Update  By Editorial Desk

Porsi Pekerja Informal Terus Menyusut

06 Februari, 2026

Porsi pekerja informal Indonesia turun menjadi 57,95% per November 2025. BPS catat pergeseran ini seiring bertambahnya lapangan kerja di sektor utama.

Ilustrasi ojek online - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilustrasi ojek online.

DOWNLOADS


cover siaran pers Porsi Pekerja Informal Terus Menyusut NEXT Indonesia Center.png

Press Release - Porsi Pekerja Informal Terus Menyusut

Download

Ringkasan
• Pekerja Informal Terus Menurun
Porsi pekerja informal turun dari 60,47% pada 2020 menjadi 57,95% per November 2025. Dari 147,9 juta orang bekerja, 85,4 juta masih berada di sektor informal. Tren ini positif karena pendapatan pekerja informal cenderung tidak pasti.
• Lima Sektor Jadi Penopang Serapan Tenaga Kerja
Sepanjang Agustus 2024 sampai November 2025, jumlah pekerja bertambah 3,3 juta orang. Sebanyak 78,47% atau 2,6 juta orang terserap di lima sektor utama, yaitu akomodasi dan makan minum, pertanian, industri pengolahan, jasa pendidikan, serta perdagangan.
• Tantangan Penciptaan Lapangan Kerja Baru
Lima sektor penyerap tenaga kerja tersebut menyumbang 50,81% PDB nasional. Namun, jumlah angkatan kerja yang ingin bekerja bertambah 3,2 juta orang. Pemerintah perlu mempercepat penciptaan lapangan kerja agar penyerapan tenaga kerja tidak tertinggal.

NEXT Indonesia Center - Porsi pekerja informal terus menurun dalam lima tahun terakhir, dari 60,47% pada tahun 2020 tersisa 57,95% per November 2025, seperti diumumkan Badan Pusat Statistik pada Kamis (5/2/2026).

Menurut catatan BPS, dari jumlah orang yang bekerja per November 2025 yang 147,9 juta orang, 85,4 juta diantaranya adalah pekerja informal. 

“Ini merupakan perkembangan baik, karena mereka yang bekerja di sektor informal terus menurun. Sebab pendapatan pekerja informal tidak pasti,” ujar Sandy Pramuji, Analis Senior NEXT Indonesia Center di Jakarta, Kamis (5/2/2026), menanggapi pengumuman data pengangguran yang disampaikan oleh BPS.

Pekerja di sektor informal merupakan penduduk yang bekerja dengan status pekerjaan berusaha sendiri dan berusaha dibantu buruh tidak tetap atau pekerja keluarga. Selain itu, pekerja bebas atau freelancer juga masuk dalam kategori ini.

Lebih lanjut Sandy mengungkapkan, sepanjang periode Agustus 2024-November 2025, jumlah orang yang bekerja bertambah sekitar 3,3 juta. Ada lima sektor yang menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, yakni dengan porsi 78,47% atau sebanyak 2,6 juta orang.

Seperti diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/2/2026), lima sektor tersebut adalah penyediaan akomodasi dan makan minum; pertanian, kehutanan, dan perikanan; industri pengolahan; jasa pendidikan; serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. 

“Sektor-sektor penyerap tenaga kerja terbanyak itu merupakan sektor-sektor yang menjadi penopang utama perekonomian nasional,” ungkap Sandy.

Mengacu pada data BPS, kontribusi penyediaan akomodasi dan makan minum terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 2,68%. Kemudian, sektor pertanian 13,10%, industri pengolahan 19,07%, jasa pendidikan 2,80%, serta perdagangan besar dan eceran 13,17%. 

Total lima sektor penyumbang serapan tenaga kerja terbanyak di tahun 2025 ini berkontribusi 50,81% terhadap ekonomi Indonesia. “Jadi lima sektor tersebut sangat penting bagi perekonomian nasional, karena itu perlu menjadi perhatian serius pemerintah,” ujar Sandy.

Sandy juga mengingatkan, BPS juga mengumumkan bahwa per November 2025 terjadi penambahan orang yang mau bekerja sebanyak 3,2 juta orang dibanding kondisi Agustus 2024. 

“Jumlah tersebut terus meningkat sepanjang tahun. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah untuk terus menciptakan peluang penyerapan tenaga kerja yang jumlahnya terus berkejaran dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja,” katanya.

Related Articles

blog image

Dukung DSI Terapkan NSW, Tata Kelola Ekspor RI Mengacu Best Practice Singapura dan AS

Integrasi DSI dengan National Single Window dinilai dapat memperkuat transparansi data dan tata kelola ekspor komoditas strategis Indonesia.

Selengkapnya
blog image

Ekspor Sawit dan Batu Bara Tergerus Secara Volume, Surplus Perdagangan Rawan Tertekan

Surplus perdagangan Juli 2026 mencapai US$120 juta, tetapi ekspor komoditas unggulan masih menghadapi tekanan volume pengiriman.

Selengkapnya
blog image

DSI Sebaiknya Fokus Jadi Pengawas dan Pengelola Data Ekspor SDA, Bukan Offtaker Komersial

DSI dinilai lebih tepat menjadi integrator data dan pemantau risiko ekspor SDA, bukan offtaker tunggal yang berpotensi menambah risiko fiskal.

Selengkapnya