Perilaku Digital Kelas Menengah
03 Juli, 2026
Internet kian merata, tetapi manfaat ekonomi digital masih dinikmati kelas atas. E-commerce Indonesia masih didominasi pembeli, bukan pelaku usaha.
Keterangan foto: Ilustrasi orang sedang menggunakan tablet.
Ringkasan
• Akses internet meluas, tetapi manfaat ekonomi belum merata
Sebanyak 209,4 juta penduduk atau 74,34% populasi telah menggunakan internet pada 2025. Namun, pemanfaatannya berbeda menurut kelas ekonomi. Kelompok bawah lebih banyak menggunakan internet untuk hiburan dan informasi, sedangkan kelas menengah dan atas memanfaatkannya untuk transaksi keuangan, e-commerce, hingga menjalankan usaha.
• E-commerce tumbuh pesat, tetapi lebih didorong konsumsi
Jumlah pembeli daring meningkat dari 14,9 juta orang pada 2019 menjadi 54 juta orang pada 2025. Sebaliknya, jumlah penjual daring hanya naik dari 5,9 juta menjadi 9,7 juta orang. Hal ini menunjukkan ekonomi digital Indonesia masih lebih kuat sebagai pasar konsumsi dibandingkan sebagai ruang lahirnya pelaku usaha baru.
• Kelompok menuju kelas menengah menjadi penentu ekonomi digital
Kelompok menuju kelas menengah menjadi basis terbesar e-commerce dengan 108,6 juta pengguna internet serta 29,9 juta pengguna yang bertransaksi digital. NEXT Indonesia Center menilai peningkatan literasi digital, akses pembiayaan, dan dukungan ekosistem usaha diperlukan agar lebih banyak masyarakat, terutama kelompok bawah, naik kelas dari konsumen menjadi pelaku ekonomi digital.
MOST POPULAR
NEXT Indonesia Center - Transformasi digital Indonesia sudah bergerak jauh dari sekadar urusan akses internet. Koneksi dengan dunia maya itu telah menjadi bagian dari ekonomi, layanan publik, pendidikan, perdagangan, hiburan, dan aktivitas sehari-hari masyarakat. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, digitalisasi juga ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional, bukan lagi isu sektoral yang berdiri sendiri.
Skalanya pun tidak kecil. Nilai ekonomi digital Indonesia, seperti disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid, telah mencapai sekitar US$100 miliar dan menyumbang hampir sepertiga ekonomi digital di Asia Tenggara. Dengan nilai sebesar itu, ekonomi digital tidak lagi bisa dilihat sebagai pelengkap. Ia sudah menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru yang perlu dikelola secara lebih terarah.
Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar ekonomi digital Indonesia tumbuh, melainkan siapa yang paling banyak menikmati manfaatnya. Apakah internet benar-benar membuka peluang ekonomi bagi semua kelompok masyarakat, atau justru manfaat produktifnya lebih banyak dinikmati oleh kelompok yang sejak awal sudah lebih mapan?
Pertanyaan ini penting karena perluasan akses tidak selalu sama dengan pemerataan manfaat. Seseorang bisa saja sudah menggunakan internet, tetapi pemanfaatannya terbatas untuk hiburan, mencari informasi, atau media sosial. Sementara itu, kelompok lain bisa menggunakan internet untuk bertransaksi, mengakses layanan keuangan, membuat konten, mengelola usaha, dan menjual barang atau jasa.
Pada review kali ini NEXT Indonesia Center membahas soal e-commerce berdasarkan kelas ekonomi. Ini menjadi penting, mengingat e-commerce bukan sekadar soal belanja daring. Ia juga bisa menjadi kanal usaha, ruang promosi, sarana memperluas pasar, dan sumber pendapatan. Karena itu, perlu untuk mengetahui sejauh mana partisipasi masyarakat Indonesia dalam perdagangan digital ini. Apakah mereka hanya menjadi konsumen, atau juga mampu menjadi pelaku usaha.
Pertumbuhan Tinggi, Kontribusi Melemah
Pentingnya sektor digital (informasi dan komunikasi) bagi perekonomian Indonesia, setidaknya dapat ditengok pada kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, sektor ini menjadi salah satu yang paling konsisten tumbuh di atas rata-rata perekonomian nasional.
Sepanjang 2016-2025 misalnya, ketika ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5%, sektor informasi dan komunikasi mampu tumbuh lebih cepat, bahkan sempat mencapai dua digit. Dalam satu dekade tersebut, puncaknya justru terjadi saat pandemi Covid-19, yakni pada 2020 yang mencapai pertumbuhan 10,61%.
Saat pandemi tersebut, PDB nasional terkontraksi 2,07% akibat pembatasan mobilitas, pelemahan konsumsi, dan tekanan pada banyak sektor usaha. Namun, pada tahun yang sama, sektor informasi dan komunikasi justru tumbuh 10,61%, menjadi salah satu penopang penting ekonomi nasional. Kenaikan kebutuhan bekerja dari rumah (work from home, WFH) pembelajaran jarak jauh, transaksi digital, hiburan daring, serta komunikasi berbasis internet membuat sektor ini tetap ekspansif ketika sebagian besar sektor lain mengalami tekanan.
Setelah pandemi, pertumbuhannya tetap solid. Meski tidak lagi setinggi 2020 dan masa sebelum pandemi, angka pertumbuhannya tetap jauh di atas pertumbuhan PDB nasional. Dengan demikian, sektor informasi dan komunikasi masih menjadi salah satu sektor dengan daya dorong pertumbuhan yang lebih kuat dibandingkan ekonomi secara keseluruhan.
Kinerja yang tinggi itu ikut mendorong kenaikan nilai tambah sektor informasi dan komunikasi. Berdasarkan harga berlaku, nilai PDB sektor ini meningkat dari Rp449 triliun pada 2016 menjadi Rp1.049 triliun pada 2025. Sementara berdasarkan harga konstan, nilainya naik dari Rp459 triliun menjadi Rp941 triliun pada periode yang sama. Artinya, kenaikan sektor ini bukan hanya dipengaruhi oleh perubahan harga, tetapi juga mencerminkan pertumbuhan riil aktivitas ekonomi di bidang informasi dan komunikasi.
Pertumbuhan riil sektor informasi dan komunikasi dalam jangka panjang juga jauh lebih cepat dibandingkan ekonomi nasional. Berdasarkan harga konstan, nilai PDB sektor informasi dan komunikasi meningkat sekitar 3,7 kali lipat selama 2010-2025, sedangkan PDB nasional hanya tumbuh sekitar dua kali lipat.
Meski demikian, kontribusi sektor ini terhadap PDB masih relatif terbatas, bahkan cenderung melemah. Pada periode 2016-2025 angkanya bergerak antara 3,52%-4,34%. Bisa dikatakan bahwa kontribusinya terhadap PDB masih belum sebesar potensi ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan.
Dengan nilai ekonomi digital yang terus membesar dan jumlah pengguna internet yang makin luas, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan sektor ini tidak hanya tercermin dalam kenaikan nilai tambah, tetapi juga dalam perluasan manfaat ekonomi bagi masyarakat lintas kelas ekonomi dan wilayah.
Beda Kelas Ekonomi, Beda Pula Perilaku Digital
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menunjukkan bahwa penggunaan internet telah menjangkau seluruh kelas ekonomi di Indonesia. Dari total 281,6 juta penduduk, sebanyak 209,4 juta orang telah menggunakan internet, atau setara 74,34% dari populasi. Pada saat yang sama, jumlah penduduk yang memiliki telepon seluler mencapai 185,0 juta orang atau 65,70% dari total penduduk.
Jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya, kenaikan ini sangat besar. Pada 2015, jumlah pengguna internet baru sekitar 51,1 juta orang atau 20,03% dari populasi. Artinya, dalam sepuluh tahun, pengguna internet bertambah lebih dari 158 juta orang. Internet yang dulu hanya digunakan sebagian masyarakat kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mayoritas penduduk.
Berikutnya, soal penggunaan internet oleh setiap kelas ekonomi di Indonesia. Kelas ekonomi ini ditentukan sesuai pengklasifikasian oleh Bank Dunia (World Bank), dengan standar garis kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS). Per Maret 2025, angka garis kemiskinan adalah Rp609.160 per kapita per bulan. Nilai tersebut adalah batas pengeluaran minimum yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang masuk kategori miskin atau tidak.
Dengan demikian, kelompok ekonomi masyarakat Indonesia adalah:
1. Miskin (poor): Penduduk dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan atau kurang dari Rp609.160/kapita/bulan.
2. Rentan Miskin (vulnarable): Penduduk dengan pengeluaran pada rentang Rp609.160 sampai kurang dari Rp913.740/kapita/bulan.
3. Menuju Kelas Menengah (aspiring middle class): Penduduk dengan pengeluaran pada rentang Rp913.740 sampai kurang dari Rp2.132.060/kapita/bulan.
4. Kelas Menengah (middle class): Penduduk dengan pengeluaran Rp2.132.060 sampai kurang dari Rp10.355.720/kapita/bulan.
5. Kelas Atas (upper class): Penduduk dengan pengeluaran Rp10.355.720/ kapita/bulan atau lebih.
Pembacaan data berdasarkan kelas ekonomi menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Pada kelompok miskin, pengguna internet mencapai 13,4 juta orang atau 56,07% dari total penduduk miskin. Pada kelompok rentan miskin, porsinya naik menjadi 67,25%. Pada kelompok menuju kelas menengah, penetrasi internet mencapai 76,49%.
Di kelas menengah, tingkat penggunaan internet sudah mencapai 86,96%. Sementara pada kelas atas, porsinya mencapai 94,78%. Pola yang sama terlihat pada kepemilikan ponsel. Pada kelompok miskin, hanya 44,17% penduduk yang memiliki ponsel. Pada kelas atas, porsinya mencapai 91,82%.
Data tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan digital Indonesia tidak lagi bisa dibaca secara sederhana sebagai terhubung atau tidak terhubung. Sebagian besar penduduk di semua kelas ekonomi memang sudah menggunakan internet. Namun, kualitas aksesnya bisa jadi tak sama. Jenis perangkat, kemampuan membeli paket data, kualitas jaringan, dan literasi digital tetap membedakan cara masyarakat memanfaatkan internet.
Kelas Atas Memilih Medsos, Kelas Menengah Bawah Masih Cari Hiburan
Jika dilihat dari tujuan penggunaan, internet di Indonesia masih sangat dominan digunakan untuk hiburan, mencari informasi, dan media sosial. Secara nasional, sebanyak 184,0 juta pengguna internet memanfaatkannya untuk hiburan, atau 87,87% dari total pengguna internet. Berikutnya, 163,7 juta orang menggunakan internet untuk mendapat informasi, dan 162,09 juta orang menggunakannya untuk media sosial atau jejaring sosial.
Tiga aktivitas itu menjadi pola utama pada hampir semua kelas ekonomi. Kelompok miskin, misalnya, menggunakan internet paling banyak untuk hiburan. Jumlahnya mencapai 11,3 juta orang atau 84,65% dari pengguna internet miskin. Baru kemudian digunakan untuk mendapat informasi dan media sosial. Pola serupa juga terlihat pada kelompok rentan miskin.
Tampak jelas bahwa bagi kelompok bawah, internet terutama masih berfungsi sebagai ruang konsumsi informasi, komunikasi, dan hiburan. Ini bukan hal yang keliru. Namun, jika berhenti di sana, internet belum sepenuhnya menjadi alat peningkatan produktivitas dan pendapatan.
Perbedaan mulai terlihat ketika masuk ke aktivitas digital yang lebih transaksional dan produktif. Pada kelompok menuju kelas menengah, sebanyak 28,0 juta pengguna internet menggunakan internet untuk pembelian barang dan jasa. Selain itu, mulai banyak pula yang memakai internet untuk e-banking, pembuatan konten digital, pembelajaran online, dan penjualan barang atau jasa.
Pada kelas menengah, pemanfaatan ekonomi digital terlihat lebih kuat. Dari 40,6 juta pengguna internet kelas menengah, 39,62% menggunakan internet untuk pembelian barang dan jasa. Sebanyak 32,91% menggunakan fasilitas finansial, sementara 28,08% menggunakan e-mail. Penggunaan internet untuk penjualan barang dan jasa juga mencapai 8,09%.
Aktivitas digital yang lebih kompleks makin dominan pada warga kelas atas. Sebanyak 61,81% pengguna internet kelas atas memakai fasilitas finansial. Kemudian, 54,49% menggunakan internet untuk berbelanja daring, dan 11,64% menggunakannya untuk berjualan barang atau jasa.
Pola tersebut memperlihatkan adanya jenjang pemanfaatan internet berdasarkan kelas ekonomi. Hiburan dan media sosial relatif merata, tetapi aktivitas bernilai ekonomi meningkat seiring naiknya kelas ekonomi. Dengan kata lain, internet memang sudah menjangkau banyak orang, tetapi belum semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk mengubah internet menjadi peluang ekonomi.
Berkerumun Sebagai Pembeli di E-Commerce
Perkembangan e-commerce Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang cukup pesat. Namun, pertumbuhan itu terutama terlihat dari sisi pembelian.
Pada 2019, jumlah penduduk yang menggunakan internet untuk membeli barang atau jasa tercatat sekitar 14,9 juta orang. Pada 2025, jumlahnya mencapai 54,0 juta orang. Dalam enam tahun, pembeli daring bertambah sekitar 39,1 juta orang.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa belanja daring telah bergerak dari aktivitas yang relatif terbatas menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat yang lebih luas. Pandemi Covid-19 ikut mempercepat perubahan tersebut. Ketika mobilitas masyarakat dibatasi, aktivitas belanja, pembayaran, komunikasi, dan layanan berbasis internet meningkat cepat.
Namun, perkembangan dari sisi penjualan daring tidak secepat sisi pembelian. Pada 2019, jumlah penjual daring tercatat sekitar 5,9 juta orang. Pada 2025, jumlahnya menjadi 9,7 juta orang. Kenaikannya tetap penting, tetapi jauh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pembeli daring. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir, jumlah penjual daring cenderung mendatar di kisaran 9 juta orang.
Perbedaan laju ini menunjukkan karakter utama e-commerce Indonesia. Ekonomi digital tumbuh kuat sebagai pasar konsumsi, tetapi belum cukup kuat memperluas basis produsen. Warga makin mudah membeli barang melalui platform digital, tetapi belum sebanyak itu yang mampu menjadikan platform digital sebagai kanal usaha.
Kondisi ini terlihat lebih jelas ketika data dibaca berdasarkan kelas ekonomi. Secara nasional, terdapat 57,5 juta pengguna internet yang menggunakan internet untuk menjual dan/atau membeli barang dan jasa, atau 27,46% dari total pengguna internet. Namun, jumlah penjual daring hanya 9,7 juta orang. Artinya, aktivitas e-commerce masih sangat didominasi sisi pembelian.
Pada kelompok miskin, hanya 11,43% pengguna internet yang menggunakan internet untuk membeli barang atau jasa. Pada kelompok rentan miskin, porsinya naik menjadi 16,96%. Pada kelompok menuju kelas menengah, porsinya mencapai 25,82%. Porsi tersebut meningkat menjadi 39,62% pada kelas menengah dan 54,49% pada kelas atas.
Aktivitas penjualan daring menunjukkan kesenjangan yang lebih lebar. Pada kelompok miskin, hanya 2,07% pengguna internet yang berjualan daring. Pada kelompok rentan miskin, porsinya hanya 2,72%. Pada kelompok menuju kelas menengah, angkanya naik menjadi 4,34%. Sementara itu, porsi penjual daring di kelas menengah mencapai 8,09% dan di kelas atas mencapai 11,64%.
Dengan demikian, semakin tinggi kelas ekonomi seseorang, semakin besar peluangnya terlibat dalam e-commerce, baik sebagai pembeli maupun penjual. Namun, perbedaan paling penting terlihat pada kemampuan menjadikan internet sebagai kanal usaha. Di sinilah kelas bawah dan menengah bawah masih tertinggal.
Kelompok Menuju Kelas Menengah Menjadi Kunci
Dari sisi jumlah, kelompok menuju kelas menengah menjadi kelompok terpenting dalam ekosistem e-commerce Indonesia. Kelompok ini mencakup 142,0 juta penduduk, dengan 108,6 juta pengguna internet. Dari jumlah tersebut, 29,9 juta orang menggunakan internet untuk menjual dan/atau membeli barang dan jasa.
Kelompok ini juga mencatat 28,0 juta pembeli daring dan 4,7 juta penjual daring. Angka ini menjadikan kelompok menuju kelas menengah sebagai basis terbesar e-commerce Indonesia dari sisi jumlah orang. Karena populasinya sangat besar, perubahan perilaku digital kelompok ini akan sangat menentukan arah ekonomi digital nasional.
Namun, secara proporsi, kelas menengah dan kelas atas tetap menjadi kelompok yang paling intensif menggunakan e-commerce. Sekitar empat dari 10 pengguna internet kelas menengah telah menggunakan internet untuk menjual dan/atau membeli barang dan jasa. Pada kelas atas, porsinya bahkan melebihi separuh pengguna internet di kelompok tersebut.
Sebaliknya, kelompok miskin dan rentan miskin masih relatif tertinggal, baik sebagai pembeli maupun penjual. Padahal, dua kelompok ini mencakup sekitar 91,8 juta penduduk, dengan 59,1 juta pengguna internet. Jumlah tersebut sangat besar. Jika pemanfaatan produktif internet di dua kelompok ini bisa diperkuat, dampaknya terhadap inklusi ekonomi digital akan signifikan.
Tantangannya bukan hanya membuat kelompok bawah bisa membeli barang secara daring. Yang lebih penting adalah membantu mereka masuk ke rantai nilai digital sebagai pelaku usaha. Tanpa itu, e-commerce hanya akan memperluas akses konsumsi, tetapi belum cukup kuat mendorong peningkatan pendapatan.
Mendorong Naik Kelas Digital
Data-data yang dipaparkan menunjukkan bahwa agenda ekonomi digital Indonesia tidak cukup hanya memperluas akses internet. Akses tetap penting, tetapi tantangan berikutnya adalah memperdalam pemanfaatan. Internet harus lebih banyak menjadi alat untuk bekerja, berusaha, belajar, bertransaksi, dan menciptakan nilai tambah.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, platform digital, lembaga keuangan, dan pelaku usaha perlu memperkuat ekosistem yang memungkinkan kelompok bawah dan menengah bawah naik kelas secara digital. Literasi digital harus diarahkan bukan hanya pada keamanan menggunakan internet, tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan platform digital untuk kegiatan ekonomi.
Ekonomi digital Indonesia memang tumbuh besar. Namun, ukuran keberhasilannya tidak bisa hanya dilihat dari nilai transaksi. Ukuran yang tidak kalah penting adalah berapa banyak masyarakat yang mampu memperoleh penghasilan, memperluas pasar, dan memperbaiki kesejahteraan melalui internet.
Tanpa desain kebijakan yang lebih inklusif, ekonomi digital berisiko tumbuh besar secara nilai, tetapi manfaat produktifnya tetap terkonsentrasi pada kelompok yang sudah lebih siap. Sebaliknya, jika akses, literasi, perangkat, pembayaran, dan ekosistem usaha diperkuat secara merata, e-commerce dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.