Ketergantungan Batu Bara Hambat Transisi Energi Indonesia
08 Maret, 2026
Transisi energi Indonesia tersendat akibat ketergantungan batu bara. Target penurunan emisi sulit tercapai tanpa perubahan sistem energi nasional.
Keterangan foto: Ilustrasi cerobong asap pembangkit listrik.
Ringkasan
• Target Emisi Ambisius, Implementasi Berat
Indonesia menargetkan penurunan emisi melalui dokumen Nationally Determined Contribution dan pembaruan Second Nationally Determined Contribution untuk periode 2030 dan 2035 menuju net zero 2060. Namun menurut NEXT Indonesia Center, target tersebut sulit tercapai jika fondasi sistem energi nasional masih bertumpu pada bahan bakar fosil.
• Sektor Energi Kini Dominasi Emisi Nasional
Struktur emisi Indonesia mengalami perubahan besar. Jika awal 2000-an didominasi sektor kehutanan, kini lebih dari 50% emisi berasal dari energi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan emisi energi naik dari 317 juta ton CO₂e pada 2000 menjadi 752 juta ton pada 2023, terutama dari pembangkit batu bara, transportasi berbahan bakar minyak, dan industri.
• Ketergantungan Batu Bara Hambat Transisi Energi
Bauran energi Indonesia masih sangat bergantung pada fosil. Pada 2024, batu bara menyumbang 43,9% konsumsi energi primer, jauh di atas energi terbarukan yang hanya 10,8%. Dalam sistem kelistrikan, porsi listrik dari batu bara bahkan meningkat dari 53,3% pada 2015 menjadi sekitar 61,5% pada 2024, sehingga transisi menuju energi rendah karbon berjalan lambat.
NEXT Indonesia Center - Transisi energi menjadi salah satu agenda strategis paling krusial dalam pembangunan Indonesia saat ini. Namun, struktur energi nasional masih “kecanduan” bahan bakar fosil sehingga langkah menuju sistem energi rendah karbon berjalan lambat.
MOST POPULAR
- Daya Beli Masyarakat Tertekan, Masyarakat Pilih Nabung Dibanding Belanja
- Porsi Pekerja Informal Terus Menyusut
- Kinerja Industri Pengolahan Beri Sinyal Momentum Reindustrialisasi
- Tingkat Ketimpangan Terendah Dalam 18 Tahun Terakhir
- Daftar Daerah dengan Kualitas Hidup Terbaik di Indonesia, Denpasar Juaranya
“Selama fondasi sistem energinya tetap berbasis fosil, target penurunan emisi jelas akan sulit tercapai,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Lebih lanjut Christiantoko menjelaskan, komitmen Indonesia terhadap penurunan emisi sendiri telah dituangkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang disampaikan kepada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Pemerintah kemudian memperbarui komitmen tersebut melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) pada 2025 yang menargetkan penurunan emisi secara signifikan hingga tahun 2030 dan 2035 sebagai bagian dari jalur menuju target net zero emission (NZE) pada 2060.
“Di atas kertas, target penurunan emisi Indonesia memang terlihat ambisius. Namun implementasinya tidak mudah karena struktur energi nasional masih sangat bergantung pada batu bara,” ungkapnya.
NEXT Indonesia Center lantas menyoroti pergeseran drastis struktur emisi Indonesia. Jika pada awal tahun 2000-an emisi nasional didominasi oleh sektor kehutanan (FOLU), kini sektor energi telah mengambil alih sebagai penyumbang emisi paling dominan. Kontribusi emisi dari sektor energi bahkan telah melampaui angka 50% dalam beberapa tahun terakhir.
"Tren ini jelas sangat mengkhawatirkan karena emisi energi bersifat lebih konsisten dan sulit ditekan. Sumber emisi energi tersebut berasal dari pembangkit listrik berbasis batu bara, transportasi berbahan bakar minyak, dan aktivitas industri," pungkasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan emisi dari sektor energi meningkat dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2000, emisi energi tercatat sekitar 317 juta ton CO₂e, kemudian meningkat menjadi 752 juta ton CO₂e pada 2023.
Bahkan dibandingkan negara-negara ASEAN, Energy Institute mencatat emisi karbon Indonesia yang berasal dari energi merupakan yang tertinggi secara absolut. Pada 2024, emisi CO₂ dari energi Indonesia (sekitar 747 juta ton), jauh melampaui Malaysia (sekitar 296 juta ton), Thailand (sekitar 271 juta ton), Singapura (sekitar 248 juta ton), Filipina (sekitar 164 juta ton), dan Vietnam (sekitar 334 juta ton).
“Artinya dalam konteks ASEAN, Indonesia bukan hanya penghasil emisi terbesar, tetapi juga penentu arah dekarbonisasi kawasan. Jika Indonesia gagal mempercepat transisi energinya, target penurunan emisi regional pun akan ikut tertahan,” tegas Christiantoko.
Tersandera Energi Fosil
Ketergantungan Indonesia terhadap batu bara masih menjadi penghambat utama transisi energi. Pada 2024, dari total konsumsi energi primer sekitar 10,75 exajoules, batu bara menyumbang porsi terbesar yakni 43,9%, disusul minyak bumi 29,4% dan gas alam 15,8%. Sementara itu, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) masih terbatas sekitar 10,8%.
“Rendahnya porsi EBT Indonesia sebesar 10,8% ini tertinggal dibanding rata-rata global yang sudah lebih dari 19%. Padahal secara potensi teknis, Indonesia memiliki sumber daya surya, air, panas bumi, dan bioenergi yang melimpah. Ini menunjukkan bahwa tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kecepatan transformasi sistem energi,” ungkap Christiantoko.
Sementara jika melihat komposisi pembangkit listrik nasional sepanjang 2015–2024, batu bara masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Indonesia. Pada 2015, sumber energi ini menyumbang 53,3% produksi listrik nasional. Porsinya bahkan meningkat menjadi sekitar 61,5% pada 2024, artinya pertumbuhan kebutuhan listrik Indonesia selama ini masih dipenuhi oleh sumber energi berintensitas karbon tinggi.
Christiantoko menekankan bahwa keberhasilan transisi energi akan ditentukan oleh konsistensi antara target dan tindakan. "Tantangan kita bukan sekadar menambah energi terbarukan, melainkan keberanian untuk mengubah sistem energi nasional secara menyeluruh demi masa depan ekonomi hijau Indonesia," tutupnya.