Tarif Trump Pukulan Telak 4 Komoditas Ekspor Indonesia
06 April, 2025
Selama lima tahun terakhir (2020-2024), ada empat komoditas ekspor Indonesia, yang lebih dari separuhnya diserap oleh pasar Amerika.
Keterangan foto: Ilustrasi ekspor impor Amerika Serikat
NEXT Indonesia - Industri lokal yang paling dirugikan oleh kebijakan kenaikan tarif, tentu saja, yang mayoritas hasil produksinya diekspor ke negara Amerika Serikat (AS). Hasil analisis NEXT Indonesia menemukan bahwa selama lima tahun terakhir (2020-2024), ada empat komoditas ekspor Indonesia, yang lebih dari separuhnya diserap oleh pasar Amerika.
MOST POPULAR
Dua di antara komoditas tersebut adalah tekstil dan produk tekstil yang merupakan industri padat karya penyerap tenaga kerja besar.
Rinciannya: pakaian dan aksesorinya - rajutan (HS 61), pakaian dan aksesorinya - bukan rajutan (HS 62), mebel, furnitur, dan perabotan (HS 94), serta olahan dari daging, ikan, krustasesea (kelompok udang-udangan) dan moluska atau hewan bertubuh lunak semacam siput dan cumi-cumi yang tercatat dalam HS16.
Empat sektor tersebut ditemukan, setelah NEXT Indonesia menelusuri 10 komoditas utama yang diekspor ke pasar Amerika Serikat. Selanjutnya, nilai ekspor komoditas-komoditas tersebut dibandingkan dengan total ekspor ke seluruh dunia. Hasilnya, empat sektor yang sangat mengandalkan pasar AS.
• Industri pakaian dan aksesorinya (rajutan). Sekitar 60,5 persen dari total ekspor produk ini ke dunia pada periode 2020-2024, diserap pasar Amerika. Nilainya mencapai US$12,2 miliar.
Kenaikan tarif oleh Amerika Serikat tentu saja bakal mengancam keberlangsungan sektor tekstil dan produk tekstil yang saat ini tengah dalam kondisi tertekan itu. Dalam dua tahun terakhir saja, menurut data Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), 30 pabrik yang bergerak di sektor TPT telah tutup. Terbesar adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10.665 karyawan.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan jumlah pekerja di industri tekstil pada 2024 tercatat 957.122 orang, berkurang dari
1.248.080 pada tahun 2015.
• Industri pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan). Sekitar 50,5 persen dari total ekspor produk ini ke dunia pada periode 2020-2024, diserap pasar Amerika. Nilainya mencapai US$10,7 miliar.
Jumlah tenaga kerja yang bergelut di bidang pakaian jadi ini mencapai 2,9 juta orang pada tahun 2024 menurut data Kementerian Perindustrian.
• Industri olahan dari daging, ikan, krustasea, dan moluska. Sekitar 60,2 persen dari total ekspor produk ini ke dunia pada periode 2020-2024, diserap pasar Amerika. Nilainya mencapai US$4,3 miliar.
Industri ini diperkirakan menyerap sekitar 12 juta tenaga kerja di Indonesia.
• Industri manufaktur mebel, furnitur, dan perabotan. Sekitar 58,2 persen dari total ekspor produk ini ke dunia pada periode 2020-2024, diserap pasar Amerika. Nilainya mencapai US$7,5 miliar.
Industri ini, menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menyerap tenaga kerja sekitar 143 ribu orang dengan jumlah perusahaan yang tergabung sebanyak 1.114 ribu unit usaha.
Risiko Gangguan Terhadap PDB
Pendapatan dari ekspor berkontribusi besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Pada tahun 2024 misalnya, total nilai ekspor barang Indonesia mencapai Rp4.298 triliun atau 19,4 persen terhadap PDB.
Sementara nilai ekspor ke Amerika Serikat pada tahun tersebut, berkontribusi sekitar US$26,3 miliar setara Rp421 triliun dengan kurs Rp16 ribu per dolar AS atau 9,9 persen terhadap total ekspor Indonesia ke seluruh dunia. Tentu saja terlalu riskan untuk diabaikan.
Oleh karena itu, gangguan terhadap ekspor produk Indonesia ke Amerika akan berpengaruh negatif terhadap PDB Indonesia. Dalam hitungan NEXT Indonesia, tarif baru yang diberlakukan AS berpotensi menggoyang PDB sekitar 1,9 persen.
Tak heran jika pemerintahan Prabowo Subianto dengan cepat menanggapi kebijakan baru Presiden Donald Trump ini. Pada Jumat (4/4/2025), pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, merilis sembilan poin pernyataan sikap terkait tarif resiprokal sebesar 32 persen tersebut.
Pada intinya, pemerintah akan segera mengambil langkah strategis untuk memitigasi dampak kebijakan tarif Amerika terhadap perekonomian Indonesia. Selain itu, pemerintah juga akan mengetuk pintu Gedung Putih untuk bernegosiasi langsung dengan pemerintah AS.
Indonesia juga akan berkomunikasi dengan negara-negara ASEAN yang juga terdampak untuk mengambil langkah bersama menghadapi situasi ini.
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, dalam tulisannya di Kompas.id (3/4/2025), menyatakan bahwa kebijakan AS ini memang tidak jelas logika ekonominya dan melanggar banyak peraturan. Akan tetapi, mantan menteri perdagangan ini menyarankan agar pemerintah tidak melakukan retaliasi atau pembalasan di bidang perdagangan, “tetapi perlu melakukan pendekatan dan menggunakan mekanisme yang ada untuk membangun dialog, kerja sama, dan kemitraan dengan AS.”