Ujian Bagi Mesin Ekspor Indonesia
17 Juli, 2026
Defisit neraca perdagangan Mei 2026 mengakhiri surplus 72 bulan. Pelemahan ekspor komoditas utama menjadi sinyal perlunya penguatan sektor ekspor.
Keterangan foto: Ilustrasi kapal berhadapan dengan air terjun.
Ringkasan
• Defisit perdagangan dipicu impor yang tumbuh lebih cepat
Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$1,6 miliar setelah ekspor turun 5,73% (yoy) menjadi US$23,2 miliar, sementara impor naik 22,16% menjadi US$24,8 miliar. Meski begitu, secara kumulatif Januari hingga Mei 2026 neraca perdagangan masih surplus US$4,0 miliar.
• Ekspor sangat bergantung pada komoditas utama yang sedang melemah
Sepuluh komoditas terbesar menyumbang hampir 66% ekspor Indonesia. Pada Mei 2026, banyak komoditas utama mengalami kontraksi, seperti minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, mesin mekanis, logam mulia, hingga bijih logam, sehingga menjadi penyebab utama penurunan ekspor nasional.
• Prioritas kebijakan perlu diarahkan pada penguatan ekspor bernilai tambah
Perbaikan neraca perdagangan tidak cukup melalui pengendalian impor. Pemerintah perlu memperkuat daya saing ekspor sektor unggulan seperti energi, sawit hilir, besi dan baja, elektronik, otomotif, produk kimia, serta manufaktur agar struktur ekspor lebih stabil dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
MOST POPULAR
NEXT Indonesia Center - Pada Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit alias lebih besar nilai impor ketimbang ekspor. Kondisi ini mengakhiri rekor surplus sepanjang 72 bulan berturut-turut, setelah terjadi defisit pada April 2020.
Menjaga kinerja ekspor sangat penting mengingat perannya sebagai salah satu komponen penting dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal I-2026 misalnya, ekspor barang dan jasa –sebelum dikoreksi oleh impor– berkontribusi Rp1.312,8 triliun atau 21,43% terhadap PDB. Karena itu, ketika ekspor mengalami kelesuan, berpotensi jadi beban pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada Mei 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor sebesar US$23,2 miliar, terkontraksi alias menyusut 5,73% dibandingkan Mei 2025. Pada saat yang sama, nilai impor mencapai US$24,8 miliar, tumbuh 22,16% secara tahunan. Selisih keduanya membuat neraca perdagangan Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,6 miliar.
Meski demikian, defisit Mei 2026 perlu dibaca secara proporsional. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia Januari-Mei 2026 masih surplus US$4,0 miliar. Nilai ekspor sepanjang lima bulan pertama 2026 mencapai US$115,4 miliar, naik 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, nilai impor tumbuh jauh lebih tinggi, yakni 15,24% menjadi US$111,3 miliar. Dengan kata lain, persoalan utamanya bukan hilangnya seluruh daya ekspor Indonesia, melainkan menyempitnya ruang surplus karena laju impor melampaui kemampuan ekspor untuk mengimbanginya.

Penyebab utama defisit tersebut, antara lain karena meningkatnya defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) menjadi US$3,8 miliar. Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih surplus US$2,2 miliar. Artinya, ekspor nonmigas masih menjadi penyangga utama neraca perdagangan Indonesia, tetapi kekuatannya perlu diperbesar agar mampu menahan tekanan dari sisi impor, terutama yang berasal dari sektor migas.
Karena itu, kajian NEXT Indonesia Center kali ini tidak hanya membahas alasan neraca perdagangan yang defisit. Hal yang lebih penting adalah menelusuri sektor-sektor usaha yang berpotensi memperkuat surplus perdagangan dan menjaga ekspor bersih (net export) tetap positif.
Ketika kinerja sektor-sektor utama tersebut membaik, peluang memperbesar surplus perdagangan akan semakin terbuka. Sebaliknya, ketika sektor-sektor tersebut melemah, dampaknya langsung terasa pada neraca perdagangan nasional. Dengan demikian, defisit neraca perdagangan Mei 2026 dapat dibaca bukan semata-mata sebagai kabar buruk, melainkan sebagai pertanda awal untuk menentukan prioritas kebijakan.
Kerentanan Neraca Perdagangan
Setelah diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu, 1 Juli 2026, defisit neraca perdagangan langsung menjadi pusat perhatian. Hal itu terjadi lantaran setelah enam tahun mengalami surplus berturutturut, pada Mei 2026 mengalami defisit pertama kali dalam kurun waktu tersebut.
Sejak Mei 2020, surplus perdagangan membantu menjaga pasokan devisa, memperkuat posisi transaksi berjalan, dan memberi ruang bagi stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global. Karena itu, defisit Mei 2026 menjadi tanda bahwa bantalan perdagangan Indonesia mulai menipis, terutama ketika impor tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor.
BPS mencatat, secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Mei 2026 memang masih surplus US$4,0 miliar. Namun, nilai positif tersebut jauh lebih tipis dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Perkembangan ini perlu ditempatkan dalam konteks perjalanan neraca perdagangan sejak 2020. Pada tahun awal pandemi Covid-19 itu, ekspor Indonesia mencapai sekitar US$163,2 miliar, sedangkan impor sekitar US$141,6 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan surplus sekitar US$21,6 miliar.
Akan tetapi, surplus pada tahun tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekspor. Kondisi itu lebih banyak dipengaruhi oleh berkurangnya impor akibat aktivitas ekonomi domestik dan global yang melemah pada masa pandemi.
Memasuki 2021, pemicu surplus neraca perdagangan mulai berubah. Pemulihan ekonomi global, kenaikan permintaan komoditas, dan membaiknya aktivitas industri mendorong ekspor naik signifikan. Nilai ekspor Indonesia meningkat menjadi sekitar US$231,5 miliar, sementara impor mencapai sekitar US$196,2 miliar. Surplus perdagangan pun melebar menjadi sekitar US$35,3 miliar. Pada fase ini, ekspor mulai menjadi penggerak yang lebih kuat dalam menjaga neraca perdagangan tetap positif.
Tahun 2022 menjadi puncak surplus perdagangan Indonesia dalam periode 2020-2026. Nilai ekspor mencapai sekitar US$291,9 miliar, sedangkan impor sekitar US$237,5 miliar. Selisih keduanya menghasilkan surplus sekitar US$54,4 miliar. Kinerja ini terutama ditopang oleh lonjakan harga komoditas global dan kuatnya ekspor nonmigas, termasuk komoditas berbasis sumber daya alam serta produk hasil hilirisasi.
Setelah mencapai puncak pada 2022, surplus perdagangan Indonesia mulai menyempit. Pada 2023, surplus perdagangan turun menjadi sekitar US$36,9 miliar. Pada 2024, ekspor memang kembali naik menjadi sekitar US$266,5 miliar, tetapi impor juga meningkat menjadi sekitar US$235,2 miliar sehingga surplus kembali menyempit menjadi sekitar US$31,3 miliar.
Pada 2025, neraca perdagangan sempat menguat kembali. Surplus perdagangan naik menjadi sekitar US$41,1 miliar. Namun, penguatan ini belum cukup untuk menghilangkan kerentanan neraca perdagangan Indonesia. Hal ini terlihat pada Januari-Mei 2026, ketika ekspor hanya tumbuh moderat, sementara impor meningkat jauh lebih cepat.
Perkembangan neraca perdagangan 2020-2026 menunjukkan bahwa surplus perdagangan selama 72 bulan tidak berdiri di atas fondasi yang sepenuhnya stabil. Pada beberapa periode, surplus terbentuk karena impor melemah. Pada periode lain, surplus bergantung pada harga komoditas dan kinerja sektor ekspor tertentu. Karena itu, surplus neraca perdagangan perlu dibaca bersama dengan struktur ekspor dan impor pembentuknya.
Selain itu, tekanan pada 2026 menunjukkan bahwa pengendalian impor saja tidak cukup. Impor yang meningkat dapat mencerminkan kebutuhan energi, bahan baku, barang modal, dan konsumsi domestik. Tidak seluruh impor dapat atau perlu ditekan. Jadi, strategi memperbaiki neraca perdagangan perlu memerhatikan impor agar lebih produktif dan memperkuat ekspor agar tumbuh lebih cepat. Dengan demikian, sektor ekspor utama harus menjadi titik perhatian kebijakan. Upaya memperbaiki neraca perdagangan perlu diarahkan pada sektor-sektor dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor nasional.
10 Komoditas Andalan Ekspor
Neraca perdagangan Indonesia sangat ditentukan oleh kinerja sejumlah kelompok komoditas utama. Berdasarkan data BPS periode 2021-2025, 10 komoditas dengan nilai ekspor terbesar menyumbang US$878,8 miliar, atau 65,98% dari total ekspor Indonesia yang mencapai US$1.331,8 miliar.
Artinya, hampir dua pertiga ekspor nasional selama lima tahun terakhir hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa perbaikan kinerja pada kelompok-kelompok tersebut akan sangat menentukan kemampuan Indonesia menjaga surplus perdagangan.
Kelompok komoditas terbesar adalah bahan bakar mineral. Kelompok ini mencakup komoditas energi seperti batu bara, minyak, gas, dan produk mineral fuel lainnya. Dalam periode 2021-2025, nilai ekspornya mencapai US$276,3 miliar atau 20,74% dari total ekspor nasional. Nilai ekspor bahan bakar mineral mencapai puncaknya pada 2022 sebesar US$71,0 miliar, sebelum terus menurun hingga US$45,1 miliar pada 2025. Penurunan ini menunjukkan bahwa ekspor energi masih sangat penting, tetapi juga sensitif terhadap harga komoditas global dan permintaan negara mitra.
Penyumbang terbesar kedua adalah lemak dan minyak hewani/nabati. Komoditas ini terutama berkaitan dengan minyak sawit dan produk turunannya. Pada 2021-2025, nilai ekspornya mencapai 11,84% dari total ekspor.
Ekspor kelompok komoditas ini sempat mencapai US$35,2 miliar pada 2022, turun pada 2023 dan 2024, lalu kembali naik menjadi US$34,4 miliar pada 2025. Pola tersebut memperlihatkan posisi sawit sebagai salah satu tulang punggung ekspor Indonesia, tetapi kinerjanya tetap dipengaruhi oleh harga internasional, kebijakan perdagangan, permintaan pasar utama, serta pengembangan produk turunan.
Kelompok ketiga adalah besi dan baja, dengan nilai ekspor kumulatif US$129,2 miliar pada 2021-2025 atau 9,70% dari total ekspor. Kelompok ini penting karena berkaitan dengan agenda hilirisasi mineral, terutama pengolahan nikel dan produk baja. Nilai ekspornya meningkat dari US$21,0 miliar pada 2021 menjadi US$27,8 miliar pada 2022, lalu relatif bertahan di kisaran US$25-28 miliar hingga 2025. Kinerja ini menunjukkan bahwa ekspor besi dan baja telah menjadi salah satu pilar baru ekspor Indonesia, meskipun tetap menghadapi risiko dari siklus harga logam, permintaan industri global, serta kebijakan perdagangan negara tujuan.
Kelompok berikutnya adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya. Kelompok ini mencakup berbagai produk seperti perangkat listrik, komponen elektronik, kabel, peralatan telekomunikasi, dan bagian dari mesin elektrik lainnya. Nilai ekspornya mencapai US$75,0 miliar pada 2021-2025 atau 5,63% dari total ekspor.
Berbeda dari beberapa komoditas berbasis sumber daya alam, ekspor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten, dari US$11,8 miliar pada 2021 menjadi US$19,2 miliar pada 2025. Hal ini memberi sinyal bahwa produk manufaktur berbasis teknologi dan komponen elektrik mulai memiliki posisi yang makin penting dalam struktur ekspor Indonesia.
Kendaraan dan bagiannya menjadi penyumbang terbesar kelima, dengan nilai ekspor US$54,0 miliar pada 2021-2025 atau 4,05% dari total ekspor. Kelompok ini mencakup kendaraan bermotor, suku cadang, dan komponen otomotif. Nilainya meningkat dari US$8,6 miliar pada 2021 menjadi US$12,2 miliar pada 2025. Pertumbuhan yang relatif stabil ini menunjukkan bahwa industri otomotif memiliki peran penting sebagai ekspor manufaktur, terutama karena menyerap rantai pasok domestik, tenaga kerja, dan kapasitas industri pendukung.
Lima kelompok berikutnya memiliki kontribusi lebih kecil, tetapi tetap strategis. Logam mulia dan perhiasan/permata mencatat ekspor US$39,8 miliar pada 2021- 2025, dengan tren meningkat. Bijih logam, terak, dan abu mencatat ekspor US$38,6 miliar, tetapi nilainya turun tajam dari US$10,3 miliar pada 2022 menjadi US$5,0 miliar pada 2025. Berbagai produk kimia menyumbang US$37,7 miliar, alas kaki menyumbang US$35,60 miliar, dan mesin serta peralatan mekanis menyumbang US$34,8 miliar. Kelima kelompok ini memperlihatkan kombinasi antara ekspor berbasis komoditas, manufaktur padat karya, dan manufaktur bernilai tambah lebih tinggi.
Jika dilihat secara agregat, tiga kelompok teratas saja menyumbang US$563,2 miliar atau 42,28% dari total ekspor 2021-2025. Sementara itu, lima kelompok terbesar menyumbang 51,96% dari total ekspor. Dengan struktur seperti ini, neraca perdagangan Indonesia sangat bergantung pada kinerja komoditas energi, sawit, baja, elektronik, dan otomotif. Ketika kelompokkelompok itu tumbuh, peluang surplus perdagangan ikut membesar. Sebaliknya, ketika mereka melemah bersamaan, neraca perdagangan akan tertekan.
Menuju Tekanan Baru Musim Gugur Komoditas Ekspor Utama
Tekanan terhadap neraca perdagangan terlihat ketika nilai ekspor 10 komoditas utama melemah pada 2026. Total ekspor Indonesia mengalami kontraksi atau menyusut 5,73% secara tahunan dan 8,30% secara bulanan. Namun secara kumulatif, ekspor pada Januari-Mei 2026 masih tumbuh 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jadi, ekspor Indonesia mulai kehilangan momentum meski secara kumulatif masih tumbuh.
Daya ungkit ekspor 10 komoditas utama tampak melemah. Sepanjang Januari-Mei 2026, total nilai ekspor mereka hanya naik tipis 0,48%—dari sekitar US$71,7 miliar pada Januari-Mei 2025 menjadi US$72,0 miliar pada Januari-Mei 2026.
Sebaliknya, kelompok lainnya tumbuh 7,53%—dari US$40,3 miliar menjadi US$43,3 miliar. Ini menunjukkan bahwa meskipun 10 komoditas utama tetap dominan, sebagian dorongan pertumbuhan ekspor pada awal 2026 justru berasal dari komoditas di luar mereka.
Secara bulanan, tekanan terhadap 10 komoditas utama terlihat lebih kuat. Kinerja beberapa komoditas di antaranya mengalami kontraksi tajam secara tahunan pada Mei 2026.
Bijih logam, terak, dan abu mengalami kontraksi atau menyusut 99,25%; logam mulia dan perhiasan/permata 59,35%; mesin dan perlengkapan elektrik 16,88%; mesin dan peralatan mekanis 14,84%; besi dan baja 14,68%; serta lemak dan minyak hewani/nabati menyusut 14,23%. Kondisi ini menjelaskan mengapa ekspor Mei 2026 melemah meskipun beberapa kelompok lain masih tumbuh.
Bahan bakar mineral masih menjadi komoditas terbesar pada 2026. Ekspornya mencapai US$3,8 miliar pada Mei 2026, naik 1,34% yoy, tetapi menyusut 2,79% dibandingkan April 2026. Secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspornya mencapai US$18,34 miliar atau menyusut 3,78% dibandingkan periode yang sama 2025. Ini menunjukkan bahwa komoditas energi masih menjadi penopang utama ekspor, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong surplus perdagangan secara signifikan.
Lemak dan minyak hewani/nabati menunjukkan gambaran yang berbeda. Secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspornya naik 11,92% menjadi US$14,06 miliar. Namun pada Mei 2026, ekspornya menyusut 14,23% secara tahunan dan menyusut 26,85% dibandingkan April 2026. Artinya, kinerja sawit dan produk turunannya masih positif secara kumulatif, tetapi sangat volatil secara bulanan.
Besi dan baja juga menghadapi tekanan pada 2026. Ekspor kelompok ini mencapai US$11,43 miliar pada Januari-Mei 2026, menyusut 1,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Mei 2026, ekspornya menyusut 14,68% secara tahunan dan 4,54% secara bulanan. Penurunan ini penting diperhatikan karena besi dan baja selama beberapa tahun terakhir menjadi simbol keberhasilan hilirisasi. Jika kinerjanya melemah, kontribusi hilirisasi terhadap ekspor dan neraca perdagangan juga ikut tertekan.
Kelompok mesin dan perlengkapan elektrik masih tumbuh tipis secara kumulatif, yakni 0,87% pada Januari-Mei 2026. Namun, ekspor Mei 2026 menyusut 16,88% dibandingkan Mei 2025 dan menyusut 11,59% dibandingkan April 2026. Kendaraan dan bagiannya relatif lebih kuat. Secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspor kendaraan dan bagiannya tumbuh 10,74% menjadi US$5,20 miliar, meskipun pada Mei 2026 hampir stagnan secara tahunan dan menyusut 2,37% secara bulanan. Dua kelompok ini penting karena mewakili ekspor manufaktur dengan rantai pasok yang lebih panjang dibandingkan ekspor komoditas mentah.
Di luar lima besar, kinerjanya cukup beragam. Ada yang tumbuh cukup tinggi seperti komoditas berbagai produk kimia (15,82% secara kumulatif), namun ada juga yang menyusut sangat dalam seperti bijih logam, terak, dan abu (-45,97% secara kumulatif).
Dari seluruh perkembangan tersebut, terlihat bahwa persoalan ekspor Indonesia pada 2026 bukan hanya soal nilai total ekspor yang turun pada Mei. Masalah lebih mendasar adalah tekanan pada sejumlah kelompok ekspor utama secara bersamaan. Implikasinya jelas. Jika pemerintah ingin mengembalikan neraca perdagangan ke posisi surplus yang lebih kuat, perhatian perlu diarahkan pada kelompok-kelompok ekspor utama ini.
Rapor Merah Mei 2026
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terjadinya koreksi tajam nilai ekspor sejumlah komoditas penting pada Mei 2026. Dampaknya, total ekspor turun dari US$25,3 miliar pada April 2026 menjadi US$23,2 miliar pada Mei 2026, atau berkurang 8,30%. Koreksi ini menjadi salah satu pemicu utama berakhirnya masa surplus 72 bulan neraca perdagangan Indonesia.
Jika dilihat lebih rinci, tekanan ekspor Mei 2026 sangat terkonsentrasi pada 10 kelompok komoditas. Kelompok komoditas utama ini mencatat nilai ekspor yang menyusut sekitar US$2,2 miliar secara bulanan. Nilai tersebut bahkan sedikit lebih besar daripada penyusutan total ekspor nasional, karena sebagian kelompok komoditas lain masih tumbuh dan menahan kontraksi agar tidak lebih dalam. Dengan demikian, pelemahan ekspor Mei 2026 hampir sepenuhnya dapat dijelaskan oleh koreksi pada 10 kelompok komoditas tersebut.
Penurunan terbesar secara nominal berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati. Nilai ekspornya turun dari US$3,1 miliar pada April 2026 menjadi US$2,2 miliar pada Mei 2026. Dalam satu bulan, ekspor kelompok ini berkurang sekitar US$823 juta atau menyusut 26,85%. Mengingat komoditas ini merupakan salah satu penyumbang ekspor terbesar Indonesia dalam lima tahun terakhir, pelemahannya langsung berdampak besar terhadap kinerja ekspor nasional. Kontribusinya terhadap total ekspor turun dari 12,11% pada April 2026 menjadi 9,66% pada Mei 2026.
Penurunan terdalam secara persentase terjadi pada bijih logam, terak, dan abu. Nilai ekspornya merosot dari US$521,7 juta pada April 2026 menjadi hanya US$4,4 juta pada Mei 2026. Secara bulanan, kontraksinya mencapai 99,16%. Kontribusi kelompok ini terhadap total ekspor juga nyaris hilang, dari 2,06% menjadi 0,02%.
Perubahan sebesar itu menunjukkan adanya koreksi yang sangat ekstrem pada ekspor bijih logam. Dalam kerangka hilirisasi, penurunan ekspor bijih mentah pada prinsipnya sejalan dengan arah kebijakan peningkatan pengolahan di dalam negeri. Namun, besarnya penurunan pada Mei 2026 tetap memerlukan perhatian karena berdampak langsung terhadap nilai ekspor nasional.
Tekanan besar juga datang dari kelompok manufaktur dan produk industri, termasuk mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (-24,85%), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (-11,59%). Tembaga dan barang daripadanya menyusut 24,51%. Penurunan pada kelompok-kelompok ini penting karena menunjukkan bahwa tekanan Mei 2026 tidak hanya terjadi pada komoditas berbasis sumber daya alam, tetapi juga pada ekspor industri dan produk bernilai tambah.
Kelompok lain mencatat penurunan yang lebih kecil secara nominal, tetapi tetap memperlebar tekanan ekspor. Pada beberapa kelompok, seperti alas kaki dan produk kimia, kontribusinya terhadap total ekspor relatif stabil karena penurunannya tidak jauh berbeda dari penurunan total ekspor nasional. Namun secara agregat, koreksi pada kelompok-kelompok ini tetap memperkuat tekanan terhadap neraca perdagangan.
Dari sisi struktur, penurunan Mei 2026 memperlihatkan bahwa ekspor Indonesia masih rentan ketika beberapa komoditas utama terkoreksi bersamaan. Lemak dan minyak hewani/nabati, bijih logam, mesin elektrik, mesin mekanis, produk kimia, alas kaki, karet, tembaga, logam mulia, dan aluminium mencerminkan kombinasi antara komoditas berbasis sumber daya alam, produk antara industri, dan manufaktur. Ketika kelompok-kelompok ini melemah pada bulan yang sama, dampaknya langsung terasa pada total ekspor dan, pada akhirnya, pada neraca perdagangan.
Pentingnya Prioritas Kebijakan Ekspor
Defisit neraca perdagangan Mei 2026 perlu dibaca sebagai peringatan awal bagi arah kebijakan perdagangan Indonesia. Setelah 72 bulan berturut-turut mencatat surplus, posisi defisit US$1,6 miliar menunjukkan bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai menipis.
Kendati demikian, defisit tersebut tidak berarti kinerja ekspor Indonesia merahsepenuhnya. Secara kumulatif Januari-Mei 2026, neraca perdagangan masih surplusUS$4,0 miliar dan ekspor masih tumbuh 3,02%. Persoalannya, impor meningkat jauh lebih cepat sehingga ruang surplus menjadi semakin sempit.
Struktur ekspor Indonesia juga menunjukkan adanya konsentrasi yang tinggi. Sebanyak 10 komoditas utama menyumbang hampir dua pertiga ekspor nasional sepanjang 2021-2025. Bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani/ nabati, besi dan baja, mesin elektrik serta kendaraan dan bagiannya menjadi penopang utama. Ketika kelompokkelompok ini melemah bersamaan, tekanan terhadap neraca perdagangan langsung terasa.
Hal itu terlihat jelas pada Mei 2026. Penurunan ekspor tidak hanya terjadi secara agregat, tetapi terkonsentrasi pada sejumlah komoditas penting. Lemak dan minyak hewani/nabati, bijih logam, mesin mekanis, tembaga, karet, mesin elektrik, logam mulia, produk kimia, alas kaki, dan aluminium mencatat koreksi yang secara total menjelaskan hampir seluruh penurunan ekspor bulanan. Fakta ini menunjukkan bahwa perbaikan neraca perdagangan tidak cukup hanya bertumpu pada pengendalian impor, tetapi juga harus dimulai dari sektor-sektor yang paling menentukan kinerja ekspor.
Karena itu, pemerintah perlu memberi perhatian lebih besar pada komoditas dan sektor ekspor utama. Bahan bakar mineral perlu dikelola dalam kerangka transisi energi yang realistis. Sawit perlu diperkuat melalui hilirisasi, kepastian pasar, dan pemenuhan standar keberlanjutan. Besi dan baja harus dijaga agar agenda hilirisasi tetap menghasilkan nilai ekspor yang besar. Sementara itu, mesin elektrik, kendaraan, alas kaki, produk kimia, karet, dan mesin mekanis perlu didorong sebagai basis ekspor manufaktur yang lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas.
Dengan demikian, defisit Mei 2026 sebaiknya tidak hanya diperlakukan sebagai kabar buruk, tetapi sebagai peta awal untuk menyusun prioritas kebijakan ekspor. Indonesia perlu memastikan bahwa penurunan ekspor komoditas mentah benar-benar digantikan oleh kenaikan ekspor produk olahan dan manufaktur bernilai tambah.
Jika sektor-sektor utama tersebut diperkuat, peluang untuk mengembalikan surplus neraca perdagangan akan jauh lebih besar. Bukan sekadar mengejar surplus bulanan, agenda yang lebih penting adalah membangun fondasi ekspor yang lebih stabil, produktif, dan tahan terhadap tekanan global. Dengan begitu, kinerja ekspor bersih (net export) mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.