Update  By Editorial Desk

Ekonomi Digital RI Tumbuh Pesat, Tapi Pelaku Usaha Online Masih Tertinggal

05 Juli, 2026

Ekonomi digital Indonesia tumbuh pesat, tetapi lebih banyak melahirkan pembeli online dibanding pelaku usaha digital yang menghasilkan pendapatan.

Ilustrasi paket barang belanja online - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilustrasi paket barang belanja online.

DOWNLOADS


Cover Siaran Pers Ekonomi Digital RI Tumbuh Pesat, Tapi Pelaku Usaha Online Masih Tertinggal.png

Press Release - Ekonomi Digital RI Tumbuh Pesat, Tapi Pelaku Usaha Online Masih Tertinggal

Download

Ringkasan
• Pertumbuhan e-commerce masih didominasi konsumen

Jumlah pembeli daring melonjak dari 14,9 juta orang pada 2019 menjadi 54 juta pada 2025. Sebaliknya, jumlah penjual daring hanya naik dari 5,9 juta menjadi 9,7 juta orang dan cenderung stagnan dalam tiga tahun terakhir.
• Kelas ekonomi menentukan pemanfaatan internet
Kelompok miskin yang berjualan online hanya 2,07% dari pengguna internet, sedangkan di kelas atas mencapai 11,64%. Temuan ini menunjukkan kesenjangan digital kini lebih terkait kemampuan memanfaatkan internet untuk kegiatan produktif daripada sekadar akses.
• Fokus kebijakan perlu bergeser ke produktivitas digital
NEXT Indonesia Center menilai agenda ekonomi digital harus beralih dari memperluas akses internet menuju memperdalam pemanfaatannya agar lebih banyak masyarakat, khususnya kelompok menuju kelas menengah, mampu menjadi pelaku usaha digital dan meningkatkan pendapatan.

NEXT Indonesia Center - Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia selama beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang pesat. Jumlah pengguna internet terus meningkat, transaksi e-commerce semakin ramai, dan nilai ekonomi digital nasional telah mencapai sekitar US$100 miliar. Namun, pertumbuhan ekonomi digital tersebut masih lebih banyak mendorong masyarakat menjadi konsumen dibandingkan pelaku usaha digital.

Peneliti NEXT Indonesia Center Rezky Reza Pratama mengatakan, perkembangan ekonomi digital Indonesia saat ini belum sepenuhnya mencerminkan semakin banyaknya masyarakat yang memanfaatkan internet untuk kegiatan produktif. 

“Manfaat ekonomi digital masih lebih banyak dinikmati sebagai sarana konsumsi dibandingkan sebagai sumber penghasilan. Sementara ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari besarnya transaksi, tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang mampu memperoleh penghasilan melalui platform digital," ujar Reza di Jakarta, Minggu (05/07/2026). 

Pihaknya menambahkan, temuan tersebut merupakan salah satu hasil riset NEXT Indonesia Center bertajuk “Perilaku Digital Kelas Menengah” yang mengulas perilaku penggunaan internet berdasarkan kelas ekonomi masyarakat menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Hasil riset menunjukkan jumlah masyarakat yang membeli barang atau jasa secara daring meningkat tajam dalam enam tahun terakhir. Pada 2019, pembeli daring tercatat sekitar 14,9 juta orang. Angka tersebut melonjak menjadi 54 juta orang pada 2025 atau bertambah sekitar 39,1 juta orang.

Sebaliknya, pertumbuhan pelaku usaha digital masih tertinggal. Jumlah masyarakat yang memanfaatkan internet untuk berjualan hanya naik dari 5,9 juta orang pada 2019 menjadi 9,7 juta orang pada 2025. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, jumlahnya cenderung datar di kisaran 9 juta orang.

Menurut Reza, perbedaan pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem e-commerce Indonesia masih lebih kuat sebagai pasar konsumsi dibandingkan sebagai ruang tumbuhnya pelaku usaha baru.

"Platform digital semakin berhasil memudahkan masyarakat berbelanja. Namun, jumlah masyarakat yang mampu naik kelas menjadi pelaku usaha digital belum bertambah secepat pertumbuhan konsumennya. Ini menjadi tantangan besar bagi agenda ekonomi digital Indonesia," ungkapnya.

Reza menjelaskan, riset NEXT Indonesia Center juga menemukan bahwa kemampuan memanfaatkan internet untuk kegiatan ekonomi masih sangat dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi kelas ekonomi seseorang, semakin besar peluangnya memanfaatkan internet untuk aktivitas yang menghasilkan nilai ekonomi.

Pada kelompok masyarakat miskin, hanya sekitar 11,43% pengguna internet yang melakukan pembelian barang atau jasa secara daring. Adapun yang memanfaatkan internet untuk berjualan hanya mencapai 2,07%.

Sebaliknya, pada kelompok kelas atas, lebih dari separuh pengguna internet atau 54,49% telah berbelanja secara daring, sementara 11,64% telah menggunakan internet sebagai sarana menjual barang maupun jasa.

Reza menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan digital saat ini tidak lagi hanya soal akses internet. Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama untuk memanfaatkan internet sebagai alat meningkatkan pendapatan.

"Sebagian besar masyarakat Indonesia memang sudah terhubung ke internet. Persoalannya sekarang bukan lagi siapa yang terkoneksi, melainkan siapa yang mampu mengubah koneksi itu menjadi peluang ekonomi. Di sinilah pekerjaan besar kita masih ada," ujarnya.

Ia menambahkan, kelompok menuju kelas menengah menjadi kelompok yang paling menentukan masa depan ekonomi digital Indonesia. Kelompok ini berjumlah sekitar 142 juta penduduk dengan lebih dari 108 juta pengguna internet, sekaligus menjadi basis pengguna e-commerce terbesar di Indonesia.

Menurutnya, apabila semakin banyak masyarakat dalam kelompok tersebut mampu memanfaatkan platform digital untuk berwirausaha, dampaknya tidak hanya meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperluas basis pelaku usaha nasional.

"Agenda ekonomi digital ke depan perlu bergeser dari sekadar memperluas akses menuju memperdalam pemanfaatan. Internet harus semakin banyak digunakan untuk bekerja, berusaha, memperluas pasar, dan menciptakan nilai tambah. Dengan begitu, ekonomi digital tidak hanya tumbuh besar dari sisi transaksi, tetapi juga menjadi instrumen yang mampu mendorong mobilitas ekonomi masyarakat," tutup Reza.

Related Articles

blog image

Perilaku Digital Kelas Menengah

Internet kian merata, tetapi manfaat ekonomi digital masih dinikmati kelas atas. E-commerce Indonesia masih didominasi pembeli, bukan pelaku usaha.

Selengkapnya
blog image

Kredit Perbankan Bergeser ke Sektor Produktif, Konstruksi Jadi Primadona Pembiayaan

Bank makin agresif menyalurkan kredit ke sektor produktif. Konstruksi, energi, dan real estat menjadi sektor favorit pembiayaan pada 2026.

Selengkapnya
blog image

Sektor Usaha Favorit Perbankan

Kredit perbankan mengalir deras ke konstruksi, energi, real estat, dan jasa profesional. Sektor-sektor ini menjadi favorit baru bank pada 2026.

Selengkapnya