Saat Modal Asing jadi Penopang Perekonomian
06 November, 2026
Investasi asing menopang pertumbuhan investasi Indonesia saat PMDN melemah, tetapi kepastian usaha dan kepercayaan investor masih menjadi tantangan.
Keterangan foto: Ilustrasi kota jakarta ditumpukan kertas.
Ringkasan
• Investasi domestik mengalami kontraksi dua kuartal berturut-turut
PMDN turun 7,77% pada triwulan II dan 7,48% pada triwulan III-2026 secara tahunan. Sebaliknya, PMA tumbuh lebih dari 27% pada kedua periode tersebut dan membantu menjaga pertumbuhan total investasi.
• Investasi asing mulai meluas ke sektor jasa dan infrastruktur pendukung
Sepanjang Januari-September 2026, PMA mencapai Rp777,8 triliun atau tumbuh 20,67%. Industri logam dasar masih menjadi penerima terbesar, sedangkan sektor jasa lainnya tumbuh 86,02%, didorong antara lain oleh potensi pengembangan pusat data.
• Jawa Barat, Sulawesi, dan Bali menjadi tujuan investasi penting
Jawa Barat menerima PMA sektor jasa lainnya sebesar Rp53,6 triliun. Investasi listrik berkembang di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara untuk mendukung kawasan industri. Sementara itu, Bali menjadi penerima terbesar investasi sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran dengan Rp8,5 triliun. Pemerintah perlu menjaga kepastian regulasi dan memperbaiki kondisi usaha agar PMA berkelanjutan serta PMDN kembali tumbuh.
MOST POPULAR
- Hanya 55 dari 546 Daerah yang Mampu Menutup Gaji Pegawai dari PAD
- Ada Impor Ribuan Ton Beras dari Singapura dan Malaysia di Tengah Klaim Swasembada Beras
- Tingkatkan Tata Kelola Ekspor Komoditas Strategis, Langkah DSI Perkuat Sistem Data Dinilai Tepat
- Anomali Surplus Beras RI, Stok Aman tapi Harganya Melonjak
- Menimbang Arah Peran DSI: Hindari Beban Finansial, Prioritaskan Pengawasan Berbasis Integrasi Data
NEXT Indonesia Center - Ada hal yang mengkhawatirkan dari hasil survei Kadin Indonesia Institute pada September 2026. Hanya sekitar sepertiga responden berencana investasi dalam enam bulan ke depan, dengan proporsi yang terus menurun selama tiga kuartal berturut-turut. Persoalan kebijakan, sulitnya pembiayaan, dan lemahnya permintaan konsumen menjadi sejumlah ganjalan yang mereka hadapi.1 Sikap menahan diri ini sejalan dengan pelemahan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), yang mencatat penurunan secara tahunan pada triwulan II dan III-2026.
1. Kadin Indonesia Institute, “Rilis Kadin Business Pulse Q3-2026: Investasi Melemah di Tengah Tekanan Kebijakan, Pembiayaan, dan Bencana Alam”, 22 Oktober 2026.
Penanaman Modal Asing (PMA) justru bergerak sebaliknya. Pada triwulan III-2026, peningkatan investasi asing mengimbangi penurunan PMDN, sehingga total realisasi investasi tetap tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan tersebut muncul ketika pemerintah mengumumkan realisasi investasi sebesar Rp3.923,2 triliun selama Oktober 2024-September 2026, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 5,49 juta orang.2 Capaian ini menunjukkan besarnya peran investasi bagi kegiatan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
2. Kementerian Komunikasi dan Digital, “Dua Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, Investasi Tembus Rp3.923,2 Triliun dan Serap 5,49 Juta Tenaga Kerja”, 20 Oktober 2026.
Investasi asing berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi, terutama ketika investasi dalam negeri melambat. Keputusan investor asing membangun pabrik atau memperluas usaha merupakan komitmen jangka panjang yang membutuhkan kepastian berusaha. Karena itu, keberlanjutannya juga berkaitan dengan kepercayaan dan hubungan ekonomi yang terjaga bersama negara mitra, termasuk Singapura yang masih tercatat sebagai negara asal PMA terbesar sepanjang Januari-September 2026.
Tak salah bila Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menempatkan pengurangan ketidakpastian, baik dari segi perizinan maupun waktu, sebagai bagian penting dari upaya menjaga kepercayaan tersebut. “Karena yang diharapkan seluruh investor adalah kepastian. They don’t like surprises,” kata Rosan, yang juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, usai Rapat Terbatas di Istana Merdeka, Jakarta (19/10/2026).3
3. BPMI Setpres, “Presiden Prabowo Instruksikan Investasi Berkualitas, Hilirisasi dan Reformasi Perizinan Jadi Prioritas”, Sekretariat Presiden, 19 Oktober 2026.
Dalam review ini, NEXT Indonesia Center menelusuri perkembangan realisasi PMA dan PMDN selama lima tahun terakhir, yakni 2022-2026, dengan cakupan data 2026 hingga triwulan tiga. Pembahasan juga menelaah sektor-sektor yang diminati investor asing serta provinsi-provinsi tempat investasi pada sektor tersebut berkembang.
Dua Kuartal Rapor Merah Investasi Domestik
Investasi di Indonesia bergerak dinamis. Sepanjang lima tahun terakhir, hingga kuartal III-2026, modal domestik dan asing silih berganti menjadi sumber pertumbuhan ketika salah satu melemah.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan pada 2022- 2024, Penanaman Modal Asing (PMA) konsisten memberikan kontribusi lebih besar. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengambil posisi dominan pada tiga triwulan I-2025, dengan porsi tertinggi mencapai 57,68% pada triwulan berikutnya, yang bernilai Rp275,5 triliun. Penguatan investasi domestik pada periode tersebut membantu menjaga pertumbuhan total investasi ketika gairah penanaman modal asing menurun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengaitkan penguatan PMDN pada 2025 dengan percepatan investasi domestik, termasuk faktor Danantara. “Sebetulnya bukan PMA yang melambat, kalau saya melihatnya, [investasi] dalam negerinya yang lebih cepat,” jelasnya pada Januari 2026.
Kendati demikian, Rosan juga mengakui bahwa ketegangan geopolitik dan geoekonomi memengaruhi pertumbuhan PMA.4 Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa membesarnya porsi PMDN ketika itu berlangsung bersamaan dengan dua perkembangan, yaitu percepatan modal domestik dan tertahannya pertumbuhan investasi asing.
4. Muhammad Naufal, “PMA 2025 Melambat, Rosan: Investasi Dalam Negeri Lebih Cepat”, Tirto.id, 15 Januari 2026.
PMA kembali melampaui PMDN sejak triwulan IV-2025, kemudian menjadi penopang pertumbuhan investasi ketika PMDN melemah pada 2026. Pada triwulan II dan III-2026, PMDN menyusut alias terkontraksi masing-masing 7,77% dan 7,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, PMA tumbuh lebih dari 27% pada kedua kuartal tersebut.
Tambahan modal asing mampu mengimbangi penurunan investasi domestik, sehingga total investasi secara kumulatif tetap tumbuh. Meski demikian, pertumbuhan total investasi sepanjang tiga triwulan pertama 2026 masih berada pada kisaran 7-8%, lebih rendah daripada pertumbuhan dua digit selama 2022-2025.
Pelemahan PMDN berlangsung di tengah terbatasnya ruang ekspansi dunia usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menjelaskan bahwa permintaan yang belum kuat disertai tingginya biaya produksi, logistik, dan pembiayaan membatasi kemampuan perusahaan untuk memperbesar usaha. Kombinasi tekanan tersebut, menurut dia, berpotensi menahan investasi sekaligus perekrutan tenaga kerja hingga akhir 2026.5
5. Rika Anggraeni, “Risiko hingga Akhir 2026, Apindo: Pelemahan Permintaan dan Beban Biaya Tinggi”, Bisnis.com, 7 Oktober 2026.
Selain tekanan biaya dan permintaan, keputusan pengusaha menahan investasi juga dipengaruhi kepastian berusaha. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai ketidakpastian regulasi yang berkepanjangan dan rumitnya birokrasi membuat pelaku usaha menunda ekspansi. Dalam diskusi BIG Consensus pada 19 Oktober 2026, ia mengingatkan bahwa sikap menunggu dapat berkembang menjadi hilangnya kepercayaan apabila kepastian tidak kunjung diperoleh.6
6. Mutiara Nabila, “2 Tahun Prabowo-Gibran: Ekonom Wanti-wanti Krisis Kepercayaan Dunia Usaha”, Bisnis.com, 19 Oktober 2026.
Kedua pandangan tersebut membantu menjelaskan mengapa pengusaha memilih menahan ekspansi. Ruang usaha menyempit, sementara kepastian yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan jangka panjang belum sepenuhnya tersedia. Karena itu, pemulihan PMDN membutuhkan perbaikan kondisi usaha sekaligus kebijakan yang mampu memulihkan keyakinan pengusaha untuk berinvestasi.
Investasi Asing Makin Lirik Sektor Jasa
Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp777,8 triliun, tumbuh 20,67% dibandingkan Rp644,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh 10 sektor penerima investasi terbesar, yang menyerap Rp637,4 triliun atau 81,95% dari total realisasi PMA. Kontribusi sektor-sektor tersebut meningkat 77,46% dari setahun sebelumnya. Sementara itu, realisasi investasi pada sektor-sektor di luar daftar tersebut turun 3,35%.
Industri Logam Dasar tetap menempati posisi teratas, dengan realisasi Rp246,6 triliun atau hampir sepertiga dari total PMA. Jasa Lainnya menyusul sebagai penerima terbesar kedua dengan Rp100,4 triliun. Sektor Pertambangan, walaupun realisasi investasinya menurun 28,10%, berada di posisi ketiga.
Selain Pertambangan, sektor Industri Kimia dan Farmasi, serta Transportasi, Pergudangan dan Telekomunikasi juga mengalami penurunan investasi, sedangkan modal asing yang masuk ke sektor-sektor lainnya masih tumbuh. NEXT Indonesia Center melihat ada tiga sektor di luar industri logam dasar yang mengalami pertumbuhan PMA relatif tinggi sehingga menarik untuk diamati.
Pertama adalah sektor jasa lainnya. Modal asing mengalir deras sepanjang Januari- September 2026 dengan realisasi Rp100,4 triliun, melonjak 86,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Cukup sulit untuk menentukan secara spesifik bidang usaha apa yang mendongkrak masuknya investasi asing ke sektor ini. Soalnya, sektor Jasa Lainnya adalah bisnis layanan yang tidak memiliki kategori spesifiknya sendiri di sistem Online Single Submission (OSS), mulai dari salon dan reparasi hingga, menurut publikasi BPKM7 , termasuk bisnis web hosting dan pusat data (data center).
7. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, “Menteri Rosan: Jakarta Jadi Gerbang Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Masa Depan“, 28 Agustus 2026.
Oleh karena itu, bisa jadi pendorong utama investasi asing pada sektor ini adalah pengembangan data center. Pemerintah mencatat ada minat investasi dengan nilai mencapai US$15-20 miliar untuk tambahan sekitar 1,3 GW data center di Indonesia.8
8. Nada Herwando Kartika, “Indonesia Berlomba Bangun Data Center, Ini Potensinya bagi Ekonomi“, detik.com, 16 Oktober 2026.
Peluang tersebut dapat menggerakkan kegiatan ekonomi yang lebih luas, mulai dari pembangunan fasilitas, penyediaan listrik dan jaringan, hingga pemeliharaan serta kebutuhan tenaga kerja terampil. Dengan demikian, pengembangan pusat data juga membuka kebutuhan investasi pada berbagai fasilitas dan layanan pendukungnya, termasuk tenaga listrik.
PMA pada sektor Listrik, Gas, dan Air meningkat 64,54% menjadi Rp37,5 triliun. Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar menyatakan, salah satu pendorong investasi asing pada sektor ini adalah meningkatnya pengembangan pusat data.9 Pengelola kawasan industri, tambahnya, berupaya menyiapkan fasilitas untuk mengakomodasi permintaan tersebut.
9. "Lahan hingga Air di Kawasan Industri Meningkat”, Bisnis.com, 2 September 2026.
Pengembangan kawasan industri hilirisasi mineral, termasuk nikel, turut mendorong pembangunan pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan energi industri. Di Sulawesi Tengah, misalnya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menyebut bahwa hampir seluruh investasi kelistrikan pada semester I-2026 berada di Morowali untuk menopang infrastruktur kawasan industri.10
10. Fauzi, “DPMPTSP: Investasi Kelistrikan di Sulteng Melonjak 414 Persen”, ANTARA, 6 September 2026.
Sementara itu, PMA pada Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran tumbuh 37,26% menjadi Rp40,0 triliun. Cakupannya meliputi hunian sekaligus ruang dan fasilitas kegiatan bisnis.
Meningkatnya minat investor asing, khususnya terhadap kawasan industri, menurut Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana telah terlihat sejak 2025.11 Investor antara lain tertarik pada lokasi untuk mendirikan usaha baterai dan kendaraan listrik, logistik modern, energi terbarukan, pusat data, serta manufaktur berteknologi tinggi.
11. Uyu Septiyati Liman, “HKI Minta Pemerintah Fokus Sinergikan Izin Kawasan Industri pada 2026”, Antara, 1 Januari 2026.
Sasaran Tiga Sektor Utama Investasi Asing
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan bahwa tiga sektor yang mengalami pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA) tertinggi memiliki provinsi tujuan utama investasi yang berbeda. Pola ini memperlihatkan bahwa daya tarik masing-masing daerah bagi investor asing berbeda menurut sektor usahanya.
1. Jasa Lain Melonjak di Jawa Barat
Investasi asing pada sektor Jasa Lainnya melonjak di Jawa Barat. Dengan nilai Rp53,6 triliun pada Januari-September 2026, berarti lebih dari separuh investasi asing yang masuk ke sektor tersebut, datang ke provinsi dengan populasi terbanyak di Indonesia itu.
DKI Jakarta turun ke posisi kedua meski realisasi investasi Jasa Lainnya naik dari Rp24,7 triliun menjadi Rp29,9 triliun. Kepulauan Riau, Bali, dan Banten melengkapi lima tujuan utama sektor Jasa Lainnya, tetapi dengan arah perkembangan yang berbeda. PMA di Kepulauan Riau dan Banten bertambah, sementara Bali mengalami penurunan hingga 28,14%.
Besarnya realisasi PMA untuk sektor Jasa Lainnya di Jawa Barat berlangsung bersamaan dengan pembangunan dan perluasan pusat data oleh dua perusahaan asal Singapura, yaitu Princeton Digital Group dan ST Telemedia Global Data Centres. Princeton membangun kampus pusat data JC3 berkapasitas 120 MW di Kabupaten Bekasi dengan total nilai investasi US$1,0 miliar. Pembangunannya dimulai pada November 2025, dengan tahap pertama ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.12 Princeton juga mengembangkan proyek JC4 berkapasitas rencana 240 MW di kawasan yang sama, dengan lahan telah diperoleh dan konstruksi sudah berjalan per April 2026.13
12. Princeton Digital Group, “Princeton Digital Group Breaks Ground on Milestone USD 1 Billion, 120 MW Greater Jakarta Campus”, 19 November 2025.
13. Princeton Digital Group, “PDG Acquires 240 MW of Powered Land in Jakarta, Advancing Its Rapid Expansion Across Asia”, 30 April 2026.
Sementara, pada Juni 2026 ST Telemedia Global Data Centres mengumumkan peningkatan fasilitas pembiayaan menjadi Rp8,8 triliun untuk mendukung pengembangan STT Jakarta Campus di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, termasuk pembangunan STT Jakarta 3.14
14. ST Telemedia Global Data Centres, “ST Telemedia Global Data Centres Expands Indonesia Financing Platform to Support STT Jakarta Campus Growth and First Green Term Loan Tranche”, 3 Juni 2026.
2. Investasi Listrik melonjak di Sulawesi
Sementara itu, sebaran PMA sektor Listrik, Gas, dan Air menunjukkan peran besar provinsi di luar Jawa. Kalimantan Barat menjadi penerima terbesar dengan realisasi Rp7,6 triliun, disusul Sulawesi Tengah, Kepulauan Riau, Papua Barat, dan Sulawesi Tenggara. Kelima provinsi tersebut menyerap 58,74% PMA sektor ini.
Hal yang menarik, realisasi PMA untuk sektor listrik melonjak hingga ribuan persen di Sulawesi. Pengembangan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mendongkrak kebutuhan listrik di Sulawesi Tengah. PT Sumber Energi Surya Morowali lantas membangun PLTS berkapasitas 262 MWp dengan penyimpanan baterai 80 MWh bekerja sama dengan SESNA dan Sembcorp Energy Indonesia, anak perusahaan Sembcorp Industries asal Singapura.
Total biaya proyeknya sekitar US$210,0 juta, dengan target operasi awal 2027. Pembangunannya telah memasuki tahap konstruksi pada April 2026.15 Proyek PLTS itu berkontribusi meningkatkan realisasi PMA Listrik, Gas, dan Air lebih dari 7.500% di Sulawesi Tengah.
15. DLA Piper, “DLA Piper Advises on Indonesian 262 MWp Solar and 80 MWh BESS Project”, 22 Juni 2026.
Sementara di Sulawesi Tenggara, realisasi PMA sektor tersebut melonjak lebih dari 1.000%. Kebutuhan energi terkait hilirisasi industri nikel di provinsi tersebut. Infrastruktur listrik dibutuhkan untuk menyuplai kawasan smelter besar, seperti klaster Pomalaa-Ceria (Poci) dan Konawe- Morowali (Kemo).
3. Bali Teratas di Sektor Perumahan
Pada sektor Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran, Bali mempertahankan posisi teratas dengan realisasi Rp8,5 triliun, tumbuh 14,89% dari tahun sebelumnya. Kepala DPMPTSP Bali, I Ketut Sukra Negara, menyatakan bahwa pembangunan real estat adalah salah satu kegiatan usaha yang banyak dicantumkan investor asing.16
16. Wibhi Leksono, “PMA di Bali Diduga Akali Izin, Bangunan Real Estat Disulap Jadi Vila”, detikBali, 1 Oktober 2026.
Akan tetapi, ia juga menyoroti dugaan penggunaan sebagian bangunan yang sudah selesai sebagai vila dengan penyewaan harian. Keterangan ini mengindikasikan keterkaitan pembangunan properti asing dengan kegiatan akomodasi wisata.
Pertumbuhan yang lebih cepat terjadi di Jakarta dan Jawa Barat, dengan realisasi masing-masing meningkat 171,69% dan 106,69%, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Januari-September 2025. Ditambah Banten, ketiga provinsi tersebut menyerap 46,62% PMA sektor tersebut pada Januari-September 2026. Angka tersebut memperlihatkan membesarnya kontribusi gabungan ketiga provinsi. Di luar ketiganya, Maluku Utara masih termasuk lima penerima terbesar, tetapi realisasinya turun 22,83%.
Menjaga Kepercayaan, Menarik Aliran Modal
Perkembangan investasi selama 2022-2026 memperlihatkan pentingnya peran modal domestik dan asing dalam menjaga gairah ekonomi Indonesia. Ketika Penanaman Modal Asing (PMA) melemah pada sebagian periode 2025, investasi domestik membantu menopang pertumbuhan. Sebaliknya, saat Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menurun pada 2026, peningkatan PMA menjaga total realisasi investasi tetap tumbuh. Pergantian peran tersebut menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan kedua sumber modal agar investasi terus berkembang.
Penguatan PMA juga membuka peluang di luar industri pengolahan mineral yang kerap menjadi tujuan utama pemodal asing. Pembangunan pusat data, penyediaan energi, serta pengembangan properti dan kawasan industri memperlihatkan keterkaitan antara investasi utama dan kebutuhan fasilitas pendukungnya. Sebarannya memberikan peluang bagi berbagai daerah untuk memperluas kegiatan ekonomi sesuai dengan kesiapan infrastruktur dan karakter usaha yang berkembang di wilayahnya.
Keberlanjutan investasi tersebut membutuhkan kepastian yang terjaga. Pemerintah perlu memastikan aturan diterapkan secara konsisten, proses perizinan dapat diperkirakan, dan persoalan usaha diselesaikan secara transparan. Hubungan ekonomi dengan negara mitra juga perlu dirawat karena pembangunan fasilitas dan pengembangan usaha melibatkan komitmen modal lintas tahun. Cara pemerintah berkomunikasi dan menjalankan kebijakan menjadi bagian dari lingkungan usaha yang dipertimbangkan investor.
Pemerintah juga perlu mencermati sektor-sektor yang menjadi tujuan investasi asing di setiap daerah. Pola realisasi tersebut dapat menjadi dasar untuk membantu pemerintah daerah menyiapkan infrastruktur dan memperbaiki layanan perizinan sesuai kebutuhan usaha yang berkembang. Dukungan yang tepat dapat mendorong perluasan investasi yang sudah berjalan sekaligus memperkuat peluang daerah memperoleh investasi baru.
Bersamaan dengan itu, pelemahan PMDN perlu mendapat perhatian melalui perbaikan kondisi usaha dan pengurangan hambatan ekspansi. Kehadiran modal asing akan memberi manfaat lebih luas apabila terhubung dengan pemasok dan pelaku usaha domestik. Dengan menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat kemampuan dunia usaha dalam negeri, Indonesia dapat membangun sumber pertumbuhan investasi yang lebih kokoh.