Kejutan Industri Pengolahan
27 Maret, 2026
Industri pengolahan tumbuh 5,30% pada 2025, melampaui ekonomi nasional. Capaian ini memicu harapan awal kebangkitan industri setelah lama tertinggal.
Keterangan foto: Ilustrasi industri pengolahan makanan.
Ringkasan
• Kebangkitan Industri Pengolahan pada 2025
Pada tahun 2025, industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,30% secara tahunan, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%. Ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade sektor ini tumbuh lebih cepat dari ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, nilai tambah industri pengolahan mencapai sekitar Rp2.757 triliun, tertinggi sepanjang sejarah. Capaian ini memberikan sinyal bahwa sektor manufaktur Indonesia masih memiliki potensi besar untuk kembali menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
• Struktur Industri Terbelah: Sunrise dan Sunset Industry
Pemetaan subsektor industri menunjukkan adanya fragmentasi dalam struktur industri pengolahan. Beberapa subsektor seperti logam dasar, mesin dan perlengkapan, kimia, serta elektronik tergolong sebagai sunrise industry karena memiliki pertumbuhan tinggi dan prospek ekspansi yang kuat. Sebaliknya, subsektor seperti tekstil, karet dan plastik, kayu, furnitur, serta tembakau menghadapi tekanan sehingga dikategorikan sebagai sunset industry. Perbedaan kinerja ini menunjukkan bahwa transformasi industri sedang berlangsung, namun belum merata di seluruh subsektor.
• Tantangan Ketenagakerjaan dan Investasi Industri
Meskipun industri pengolahan masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar dengan sekitar 20,3 juta pekerja pada 2025, pertumbuhan lapangan kerja tidak merata antar subsektor. Industri berbasis teknologi dan hilirisasi cenderung menyerap lebih sedikit tenaga kerja dibanding sektor padat karya tradisional yang justru mengalami tekanan. Di sisi lain, investasi industri memang meningkat menjadi Rp780,9 triliun, tetapi kontribusinya terhadap total investasi nasional menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa reindustrialisasi mulai terlihat, tetapi masih parsial dan memerlukan kebijakan yang lebih kuat agar pertumbuhan industri lebih inklusif dan berkelanjutan.
MOST POPULAR
- Kinerja Industri Pengolahan Beri Sinyal Momentum Reindustrialisasi
- Porsi Pekerja Informal Terus Menyusut
- Daya Beli Masyarakat Tertekan, Masyarakat Pilih Nabung Dibanding Belanja
- Daerah-daerah Penyumbang Sampah Terbesar di Indonesia, Jakarta Timur Juaranya
- Pengelolaan Sampah di Indonesia Semakin Memburuk
NEXT Indonesia Center - Ada cerita menarik dari industri pengolahan di tahun 2025. Saat itulah, kali pertama dalam 13 tahun terakhir, pertumbuhannya yang 5,30% secara tahunan, melampaui kinerja perekonomian nasional yang naik 5,11%.
Industri pengolahan merupakan penyerap tenaga kerja terbesar ketiga di antara 17 lapangan usaha yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlahnya mencapai 20,3 juta orang pada Agustus 2025, kemudian menjadi 20,5 juta orang per November di tahun yang sama. Pada tahun lalu, sektor ini masih menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional, yakni mencapai 19,07%. Jika lapangan usaha pengolahan tersuruk, peluang menyeret perekonomian nasional sangat besar.
Karena itu, kabar baik dari kinerja industri pengolahan bisa jadi harapan. Maklum, sepanjang periode 2012–2024, secara konsisten tumbuh lebih lambat dibandingkan ekonomi nasional. Dalam fase tersebut, sektor industri tidak lagi menjadi motor utama pertumbuhan, tertinggal di belakang sektor lain, khususnya jasa. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran mengenai terjadinya deindustrialisasi dini, saat peran industri melemah sebelum Indonesia mencapai tingkat pendapatan yang cukup tinggi.
Padahal, dalam lintasan sejarahnya, industri pengolahan pernah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pada masa ekspansi industri, kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai puncak sebesar 25,99% pada tahun 1997. Namun, sejak krisis ekonomi 1998, perannya secara bertahap makin layu.
Kini, sumbangsih industri pengolahan terus meningkat dan mencapai level tertinggi pada tahun 2025, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) harga konstan sekitar Rp2.757 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas industri tetap berkembang, meskipun perannya dalam struktur ekonomi tertekan sektor lain. Kombinasi antara pertumbuhan yang mulai menguat dan skala ekonomi yang semakin besar menjadi indikasi bahwa sektor ini masih berpotensi untuk kembali menjadi motor pertumbuhan.
Dalam konteks tersebut, review yang disusun oleh NEXT Indonesia Center ini mencoba menguak kembali perkembangan industri pengolahan di Indonesia. Kajian ini membahas dinamika industri pengolahan dari sisi pertumbuhan dan kontribusi terhadap PDB nasional, serta mendalami perkembangan pada tingkat subsektor, termasuk identifikasi pola sunrise dan sunset industry.
Selain itu, review ini juga akan mengulas tren pertumbuhan dan kontribusi antar-subsektor, termasuk peringkat kinerja subsektor pada tahun 2025. Untuk memberikan gambaran yang lebih utuh, analisis turut mencakup aspek fundamental lainnya, seperti serapan tenaga kerja serta realisasi investasi, baik investasi asing (Penanaman Modal Asing, PMA) maupun investasi domestik (Penanaman Modal Dalam Negeri, PMDN) pada subsektor industri pengolahan.
Dengan pendekatan tersebut, kajian ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih jeli mengenai posisi dan arah industri pengolahan dalam perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, pertanyaan kunci yang ingin dijawab adalah apakah capaian tahun 2025 merupakan titik awal reindustrialisasi, atau sekadar anomali sementara dalam tren jangka panjang.
Naik Turun Industri Pengolahan
Gairah industri pengolahan mencapai puncaknya di akhir 1990-an, setelah itu kinerjanya terus melandai. Bahkan setelah tahun 2012, lapangan usaha tersebut tak lagi mampu tumbuh di kisaran 5-6%. Karena itu, pencapaian tahun 2025 dengan tumbuh 5,30% bahkan berada di atas kinerja perekonomian nasional secara total, menjadi kejutan baru.
Padahal, selama beberapa dekade terakhir, industri pengolahan merupakan satu di antara pilar utama dalam struktur perekonomian Indonesia. Perannya tidak hanya sebagai penyumbang nilai tambah terbesar terhadap perekonomian nasional atau Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga sebagai penggerak transformasi ekonomi dari berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis produksi dan manufaktur.
Dengan merentangkan data sejak 1960 hingga 2025, dinamika industri pengolahan memperlihatkan pola yang erat dengan siklus ekonomi nasional dan global. Pada fase ekspansi industri, khususnya 1980-an hingga pertengahan 1990-an, sektor ini tumbuh cepat dengan kontribusi terhadap PDB yang terus meningkat, bahkan mencapai 25,99% pada 1997. Namun, krisis ekonomi 1998 menjadi titik balik, ketika kontraksi tajam terjadi dan pemulihan berlangsung secara bertahap dalam tahun-tahun berikutnya.
Memasuki era 2000-an hingga awal 2010-an, industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar PDB, tetapi mulai menghadapi tantangan struktural. Globalisasi, kompetisi manufaktur dari negara lain, serta kecenderungan deindustrialisasi prematur menyebabkan pertumbuhan sektor ini tidak lagi sekuat sebelumnya.
Boleh dikata, industri pengolahan pada periode tersebut seperti terlupakan. Bayangkan, tren kontribusinya menurun dari kisaran di atas 24% menjadi sekitar 21% pada pertengahan 2010-an, dan terus melemah hingga berada di bawah 20% dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih lanjut, dalam 13 tahun terakhir (2012–2024), pertumbuhan industri pengolahan secara konsisten berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran sektor industri sebagai motor utama pertumbuhan mulai tergeser, dengan sektor lain mengambil peran yang lebih dominan, terutama jasa. Fenomena ini menjadi sinyal adanya tantangan serius dalam proses industrialisasi Indonesia, baik dari sisi daya saing, investasi, maupun produktivitas.
Namun demikian, perkembangan terbaru pada tahun 2025 memberikan sinyal yang berbeda. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,30% year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada angka 5,11%. Ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade sektor industri kembali tumbuh melampaui pertumbuhan ekonomi secara agregat. Dengan demikian, tahun 2025 dapat dikatakan sebagai titik balik awal yang menandai potensi kebangkitan kembali sektor industri pengolahan.
Tidak hanya itu, nilai tambah industri pengolahan juga terus meningkat, dengan PDB harga konstan mencapai sekitar Rp2.757 triliun pada 2025, tertinggi sepanjang sejarah. Meskipun kontribusinya terhadap PDB nasional masih berada di kisaran 19%, tren pertumbuhan yang mulai menguat memberikan indikasi bahwa sektor ini kembali mendapatkan momentum, seiring dengan berbagai kebijakan hilirisasi, penguatan industri domestik, dan dorongan investasi manufaktur.
Memetakan Industri Masa Depan
NEXT Indonesia Center memetakan subsektor yang berperan dalam mendorong pertumbuhan industri pengolahan sepanjang tahun 2025. Pemetaan ini penting untuk melihat subsektor yang masih tumbuh kuat dan berpotensi memberikan dorongan maksimal bagi berperan pertumbuhan ekonomi nasional, serta subsektor yang pertumbuhannya stagnan atau mesinnya mulai melemah.
Tipologi Klassen digunakan untuk mengklasifikasikan subsektor yang tengah bersinar dan yang mulai tampak senja.
Sekilas Tipologi Klassen, Metode Analisis yang Digunakan
Tipologi Klassen adalah alat analisis ekonomi yang digunakan untuk mengklasifikasikan wilayah atau sektor ekonomi ke dalam empat kuadran berdasarkan dua indikator utama: pertumbuhan (sumbu vertikal) dan kontribusi (sumbu horizontal). Tipologi ini membantu untuk mengidentifikasi sektor yang maju, berkembang, tertinggal, atau berpotensi maju.
• Kuadran I: Sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat dengan pertumbuhan dan kontribusi yang tinggi bila dibandingkan dengan rata-rata.
• Kuadran II: Sektor yang tengah berkembang, ditandai dengan pertumbuhan yang tinggi tetapi kontribusi masih rendah, di bawah rata-rata.
• Kuadran III: Sektor yang berkembang tetapi tertekan, ditandai dengan pertumbuhan yang rendah tetapi kontribusi tinggi.
• Kuadran IV: Sektor yang relatif terbelakang dengan pertumbuhan dan kontribusi yang sama-sama lebih rendah dibandingkan rata-rata.
Berikut ini klasifikasi dari 17 subsektor dalam industri pengolahan dengan menggunakan Tipologi Klassen:
Hasil pemetaan melalui Tipologi Klassen menunjukkan bahwa struktur industri pengolahan Indonesia pada tahun 2025 masih didominasi oleh beberapa subsektor utama dengan karakteristik yang berbeda. Tampak jelas pula bahwa industri pengolahan tidak bergerak seirama. Sebagian subsektor melaju cepat dengan pertumbuhan tinggi dan dukungan kebijakan yang kuat, sementara sebagian lainnya tertinggal, bahkan mengalami kontraksi. Jadi, ada fragmentasi yang tajam.
Fenomena ini mencerminkan munculnya dua wajah dalam struktur industri pengolahan, yaitu sunrise industry—subsektor yang tumbuh cepat dan memiliki prospek ekspansi—dan sunset industry, yakni subsektor yang mengalami stagnasi atau penurunan peran. Pergeseran ini tidak hanya bersifat siklis, tetapi juga mencerminkan perubahan struktural dalam ekonomi Indonesia.
Ketika pada tahun 2025 industri pengolahan secara agregat kembali tumbuh lebih tinggi dari ekonomi nasional, ternyata kinerjanya tidak terjadi secara merata. Sebaliknya, industri tersebut didorong oleh kelompok subsektor tertentu yang menjadi motor utama, sementara subsektor lainnya tertinggal di belakang.
Mereka yang Bersinar
Kelompok sunrise industry ditandai oleh kombinasi pertumbuhan tinggi dan potensi ekspansi jangka panjang. Subsektor
yang masuk kategori ini sebagian besar berkaitan dengan hilirisasi, penguatan basis manufaktur, serta peningkatan kompleksitas industri.
Industri logam dasar (Kuadran III) menjadi contoh paling menonjol. Dengan pertumbuhan mencapai 15,71% pada tahun 2025 dan rata-rata pertumbuhan lima tahun sebesar 13,90%, subsektor ini menunjukkan akselerasi yang luar biasa. Kinerja tersebut tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi mineral yang mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Dari sebelumnya berorientasi ekspor bahan mentah, industri ini kini bergerak ke arah pengolahan lanjutan yang lebih bernilai.
Selain itu, industri mesin dan perlengkapan (Kuadran III) juga menunjukkan dinamika yang kuat dengan pertumbuhan 13,98% pada 2025. Meskipun kontribusinya masih relatif kecil, subsektor ini memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan kapasitas produksi nasional. Pertumbuhan di sektor ini sering kali menjadi indikator meningkatnya investasi dan aktivitas industrialisasi secara luas.
Kelompok sunrise juga mencakup subsektor dengan kontribusi besar dan pertumbuhan stabil, seperti industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan istrik [Kuadran I]. Kedua subsektor ini mencerminkan peningkatan kompleksitas industri dan integrasi dalam rantai pasok global.
Di sisi lain, industri alat angkutan [Kuadran I] menunjukkan pemulihan yang signifikan dengan pertumbuhan 6,27% dan kontribusi yang cukup besar. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor manufaktur berbasis teknologi menengah mulai kembali bergerak setelah sempat terpukul selama pandemi.
Menariknya, industri makanan dan minuman [Kuadran I], meskipun bukan subsektor baru, tetap masuk dalam kelompok sunrise karena kombinasi kontribusi terbesar (37,41%) dan pertumbuhan (4,84%) yang stabil di atas rata-rata. Ini menunjukkan bahwa sektor berbasis konsumsi domestik tetap menjadi fondasi utama industri di Indonesia.
Mereka yang Tertekan
Di sisi lain, terdapat kelompok subsektor yang menghadapi tekanan signifikan, baik dari sisi pertumbuhan maupun kontribusi. Kelompok ini dapat dikategorikan sebagai sunset industry. Bisa jadi mereka tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi perannya dalam struktur industri semakin tergerus.
Subsektor seperti industri tekstil dan pakaian jadi, yang sebelumnya menjadi andalan industri padat karya, kini menunjukkan pertumbuhan yang relatif rendah dan volatil. Tekanan dari impor, perubahan rantai pasok global, serta persaingan biaya produksi menjadi faktor utama yang menghambat kinerjanya.
Hal serupa juga terjadi pada industri karet dan plastik, yang bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,07% pada tahun 2025. Kinerja ini mencerminkan tekanan baik dari sisi permintaan global maupun dinamika harga bahan baku. Dalam jangka panjang, subsektor ini menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan daya saing.
Industri kayu dan produk turunannya serta industri furnitur juga berada dalam posisi yang relatif tertinggal. Meskipun memiliki potensi berbasis sumber daya lokal, keterbatasan inovasi, efisiensi produksi, dan akses pasar membuat pertumbuhannya cenderung stagnan.
Sementara itu, industri pengolahan tembakau menunjukkan pola pertumbuhan yang tidak stabil dan cenderung melemah, dipengaruhi oleh perubahan regulasi dan tekanan kebijakan kesehatan. Kondisi ini menempatkan subsektor tersebut dalam posisi yang semakin marginal dalam struktur industri.
Industri Makanan, Penyerap Tenaga Kerja Terbesar
Selain sebagai kontributor utama terhadap perekonomian nasional (Produk Domestik Bruto, PDB), industri pengolahan juga berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja. Pada tahun 2025, total tenaga kerja di sektor tersebut mencapai 20,3 juta orang, tumbuh 1,49% dari 20,01 juta orang pada 2024. Pencapaian itu sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tenaga kerja nasional yang 1,31%.
Kontribusi industri pengolahan terhadap total tenaga kerja nasional juga tetap signifikan, yaitu sebesar 13,86%. Hal ini menegaskan bahwa sektor industri masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, meskipun perannya mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun demikian, dinamika penyerapan tenaga kerja antar subsektor industri juga menunjukkan ketimpangan yang cukup jelas. Sebagian subsektor mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja secara signifikan, sementara sebagian lainnya justru mengalami penurunan.
Struktur tenaga kerja industri pengolahan masih didominasi oleh subsektor berbasis konsumsi domestik dan industri padat karya. Industri makanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan jumlah mencapai 6,14 juta orang pada tahun 2025, atau sekitar 4,19% dari total tenaga kerja nasional. Selain memiliki skala besar, subsektor ini juga mencatat pertumbuhan serapan tenaga kerja sekitar 6,13%, yang menunjukkan kemampuannya untuk ekspansi masih relatif kuat dan stabil.
Di posisi berikutnya, industri pakaian jadi (2,95 juta orang), industri kayu dan produk turunannya (1,45 juta orang), serta industri tekstil (1,01 juta orang). Ketiga subsektor ini merupakan bagian dari industri padat karya tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur.
Namun menariknya, meskipun memiliki basis tenaga kerja yang besar, tidak semua subsektor tersebut menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap sektor padat karya dalam mempertahankan perannya sebagai penyerap tenaga kerja utama.
Sementara itu, jika dilihat dari sisi pertumbuhan, terdapat pergeseran yang cukup mencolok dalam pola penyerapan tenaga kerja antar-subsektor. Pada tahun 2025, ada lima subsektor dengan pertumbuhan tenaga kerja tertinggi, yakni di atas 10%.

Pertumbuhan tinggi pada subsektor tersebut mencerminkan peningkatan aktivitas industri berbasis teknologi menengah serta penguatan rantai pasok manufaktur. Selain itu, ekspansi ini juga mengindikasikan bahwa subsektor kategori sunrise industry tidak hanya tumbuh dari sisi output, tetapi juga mulai menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang lebih besar.
Sebaliknya, sejumlah subsektor tampak mengalami tekanan, baik akibat efisiensi produksi, tergerus otomasi, maupun penurunan permintaan. Akibatnya, pertumbuhan tenaga kerja di subsektor tersebut terkontraksi alias menyusut sepanjang 2025. Industri farmasi dan obat tradisional tampak yang paling tertekan dengan pertumbuhan tenaga kerja -25,70%, disusul industri pengolahan tembakau -(-16,70%) dan furnitur -(-13,63%).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) itu juga memperlihatkan adanya hubungan yang cukup jelas antara kinerja subsektor dan dinamika ketenagakerjaan. Subsektor yang tergolong sunrise industry, seperti industri logam, elektronik, dan alat angkutan, tidak hanya menunjukkan pertumbuhan output yang tinggi, tetapi juga peningkatan penyerapan tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa proses industrialisasi yang terjadi mulai menciptakan lapangan kerja baru, meskipun dalam skala yang belum besar.
Di sisi lain, subsektor yang tergolong sunset industry, seperti tekstil, kayu, dan tembakau, justru mengalami penurunan tenaga kerja. Kondisi ini mencerminkan tekanan daya saing dan perubahan struktur permintaan yang berdampak langsung terhadap ketenagakerjaan.
Dengan demikian, transformasi industri yang sedang berlangsung berimplikasi langsung terhadap distribusi tenaga kerja antar subsektor.
Paradoks Investasi
Perkembangan industri pengolahan tidak dapat dilepaskan dari dinamika investasi yang mengalir ke dalamnya. Investasi, baik dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), merupakan indikator penting untuk membaca arah transformasi industri ke depan.
Pada tahun 2025, total investasi di sektor industri pengolahan mencapai Rp780,9 triliun, meningkat dari Rp721,3 triliun pada tahun 2024. Dengan demikian, sektor ini tumbuh sebesar 8,26% secara tahunan (year on year, yoy), meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 20,96%.
Namun demikian, kontribusi industri pengolahan terhadap total investasi nasional justru mengalami penurunan, dari 42,08% pada 2024 menjadi 40,44% pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun investasi di sektor industri tetap meningkat, laju pertumbuhannya mulai tertinggal dibandingkan sektor lain dalam perekonomian.
Melihat perkembangan realisasi investasi di industri pengolahan, tampak ada paradoks jika dilihat sekilas dan secara total. Industrinya masih tumbuh tinggi, namun minat investasi cenderung melambat. Ceritanya menjadi berbeda jika ditelisik secara parsial berdasarkan sub-sektor.
Dari sisi struktur, terjadi peningkatan signifikan pada PMDN, dari Rp194,3 triliun menjadi Rp239,7 triliun. Sementara realisasi PMA relatif stagnan, hanya meningkat tipis dari Rp527,0 triliun menjadi Rp541,2 triliun. Pergeseran ini menimbulkan tanda tanya: investasi domestik yang menguat karena bergairah atau investasi asing yang meredup?
Terlepas dari itu semua, yang jelas terlihat adalah pola yang cukup konsisten antara investasi, pertumbuhan output, dan dinamika tenaga kerja. Subsektor yang tergolong sunrise industry, seperti logam dasar, kimia, serta mesin dan elektronik, menjadi tujuan utama investasi. Hal ini menunjukkan bahwa investor, baik domestik maupun asing, mulai merespons arah kebijakan industrialisasi, khususnya hilirisasi dan penguatan manufaktur.
Namun demikian, subsektor tersebut umumnya memiliki intensitas tenaga kerja yang lebih rendah dibandingkan sektor padat karya tradisional. Akibatnya, peningkatan investasi tidak selalu diikuti oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam skala besar.
Sebaliknya, subsektor yang tergolong sunset industry, seperti tekstil, kayu, dan kertas, cenderung mengalami penurunan investasi sekaligus penurunan tenaga kerja. Kondisi ini memperkuat indikasi adanya tekanan struktural yang memengaruhi keberlanjutan subsektor tersebut.
Reindustrialisasi Jangan Setengah Hati
Industri pengolahan memasuki fase yang tidak sepenuhnya biasa pada 2025. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, sektor ini kembali tumbuh lebih cepat dibandingkan ekonomi nasional. Secara absolut, nilai tambah industri juga mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Fakta ini menegaskan bahwa industri pengolahan tidak kehilangan relevansinya, bahkan masih memiliki fondasi kuat untuk kembali menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
Namun, di balik capaian tersebut, terdapat realitas yang lebih kompleks. Pertumbuhannya tampak tidak merata, melainkan terkonsentrasi pada sejumlah subsektor tertentu. Pemetaan melalui Tipologi Klassen memperlihatkan adanya fragmentasi yang jelas antara subsektor yang tumbuh cepat (sunrise industry) dan subsektor yang tertinggal (sunset industry). Dengan kata lain, industri Indonesia tidak stagnan, tetapi sedang mengalami transformasi struktural yang belum sepenuhnya seimbang.
Pola yang sama juga terlihat pada sisi ketenagakerjaan. Meskipun industri pengolahan tetap menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar, pertumbuhan penyerapan tenaga kerja relatif terbatas dan tidak merata. Subsektor yang tumbuh pesat cenderung memiliki intensitas tenaga kerja yang lebih rendah, sementara sektor padat karya tradisional justru mengalami tekanan.
Dari sisi investasi, arah transformasi juga semakin terlihat. Investasi mulai terkonsentrasi pada subsektor berbasis hilirisasi dan manufaktur bernilai tambah lebih tinggi, dengan peningkatan peran PMDN yang cukup signifikan. Namun demikian, perlambatan pertumbuhan investasi serta penurunan kontribusi industri terhadap total investasi nasional menunjukkan bahwa daya tarik sektor ini masih perlu diperkuat.
Dengan demikian, pertanyaan awal—apakah Indonesia sedang menuju reindustrialisasi atau sekadar mengalami kebetulan statistik—belum dapat dijawab secara hitam-putih. Indikasi reindustrialisasi memang mulai terlihat, tetapi masih bersifat parsial, belum merata, dan belum sepenuhnya inklusif. Selanjutnya ada di niat atau kemauan politik pemerintah. Reindustrialisasi perlu totalitas, tidak bisa dengan semangat yang separuh.
Ke depan, terdapat beberapa langkah strategis yang perlu dipertimbangkan. Pertama, memperkuat subsektor sunrise yang telah menunjukkan kinerja tinggi, terutama yang terkait dengan hilirisasi, manufaktur menengah, dan integrasi dalam rantai pasok global. Hal ini penting untuk menjaga momentum pertumbuhan yang mulai terbentuk.
Revitalisasi subsektor sunset, khususnya industri padat karya, perlu dilaklukan. Intervensi kebijakan sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan daya saing, mendorong inovasi, serta memperluas akses pasar.
Kemudian, kualitas dan arah investasi perlu ditingkatkan, baik dari sisi volume maupun sisi distribusi antar-subsektor. Investasi perlu diarahkan agar tidak hanya terkonsentrasi pada industri tertentu, tetapi mampu mendorong pemerataan pertumbuhan industri.
Proses deindustrialisasi di Indonesia tengah berjalan walau masih perlahan. Tantangannya adalah memastikan perjalanan tersebut mengarah pada penguatan industri nasional, bukan sekadar pergeseran yang kebetulan.