Kesenjangan IPM Indonesia: DKI Jakarta Terdepan, Papua Tertinggal
25 Mei, 2025
Kesenjangan IPM antara DKI Jakarta dan Papua Pegunungan mencerminkan belum meratanya pembangunan di Indonesia.
Keterangan foto: Ilustrasi pelajar sedang belajar
NEXT Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2024 mencapai 75,02, masuk dalam kategori tinggi. Angka ini meningkat 0,85% dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 74,39.
MOST POPULAR
- Repatriasi Aset Dibayangi Modus Penghindaran Pajak
- Importir Kedelai Untung Rp12,9 Triliun, Produsen Tahu Tempe Malah Menjerit
- Mengukur Dampak RDMP Balikpapan di Tengah Beban Kronis Impor Migas
- Upah Buruh di Bawah Ambang Batas Sejahtera
- Dibayangi Ketidakpastian Global, Ekonomi Indonesia Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Namun, capaian ini masih menyisakan pekerjaan rumah karena ketimpangan antarwilayah masih terjadi dan IPM belum merata di seluruh provinsi. Sebagai contoh, DKI Jakarta mencatat IPM tertinggi secara nasional, sementara Papua Pegunungan menjadi yang terendah.
Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi, DKI Jakarta memiliki akses terbaik terhadap fasilitas pendidikan, layanan kesehatan dan peluang ekonomi. Infrastruktur yang memadai, jumlah tenaga pengajar dan medis yang mencukupi, serta program sosial yang terus diperbarui menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian IPM tinggi, yakni sebesar 84,15.
Sebaliknya, Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan IPM terendah, hanya mencapai 54,43. Sementara beberapa wilayah lain di Papua juga mencatat skor yang rendah, seperti Papua Tengah (60,25) dan Papua Selatan (67,69), memperlihatkan adanya tantangan serius dalam pemerataan pembangunan di wilayah timur Indonesia.
Kesenjangan IPM antara DKI Jakarta dan Papua Pegunungan menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan di Indonesia masih jauh dari harapan. Sudah saatnya pembangunan difokuskan untuk menjangkau dan memberdayakan wilayah-wilayah yang paling tertinggal.