total PMA selama lima tahun. 

Data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan sejak 2021 nilai investasi dari Singapura cenderung naik. Meski sedikit turun pada 2025, namun nilainya mencapai 30,92% dari total PMA. Selain itu, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa PMA dari Singapura selama lima tahun terakhir berkontribusi terhadap penciptaan lebih dari 820.000 lapangan kerja.7

7. Humas Ekon, “Pertemuan SOM Indonesia- Singapura Dorong Penguatan Kemitraan Di Sektor Industri, Transisi Hijau, dan Agriteknologi”, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 22 Mei 2026.

Kontribusi Singapura terhadap PMA di Indonesia jauh melampaui negara-negara lain. Investor terdekat adalah Hongkong (14,68%), disusul Tiongkok (14,12%). Kalau digabung, investasi dari tiga negara itu mencakup 59,9% dari PMA yang tercatat. Tetangga Indonesia lainnya, Malaysia, menyumbang 7,20% dari total PMA selama periode tersebut, dengan nilai investasi Rp263,1 triliun. Jadi, nilai investasi tercatat dari Singapura sekitar 4,3 kali nilai dari Malaysia.

Namun, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menjelaskan bahwa investasi dicatat berdasarkan negara atau yurisdiksi asal modal masuk ke Indonesia. Oleh karenanya, belum tentu seluruh modal itu berasal dari perusahaan yang didirikan di negara tersebut.8

8. Nik Nurfaqih Nik Wil, “Malaysia is Fifth Largest Source of Foreign Investment in Indonesia in 2Q 2026”, Bernama, 16 Juli 2026.

Singapura adalah pusat keuangan dan investasi regional yang digunakan banyak perusahaan asing untuk menyalurkan modalnya ke Indonesia. Jadi, dominasi Singapura menunjukkan perannya sebagai jalur penting investasi ke Indonesia, tetapi tidak serta-merta berarti seluruh modal tersebut dimiliki investor Singapura.

Industri Logam jadi Tujuan Utama Investasi Singapura

Ke mana aliran dana investasi dari Singapura itu di Indonesia? Pada 2021-2025, sebagian besar mengalir ke industri logam dasar dan barang logam. Nilainya mencapai Rp286,1 triliun atau 25,22% dari total investasi Singapura selama periode tersebut. Posisi sektor ini menguat pada 2025, ketika investasinya naik menjadi Rp81,9 triliun dari Rp59,6 triliun pada 2024. Kontribusinya pun meningkat dari 19,80% menjadi 29,39%.

Tujuan investasi besar berikutnya adalah transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, dengan nilai kumulatif Rp153,5 triliun atau 13,53%. Namun, alirannya turun dari Rp48,6 triliun pada 2024 menjadi Rp30,8 triliun pada 2025.

Selanjutnya ada sektor jasa lainnya dan industri makanan, yang masing-masing menerima Rp94,7 triliun dan Rp94,5 triliun. Industri kertas dan percetakan juga cukup menonjol, terutama pada 2023-2024, sebelum investasinya turun menjadi  Rp10,9 triliun pada 2025.

Secara keseluruhan, realisasi investasi dari Singapura turun dari Rp301,1 triliun pada 2024 menjadi Rp278,5 triliun pada 2025, atau berkurang 7,51%. Terlihat bahwa ada kenaikan investasi pada industri logam dan jasa lainnya, tapi terjadi penurunan pada transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi serta industri makanan dan kertas. Dengan demikian, meski investasi bergeser antar-sektor, industri logam tetap menjadi tujuan utama uang dari Singapura.

Tetangga Dekat, Kepentingan Saling Terikat

Pada akhirnya, Indonesia dan Singapura akan terus saling membutuhkan. Memang, dari sisi impor secara umum, saat ini Indonesia tampak lebih bergantung pada Singapura. Namun, Singapura juga mengandalkan pasokan Indonesia untuk sejumlah komoditas, sementara investasi Singapura punya peran besar di Indonesia.

Hubungan antara kedua negara ini memang tidak selalu seimbang, tetapi kepentingan keduanya jelas saling terhubung. Karena itu, setiap masalah sebaiknya diselesaikan dengan tenang dan dewasa. 

Kepentingan dalam negeri, seperti pasokan gas, tentu saja amat perlu dijaga, tetapi pernyataan keras dan emosional dari pejabat publik justru berisiko memperkeruh keadaan. Pemerintah perlu mengutamakan komunikasi, menghormati kesepakatan, dan mencari jalan keluar yang menguntungkan kedua pihak.

Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menyampaikan bahwa Indonesia menjalankan good neighbor policy, alias kebijakan tetangga yang baik. Prinsip itu semestinya tampak juga saat hubungan dengan negara tetangga diuji. Pemerintah harus tegas dalam membela kepentingan nasional, tetapi tetap bijak dalam menyelesaikan perbedaan. Pada akhirnya, seperti diisyaratkan oleh data yang dipaparkan dalam review ini, menjaga hubungan baik dengan Singapura adalah bagian dari menjaga kepentingan Indonesia sendiri.

Related Articles

blog image

Harga Minyak Tinggi, Defisit APBN 2026 Berisiko Lampaui Batas 3 Persen

Harga minyak US$88 per barel hingga Desember berpotensi membuat defisit APBN 2026 mencapai Rp782,2 triliun atau 3,04% terhadap PDB.

Selengkapnya
blog image

Prabowo Terapkan Ekspor Satu Pintu, NEXT Indonesia Center Ingatkan Mandat DSI

Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diingatkan agar fokus menekan kebocoran ekspor SDA melalui integrasi data dan pengawasan perdagangan.

Selengkapnya
blog image

Kalkulasi Tekanan Harga Minyak terhadap APBN 2026

Harga minyak dunia bertahan tinggi berpotensi dorong defisit APBN 2026 mencapai 3,04% terhadap PDB, melampaui batas 3% yang ditetapkan undang-undang.

Selengkapnya