Pelesiran Masih Milik Kelas Menengah
02 Januari, 2026
Pariwisata domestik pulih cepat pascapandemi. Perjalanan melonjak, tetapi belanja menurun. Kelas menengah dan Jawa jadi penopang utama wisata.
Keterangan foto: Ilustrasi sedang membawa koper.
Ringkasan
• Perjalanan Wisnus Pulih, Pola Berubah
Jumlah perjalanan wisata domestik melonjak tajam sejak 2023 dan menembus 1,02 miliar perjalanan pada 2024. Namun, belanja per perjalanan turun. Wisata bergeser ke trip singkat, jarak dekat, dan destinasi terjangkau. Mobilitas naik, efisiensi belanja jadi kunci.
• Jawa dan Kelas Menengah Mendominasi
Warga Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah menjadi penyumbang perjalanan terbesar. Tujuan wisata juga terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dari sisi pelaku, kelas menengah dan menuju kelas menengah menjadi tulang punggung wisata domestik, baik jumlah perjalanan maupun nilai belanja.
• Wisata Masih Elitis dan Sensitif Harga
Hanya sekitar 8% penduduk pernah berwisata ke luar daerah. Kelompok miskin nyaris tidak terlibat karena daya beli rendah. Keberlanjutan pariwisata sangat bergantung pada stabilitas pendapatan kelas menengah dan keterjangkauan biaya transportasi serta akomodasi.
MOST POPULAR
NEXT Indonesia Center - Pariwisata Indonesia mulai pulih setelah terpuruk cukup dalam selama masa pandemi Covid-19. Pembatasan perjalanan yang sempat menekan mobilitas masyarakat pada 2020-2022, perlahan berganti dengan lonjakan aktivitas wisata di dalam negeri. Namun, di balik gairah perjalanan wisata nusantara (wisnus), tidak semua kelompok masyarakat ikut bergerak dengan intensitas yang sama.
Perjalanan wisata domestik menjadi salah satu indikator penting untuk melihat dinamika mobilitas masyarakat dan daya tahan sektor pariwisata nasional. Pergerakan wisnus tidak hanya mencerminkan preferensi berlibur, tetapi juga berkaitan erat dengan pemulihan ekonomi, daya beli rumah tangga, kualitas infrastruktur transportasi, serta efektivitas kebijakan publik di sektor pariwisata dan pendukungnya.
Setelah fase pemulihan pada awal berakhirnya larangan perjalanan pada 2023 dan fase konsolidasi sepanjang 2024, tahun 2025 menjadi periode yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Pada fase ini, perjalanan wisata domestik tidak lagi semata didorong oleh efek pent-up demand (permintaan terpendam)1 pascapandemi, melainkan mulai menunjukkan pola yang lebih terstruktur.
1. Lonjakan permintaan yang kuat dan tiba-tiba untuk suatu produk atau layanan setelah periode di mana konsumen menahan diri untuk membeli karena kendala ekonomi atau faktor eksternal, menyebabkan keinginan untuk berbelanja ’’menumpuk’’ dan kemudian dilepaskan secara bersamaan saat hambatan hilang.
Pada publikasi ini NEXT Indonesia Center menelusuri dinamika perjalanan wisnus dengan melihat warga daerah mana yang paling sering jalan-jalan, wilayah mana yang paling diminati turis lokal, warga kelas ekonomi apa yang paling banyak berwisata, serta nilai ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas tersebut.
Namun, karena data perjalanan wisata dan kondisi ekonomi penduduk untuk tahun 2025 belum tersedia lengkap, NEXT Indonesia Center membatasi pembahasan mengenai perjalanan, kunjungan, dan nilai ekonomi hanya sampai data tahun 2024.
Belanja Lebih Kecil, Tapi Perjalanan Meningkat
Setelah sempat terpuruk saat pandemi menghantam sejak awal 2020 hingga 2022, dunia pariwisata Indonesia mulai kembali menggeliat. Minat wisatawan nusantara (wisnus) untuk kembali pelesiran semakin masif sejak 2023. Pada tahun itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat para wisnus melakukan 839,7 juta perjalanan, naik dari 734,9 juta perjalanan pada 2022.
Mobilitas para pelancong semakin menguat pada tahun 2024. Kementerian Pariwisata dalam Laporan Kinerja 2024 mencatat kenaikan jumlah perjalanan wisata domestik sebesar 21,61%, menjadi 1,02 miliar perjalanan. Angka ini menunjukkan wisata domestik tidak hanya pulih, tetapi mulai menjadi kebiasaan baru yang lebih stabil.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa jumlah perjalanan wisnus sejak Januari hingga September 2025 selalu lebih tinggi setiap bulan bila dibandingkan 2023 dan 2024. Total perjalanan yang tercatat pada periode sembilan bulan awal 2025 itu mencapai 901,9 juta perjalanan. Diperkirakan hingga akhir tahun nanti jumlahnya akan melewati pencapaian pada 2024.
Pulihnya sektor wisata juga menunjukkan kondisi ekonomi yang membaik. Daya beli masyarakat semakin tumbuh. Menurut laporan Kemenpar, setiap wisnus rata-rata menghabiskan Rp2,3 juta per perjalanan pada tahun 2024. Memang sedikit turun dibandingkan Rp2,7 juta per perjalanan pada 2023, tetapi jumlah perjalanan, seperti telah disebutkan sebelumnya, melonjak 21,61%.
Di balik angka-angka tersebut, pola berwisata masyarakat juga mengalami perubahan. Liburan singkat, perjalanan bersama keluarga, pemanfaatan libur panjang, serta pilihan destinasi yang lebih dekat dan terjangkau semakin menonjol. Infrastruktur transportasi yang membaik, promosi pariwisata yang lebih agresif, serta tumbuhnya destinasi-destinasi alternatif ikut mendorong meningkatnya minat berwisata di dalam negeri.
Cara BPS Menghitung Perjalanan Wisata
Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan perjalanan wisata domestik sebagai kegiatan warga Indonesia bepergian ke suatu tempat di dalam negeri untuk rekreasi di luar tempat tinggalnya dalam jangka waktu sementara. Jadi, perjalanan wisata dihitung saat warga meninggalkan rumah mereka dan masuk ke tempat wisata, meski mungkin lokasinya berjarak dekat dari rumah mereka.
Dengan demikian, perjalanan wisata tidak selalu berarti melancong lintas provinsi atau pulau. Seorang warga bisa saja berwisata berpuluh kali dalam setahun, sehingga wajar bila angka perjalanan wisata jauh lebih besar daripada total populasi Indonesia.
Data yang disajikan, seperti dijelaskan BPS, berbasis pada Mobile Positioning Data (MPD) dan Survei Digital Wisatawan Nusantara. Survei dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Indonesia dengan cara mengirimkan tautan kuesioner yang disiapkan di web survey. Sementara, pengumpulan data dengan menggunakan MPD merupakan salah satu pemanfaatan teknologi informasi atau big data dalam pengembangan metode penghitungan statistik wisatawan nusantara.
Warga Jawa Timur Paling Banyak Berwisata
Sebagai pulau paling padat penduduk di Indonesia, tak heran bila warga lima provinsi di Pulau Jawa menjadi penyumbang terbesar perjalanan wisata domestik. Pada tahun 2024 wisatawan asal Jawa Timur menjadi yang teratas dengan 204,9 juta perjalanan wisata atau sekitar 20,07% dari total 1,02 miliar perjalanan wisata domestik sepanjang tahun itu.
Jawa Barat bertengger di posisi kedua dengan 180,6 juta perjalanan dan Jawa Tengah melengkapi tiga besar dengan 131,8 juta perjalanan. DKI Jakarta menempati peringkat keempat dengan 90,5 juta perjalanan wisata dan Banten di urutan kelima dengan 61,9 juta perjalanan wisata domestik.
Sumatra Utara menjadi daerah di luar Jawa dengan jumlah warga yang melakukan perjalanan wisata terbanyak, mencapai 42,2 juta perjalanan. Sementara, dengan populasi sekitar 562.000 jiwa, warga Papua Selatan—provinsi yang baru terbentuk tahun 2022—mencatatkan jumlah perjalanan wisata paling sedikit di Indonesia, yakni hanya 294,4 ribu perjalanan wisata dilakukan penduduknya sepanjang 2024.
Tujuan Terpopuler Turis Domestik
Provinsi-provinsi di Pulau Jawa juga mendominasi daftar daerah yang paling sering dikunjungi wisatawan domestik. Jawa Timur menempati peringkat pertama dengan 218,7 juta kunjungan tercatat di berbagai lokasi wisata di provinsi tersebut.
Provinsi dengan 42 juta penduduk itu juga memiliki beragam obyek wisata, mulai dari pegunungan di Bromo, pantai di Banyuwangi, hingga wisata kuliner di berbagai tempat. Selain itu, aksesnya juga semakin mudah dengan pembangunan ruas tol baru, termasuk yang menuju ke Banyuwangi, hingga bandara seperti di Kediri.
Tabel di atas menunjukkan kunjungan wisata sepanjang 2024 terserap oleh daerah-daerah di Pulau Jawa. Dominasi provinsi di Pulau Jawa menunjukkan bahwa kepadatan penduduk, akses transportasi, dan jarak tempuh masih menjadi faktor penentu utama mobilitas wisata domestik.
Provinsi Bali, ikon pariwisata Indonesia, berada di tempat ke-9 dengan 22,6 juta kunjungan wisatawan domestik pada tahun 2024. Sementara, seluruh provinsi di Papua mencatatkan kunjungan wisatawan domestik yang paling sedikit. Meskipun memiliki alam yang indah, seperti Raja Ampat, Taman Nasional Lorentz, hingga Pegunungan Jayawijaya, wisatawan domestik sepertinya masih terkendala oleh mahal dan terbatasnya transportasi, serta relatif terbatasnya akses dan fasilitas wisata di pulau paling timur Indonesia itu.
Hasrat Pelesiran Terhambat Isi Kantong
Meski jumlah perjalanan wisatawan domestik menembus angka miliar, tetapi data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa wisata domestik masih merupakan aktivitas yang eksklusif. Kondisi ekonomi masyarakat masih jadi pengaruh yang dominan.
Secara agregat, seperti tampak pada tabel di bawah, hanya 7,77% penduduk Indonesia yang tercatat pernah berwisata ke luar kabupaten/kota tempat mereka tinggal pada periode 2023-2024. Jadi, hanya sekitar delapan dari 100 orang yang pernah pelesiran dalam setahun terakhir.
Data di atas juga menunjukkan realitas: semakin tinggi kelompok ekonomi warga, semakin banyak yang pergi berlibur. Sebagai contoh, dalam setahun terakhir, sekitar 33,47% atau 30 dari 100 warga kelas atas pernah berwisata keluar kabupaten/kota tempat mereka tinggal. Bandingkan dengan hanya 2,14% dari kelompok warga miskin yang pernah berwisata.
Akan tetapi, bila dilihat dari angka absolut tampak jelas bahwa industri pariwisata domestik ditopang oleh warga menuju kelas menengah dan kelas menengah. Ada 10,4 juta warga menuju kelas menengah yang pernah melancong keluar kabupaten/kota tempat mereka tinggal. Kelompok kelas menengah menyusul di posisi kedua dengan total 7,6 juta orang yang menyatakan pernah berwisata dalam setahun terakhir.
Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa posisi ekonomi seseorang berpengaruh besar terhadap peluang mereka untuk bepergian. Tampak jelas juga, keberlanjutan pertumbuhan wisata domestik sangat bergantung pada penguatan daya beli kelompok menuju kelas menengah dan kelas menengah.
Dominasi Kelas Menengah
Berwisata masih jadi barang mahal di Indonesia. Tak heran jika dana yang dialokasikan sangat kecil, hanya nol koma persen dari total pengeluarannya.
Data pengeluaran rumah tangga memperlihatkan bahwa kemampuan melancong masyarakat sangat ditentukan oleh kemampuan kantongnya. Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan memang meningkat tajam seiring naiknya kelompok ekonomi, tetapi yang lebih menentukan adalah seberapa besar porsi belanja non-makanan yang bisa dialokasikan untuk perjalanan wisata dan akomodasi.
Pada kelompok miskin, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 menunjukkan, rata-rata pengeluaran untuk wisata hanya 0,016% dari rata-rata pengeluaran per kapita per bulan yang sebesar Rp481.716. Secara keseluruhan, masyarakat di kelompok ekonomi tergolong miskin menyumbang Rp100 juta.
Tak heran jika bagi kelompok miskin, wisata nyaris tak masuk dalam struktur konsumsi. Jatah belanja lebih sering habis untuk kebutuhan dasar.
Kelompok rentan miskin menunjukkan perbaikan, tetapi masih terbatas dengan porsi belanja wisata hanya 0,04% dari pengeluaran. Wisata mulai muncul sebagai aspirasi, tetapi tetap sangat rentan terhadap tekanan harga dan pendapatan.
Perubahan penting terlihat pada kelompok menuju kelas menengah. Rata-rata pengeluaran per kapita mencapai Rp1,3 juta/bulan, dengan belanja non-makanan Rp576.830.
Porsi pengeluaran untuk perjalanan wisata naik menjadi 0,06%, menghasilkan nilai belanja wisata secara agregat sekitar Rp15,9 miliar/bulan. Inilah kelompok yang mulai menjadikan wisata sebagai bagian dari konsumsi rutin, meskipun masih sangat selektif terhadap biaya dan destinasi.
Lonjakan paling nyata terjadi pada kelompok kelas menengah. Dengan pengeluaran per kapita sekitar Rp3,4 juta/bulan, porsi belanja untuk penginapan mencapai 0,14%, dan untuk perjalanan wisata 0,15%. Secara nominal, kelompok ini menyumbang Rp132,1 miliar/bulan untuk perjalanan wisata dan Rp226,5 miliar/bulan untuk akomodasi. Ini menegaskan posisi kelas menengah sebagai penopang utama industri pariwisata domestik, bukan hanya dari sisi jumlah pelaku perjalanan, tetapi juga nilai belanjanya.
Pada kelompok kelas atas, pola konsumsi berubah drastis. Meski jumlah penduduknya kecil, rata-rata pengeluaran per kapita mencapai Rp14,4 juta/bulan, dengan belanja non-makanan Rp11,7 juta/bulan. Porsi pengeluaran untuk hotel/penginapan mencapai 0,79%, dan perjalanan wisata 0,40%. Nilai belanja wisata kelompok ini sekitar Rp98,4 miliar/bulan, tidak terlalu jauh dari kelompok kelas menengah, meskipun basis penduduknya jauh lebih sedikit. Ini menunjukkan intensitas dan kualitas belanja wisata warga kelas atas yang jauh lebih tinggi.
Kesimpulannya, pertumbuhan wisata domestik Indonesia sangat bergantung pada kesehatan daya beli kelas menengah. Selama kelompok menuju kelas menengah mampu naik kelas dan kelas menengah tetap terjaga daya belinya, sektor pariwisata akan memiliki basis permintaan yang berkelanjutan. Sebaliknya, tekanan ekonomi pada kelompok ini akan langsung tercermin pada melambatnya pergerakan dan belanja wisata domestik.
Rumuskan Kebijakan Wisata Berbasis Data
Keberlanjutan pertumbuhan wisata domestik Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan dalam menjaga daya beli kelas menengah. Data menunjukkan bahwa warga menuju kelas menengah dan kelas menengah merupakan penggerak utama perjalanan wisata, baik dari sisi jumlah pelaku maupun nilai belanja. Karena itu, kebijakan pariwisata tidak dapat berdiri sendiri, melainkan perlu terhubung dengan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas harga dan pendapatan riil rumah tangga.
Menekan biaya perjalanan menjadi kunci penting. Bagi kelas menengah, keputusan berwisata sangat sensitif terhadap harga transportasi dan akomodasi.
Peningkatan efisiensi dan integrasi transportasi darat, laut, dan udara perlu diprioritaskan agar perjalanan wisata tetap terjangkau tanpa membebani fiskal melalui subsidi besar. Langkah ini sekaligus membantu menjaga frekuensi perjalanan di tengah tekanan biaya hidup.
Ketimpangan spasial pariwisata juga perlu ditangani secara realistis. Dominasi Pulau Jawa mencerminkan kuatnya peran aksesibilitas dan jarak tempuh. Pengembangan pariwisata di luar Jawa sebaiknya difokuskan pada perbaikan konektivitas dan penguatan rute yang memiliki potensi permintaan domestik, bukan sekadar promosi destinasi unggulan.
Animo masyarakat akan perjalanan wisata singkat dan berjarak dekat perlu direspons dengan penguatan destinasi regional dan wisata berbasis kota atau kabupaten. Strategi ini lebih sesuai dengan preferensi kelas menengah dan berpotensi menyebarkan manfaat ekonomi pariwisata secara lebih merata.
Pada akhirnya, perumusan kebijakan pariwisata perlu semakin berbasis data perjalanan wisata. Pendekatan yang berfokus pada penguatan basis permintaan kelas menengah, alih-alih mengandalkan segmen kelas atas yang jumlahnya terbatas, akan membuat pariwisata domestik lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan.