Kredit Perbankan Bergeser ke Sektor Produktif, Konstruksi Jadi Primadona Pembiayaan
28 Juni, 2026
Bank makin agresif menyalurkan kredit ke sektor produktif. Konstruksi, energi, dan real estat menjadi sektor favorit pembiayaan pada 2026.
Keterangan foto: Ilustrasi crane mengangkut tumpukan uang.
DOWNLOADS
Press Release - Kredit Perbankan Bergeser ke Sektor Produktif, Konstruksi Jadi Primadona Pembiayaan
Ringkasan
• Kredit bergeser ke sektor produktif
Pertumbuhan kredit investasi mencapai 19,48% (yoy) pada April 2026, jauh melampaui kredit modal kerja (6,04%) dan kredit konsumsi (6,13%). Hal ini menunjukkan bank semakin fokus membiayai ekspansi usaha dan pembangunan aset produktif.
• Lima sektor menjadi favorit perbankan
Berdasarkan pertumbuhan kredit, lima sektor dengan ekspansi tertinggi adalah konstruksi (45,54%), pengadaan listrik dan gas (23,27%), aktivitas profesional dan perusahaan (15,15%), real estat (14,12%), serta kesehatan dan aktivitas sosial (12,92%).
• Ekspansi kredit tetap dibarengi pengelolaan risiko
Rasio NPL perbankan masih terjaga di level 2,17%. Sektor konstruksi mencatat lonjakan kredit disertai penurunan NPL menjadi 1,99%, sedangkan sektor listrik dan gas memiliki risiko terendah dengan NPL hanya 0,22%, menunjukkan pembiayaan tetap selektif dan berkualitas.
MOST POPULAR
NEXT Indonesia Center - Arah penyaluran kredit perbankan Indonesia mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya ekspansi kredit lebih banyak ditopang pembiayaan konsumsi, kini bank semakin agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih baik dengan risiko yang tetap terkendali.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, mengatakan perubahan arah penyaluran kredit menunjukkan bahwa industri perbankan mulai lebih selektif dalam menentukan sektor yang layak memperoleh pembiayaan.
"Ini sinyal positif, saat ini bank tidak hanya melihat besarnya kebutuhan pembiayaan, tetapi juga mempertimbangkan prospek usaha, kualitas risiko, dan potensi sektor tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pergeseran ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan mulai lebih banyak mengalir ke sektor-sektor yang menciptakan nilai tambah," ujar Christiantoko di Jakarta, Minggu (28/06/2026).
Dalam laporan NEXT Indonesia Center terbaru yang bertajuk “Sektor Usaha Favorit Perbankan” menunjukkan bahwa outstanding kredit bank umum terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Per April 2026, total kredit bank umum mencapai Rp8.755 triliun, sedangkan kredit yang mengalir ke sektor ekonomi mencapai Rp6.454 triliun, sementara kredit bukan sektor ekonomi (konsumsi rumah tangga) mencapai Rp2.301 triliun. Kenaikan tersebut menandakan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan kuat di tengah dinamika ekonomi nasional.
Perubahan paling mencolok terlihat pada komposisi penggunaan kredit. Sepanjang periode 2024-2026, kredit investasi menjadi motor utama pertumbuhan. Per April 2026, kredit investasi tumbuh 19,48% secara tahunan (year-on-year, yoy), jauh melampaui pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 6,04% yoy maupun kredit konsumsi sebesar 6,13% yoy. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya pembiayaan yang diarahkan untuk pembangunan aset produktif, ekspansi usaha, dan investasi jangka panjang.
Menurut Christiantoko, dominasi kredit investasi menjadi indikator penting bahwa dunia usaha mulai kembali melakukan ekspansi.
"Kredit investasi biasanya mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis beberapa tahun ke depan. Ketika jenis kredit ini tumbuh paling cepat, berarti ada keyakinan bahwa aktivitas ekonomi masih memiliki ruang untuk berkembang," pungkasnya.
Di sisi lain, kualitas kredit perbankan secara umum masih terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang berada di level 2,17% pada April 2026. Namun, jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan kredit, profil risikonya mulai menunjukkan perbedaan. Kredit investasi menjadi segmen dengan kualitas kredit paling baik dengan NPL sebesar 1,34% pada April 2026.
Sebaliknya, kredit modal kerja tetap menjadi segmen dengan risiko paling besar dengan NPL mencapai 2,64% pada April 2026. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pembiayaan operasional usaha masih rentan terhadap perubahan kondisi bisnis. Begitu pun dengan NPL kredit konsumsi yang mencapai 2,40% pada April 2026. Artinya, tak sedikit rumah tangga yang kemampuan bayarnya melemah. Beban cicilan, tekanan daya beli, dan ketidakpastian pendapatan dapat menjadi faktor yang mengganggu kualitas kredit konsumsi.
5 Sektor Usaha dengan Pertumbuhan Kredit Tertinggi
Berdasarkan analisis NEXT Indonesia Center, terdapat lima sektor usaha yang saat ini menjadi tujuan utama ekspansi kredit perbankan, yaitu konstruksi, pengadaan listrik dan gas, aktivitas profesional dan perusahaan, real estat, serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial. Penilaian tersebut didasarkan pada pertumbuhan kredit tertinggi, bukan pada besarnya nilai outstanding kredit.
Sektor konstruksi menjadi sektor dengan pertumbuhan kredit paling tinggi. Per April 2026, kredit ke sektor ini melonjak 45,54% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menariknya, lonjakan kredit tersebut diikuti penurunan NPL dari 2,64% pada April 2025 menjadi 1,99% pada April 2026.
"Pertumbuhan kredit yang tinggi akan jauh lebih berkualitas apabila diikuti penurunan risiko kredit. Itu berarti bank tidak hanya mengejar ekspansi, tetapi tetap menjaga prinsip kehati-hatian,” ungkap Christiantoko.
Sektor pengadaan listrik dan gas menempati posisi kedua dengan pertumbuhan kredit 23,27% yoy pada april 2026. Meski pembiayaannya meningkat pesat, sektor ini justru memiliki risiko kredit paling rendah dengan NPL hanya 0,22% yoy. Karakter bisnis yang berbasis kontrak jangka panjang, kebutuhan yang stabil, serta perannya sebagai infrastruktur ekonomi membuat sektor ini semakin menarik bagi industri perbankan.
Posisi ketiga ditempati sektor aktivitas profesional dan perusahaan dengan pertumbuhan kredit 15,15% pada April 2026. Di posisi berikutnya terdapat sektor real estat yang tumbuh 14,12%, disusul sektor aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial sebesar 12,92%.
Memperkuat Fondasi Pertumbuhan Ekonomi
Kajian NEXT Indonesia Center juga menunjukkan bahwa sektor favorit perbankan tidak selalu identik dengan sektor yang menerima kredit terbesar. Sebagai contoh, industri pengolahan masih menjadi sektor dengan outstanding kredit terbesar secara nominal. Namun, pertumbuhan kreditnya jauh lebih rendah dibandingkan sektor-sektor yang saat ini menjadi tujuan utama ekspansi pembiayaan.
Karena itu, untuk menilai apakah arah pembiayaan perbankan benar-benar mendukung perekonomian, pertumbuhan kredit perlu dibaca bersama indikator sektor riil, seperti investasi dan penyerapan tenaga kerja.
Dari sisi tenaga kerja misalnya, sektor konstruksi menjadi penyerap terbesar di antara lima sektor favorit perbankan. Jumlah pekerjanya mencapai 8,97 juta orang pada Februari 2026 atau tumbuh 3,10% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit di sektor konstruksi turut memberikan dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, sektor real estat menunjukkan kombinasi kinerja yang paling lengkap. Selain mencatat pertumbuhan kredit sebesar 14,12% pada April 2026, realisasi investasinya juga meningkat 27,91% secara tahunan pada Maret 2026. Pertumbuhan tersebut diikuti peningkatan jumlah tenaga kerja sebesar 12,00%, sehingga menunjukkan bahwa ekspansi pembiayaan berjalan seiring dengan penguatan aktivitas sektor riil.
NEXT Indonesia Center menilai perubahan arah pembiayaan perbankan menjadi peluang untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Namun, keberhasilan tersebut tetap bergantung pada kemampuan menjaga kualitas kredit, memastikan pembiayaan mengalir ke sektor-sektor produktif, serta menciptakan hubungan yang kuat antara pertumbuhan kredit, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.