Kinerja Industri Pengolahan Beri Sinyal Momentum Reindustrialisasi
05 Februari, 2026
Industri pengolahan tumbuh 5,30% pada 2025, tertinggi 13 tahun dan melampaui ekonomi nasional, memberi sinyal kuat kebangkitan reindustrialisasi.
Keterangan foto: Ilustrasi barang di pabrik.
DOWNLOADS
Press Release - Kinerja Industri Pengolahan Beri Sinyal Momentum Reindustrialisasi
Ringkasan
• Industri Pengolahan Jadi Motor Baru Pertumbuhan
Industri pengolahan tumbuh 5,30% pada 2025, tertinggi dalam 13 tahun dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,11%. Ini menjadi sinyal kuat dimulainya kembali fase reindustrialisasi dan penguatan basis produksi nasional.
• Momentum Strategis Butuh Kebijakan Berkelanjutan
Kinerja ini menandai titik balik pembangunan ekonomi. Namun dampak jangka panjang hanya tercapai jika didukung kebijakan konsisten, investasi teknologi, penguatan SDM, hilirisasi, dan integrasi rantai nilai global.
• Dampak Langsung ke Lapangan Kerja dan Ekonomi Riil
Industri pengolahan menyerap 20,51 juta tenaga kerja pada November 2025. Penguatan sektor ini mendorong efek berantai ke logistik, perdagangan, dan jasa, sekaligus membuka peluang menuju target pertumbuhan 8%.
MOST POPULAR
- Atasi "Akal-akalan" Misinvoicing, Pemerintah Harus Nyatakan Penghindaran Pajak dan Tetapkan Bea Keluar Ekspor Batu Bara
- Inilah Daftar Bank Penguasa Dana Masyarakat
- Simulasi Bea Keluar Batu Bara 2026: Ada Potensi Tambahan Kas Negara Rp19 Triliun
- Musim Gugur Batu Bara: Harga Anjlok, Ekspor Turun, dan Upah Pekerja Tergerus
- Momentum Peningkatan Tata Kelola Ekspor Emas
NEXT Indonesia Center - Industri pengolahan mencapai pertumbuhan tahunan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Kinerja sektor usaha tersebut berpeluang menjadi engine of growth dalam mendorong produktivitas dan daya saing jangka panjang melalui reindustrialisasi.
Informasi ini terungkap dalam pengumuman kinerja perekonomian nasional yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Kamis (5/2/2026). Lembaga tersebut mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11%.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko mengungkapkan, pertumbuhan industri pengolahan yang 5,30% itu merupakan tertinggi dalam 13 tahun terakhir atau sejak 5,62% pada tahun 2012. Lebih penting lagi, untuk pertama kalinya sejak 2011, pertumbuhan industri pengolahan kembali melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ini memberi sinyal jelas bahwa Indonesia diharapkan akan kembali memasuki fase reindustrialisasi—bukan sekadar pemulihan, tetapi penguatan kembali basis produksi nasional,” ujarnya di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Dia menilai, capaian tersebut merupakan titik balik penting bagi strategi pembangunan ekonomi Indonesia. "Kembalinya industri pengolahan tumbuh lebih cepat dari ekonomi adalah sinyal strategis. Ini menunjukkan bahwa fondasi produksi kita mulai menguat kembali," ujar Christiantoko.
Christiantoko menambahkan, momentum tersebut harus diiringi kebijakan yang tepat agar tidak bersifat sementara. Reindustrialisasi, lanjutnya, bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi tentang membangun ekosistem industri yang lebih produktif, inovatif, dan terintegrasi dengan rantai nilai global.
Menurut dia, kunci keberhasilan ke depan terletak pada investasi jangka panjang di teknologi dan sumber daya manusia. "Jika momentum ini dijaga dengan dorongan hilirisasi, adopsi teknologi yang lebih cepat, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja, Indonesia punya peluang nyata memasuki fase industrialisasi yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan," tuturnya.
Titik balik peran penting industri pengolahan ini menjadi semakin bermakna karena industri pengolahan bukan sekadar engine of growth, tetapi juga mesin pencipta lapangan kerja. Data ketenagakerjaan menunjukkan, pada November 2025, industri pengolahan menyerap 20,51 juta tenaga kerja, atau sekitar 13,87% dari total tenaga kerja nasional 147,91 juta. Dengan porsi tersebut, industri pengolahan menjadi salah satu dari tiga lapangan usaha penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, di bawah kelompok pertanian (28,00%) dan perdagangan (18,67%).
Oleh karena itu, saat industri pengolahan menguat, dampaknya akan terasa langsung ke masyarakat. Aktivitas pabrik yang meningkat biasanya berujung pada efek berantai (multiplier effect). Ada lebih banyak tenaga kerja yang diserap, permintaan logistik yang meningkat, hingga mendorong penguatan sektor perdagangan dan jasa pendukung lainnya.
Walau demikian, menurut Christiantoko, tantangan yang dihadapi tentu masih ada, seperti peningkatan produktivitas, kualitas SDM industri, adopsi teknologi, dan penguatan rantai pasok domestik. Namun, pertumbuhan sektor industri pengolahan pada 2025 telah membuka peluang strategis untuk menjadikan reindustrialisasi sebagai agenda besar guna mewujudkan target pertumbuhan 8% yang telah dicanangkan pemerintah.
Jika momentum ini terus dijaga dan diperkuat dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpeluang memasuki babak baru industrialisasi yang lebih modern, berorientasi nilai tambah, dan kompetitif di pasar global. Kebijakan yang komprehensif dan konsisten juga diperlukan agar arus investasi ke sektor manufaktur tetap terjaga dan bahkan meningkat.