Pariwisata Nasional Masih Bertumpu pada Kelas Menengah
07 Januari, 2026
Di tengah tekanan ekonomi, kelas menengah tetap gemar berwisata. Mereka pilih destinasi dekat dan hemat, sekaligus menopang utama pariwisata nasional.
Keterangan foto: Ilustrasi mencari jalan di aplikasi smartphone.
Ringkasan
• Kelas Menengah Penopang Utama Pariwisata
Kelas menengah dan menuju kelas menengah menjadi motor utama pariwisata domestik. Data BPS menunjukkan perjalanan wisnus mencapai 1,02 miliar pada 2024 dan terus tinggi pada 2025. Secara jumlah, jutaan warga kelas menengah tetap bepergian dan menyumbang belanja terbesar bagi industri pariwisata nasional.
• Pola Wisata Berubah Jadi Lebih Hemat
Tekanan ekonomi mendorong wisata hemat. Rata-rata belanja per perjalanan turun dari Rp2,7 juta pada 2023 menjadi Rp2,3 juta pada 2024. Masyarakat memilih perjalanan lebih sering, jarak lebih dekat, dan biaya lebih terjangkau tanpa mengurangi intensitas berwisata.
• Dominasi Pulau Jawa dan Tantangan Daerah
Pergerakan wisata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Timur dengan 218,7 juta kunjungan pada 2024. Faktor jarak dan infrastruktur jadi penentu. Wilayah luar Jawa, khususnya Timur seperti Papua, tertinggal karena biaya transportasi tinggi dan fasilitas terbatas.
NEXT Indonesia Center - Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan biaya hidup, minat masyarakat kelas menengah untuk berwisata ternyata tetap tinggi. Bahkan, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan hasrat pelesiran mereka, melainkan mendorong perubahan pola perjalanan dengan memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau.
MOST POPULAR
"Kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah ini merupakan tulang punggung industri pariwisata nasional. Volume pergerakan wisata domestik dan total nilai belanja mereka tetap menjadi yang terbesar dibandingkan kelompok lainnya,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, di Jakarta, Rabu (07/01/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), gairah ini terlihat dari jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang menembus 1,02 miliar pada tahun 2024, atau tumbuh 21,61% dari tahun sebelumnya. Tren positif ini berlanjut pada periode Januari-September 2025 dengan total 901,9 juta perjalanan, yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada dua tahun terakhir.
Peluang berwisata juga dipengaruhi kemampuan ekonomi. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode Maret 2024 menunjukkan, semakin tinggi kelompok ekonomi warga, maka semakin banyak yang pergi berlibur. Dalam setahun terakhir misalnya, sekitar 33,47% warga kelas atas pernah berwisata keluar kabupaten/kota, sementara kelompok miskin hanya 2,14% yang pernah berwisata.
“Tapi kalo kita lihat secara angka absolut, industri pariwisata ini sepenuhnya ditopang oleh kelas menengah dan menuju kelas menengah. Ada sekitar 10,4 juta warga kelompok menuju kelas menengah dan 7,6 juta warga kelas menengah yang pernah melancong dalam setahun terakhir,” ungkapnya.
Yang menarik sebetulnya angka pelesiran domestik ini masih berpotensi untuk ditingkatkan. Sebab data Susenas yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) hanya 7,8% penduduk Indonesia yang pernah ke luar Kabupaten/Kota tempat tinggalnya dalam setahun terakhir.
Christiantoko menambahkan bahwa sektor pariwisata ini tidak perlu menanam modal yang besar karena disediakan oleh alam, namun memiliki multiflyer efek yang besar. “Secara nominal, kelompok kelas menengah menyumbangkan dana fantastis sebesar Rp132,1 miliar/bulan untuk perjalanan wisata, serta Rp226,5 miliar/bulan untuk hotel dan penginapan. Angka tersebut membuktikan bahwa tanpa daya beli kelompok ini, industri perhotelan dan transportasi nasional akan kehilangan mesin pertumbuhan utamanya,” pungkasnya.
Wisata Hemat dan Dominasi Pulau Jawa
Perubahan perilaku juga terlihat dari pola belanja wisatawan. Rata-rata pengeluaran per perjalanan wisnus turun dari Rp2,7 juta pada 2023 menjadi Rp2,3 juta pada 2024. Hal ini menandakan bahwa masyarakat memilih bepergian lebih sering tapi dengan biaya yang lebih hemat.
“Kalau merujuk pada data BPS, pergerakan wisata memang masih terpusat di Pulau Jawa. Jawa Timur menjadi provinsi asal sekaligus tujuan utama dengan 218,7 juta kunjungan pada 2024. Daerah ini jadi favorit wisatawan kelas menengah karena jarak yang ditempuh dekat dan infrastrukturnya juga relatif baik,” ujarnya.
Sebaliknya, destinasi di luar Jawa, terutama wilayah Timur seperti Papua, masih mencatatkan kunjungan terendah, lantaran biaya transportasi yang mahal dan fasilitas yang terbatas.
“Karena itu, kebijakan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri tapi perlu terhubung langsung dengan kebijakan ekonomi yang menjaga stabilitas harga dan pendapatan riil rumah tangga, sehingga daya belinya tetap terjaga dan pariwisata domestik tumbuh lebih stabil, inklusif, dan berkelanjutan,” tutup Christiantoko.