Update  By Editorial Desk

Daerah-daerah Penyumbang Sampah Terbesar di Indonesia, Jakarta Timur Juaranya

15 Februari, 2026

TPA terancam penuh 2028, sampah makanan dan plastik mendominasi, solusi harus bergeser dari angkut-buang ke pengurangan dari sumber.

Ilustrasi tumpukan sampah - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilustrasi tumpukan sampah.

DOWNLOADS


cover siaran pers daerah-daerah penyumbang sampah terbesar di indonesai, jakarta timur juaranya - NEXT Indonesia Center .png

Press Release - Daerah-daerah Penyumbang Sampah Terbesar di Indonesia, Jakarta Timur Juaranya

Download

Ringkasan
• Krisis Sampah dan Ancaman TPA Penuh 2028

Volume sampah terus meningkat akibat urbanisasi dan pola konsumsi boros. Presiden memperingatkan TPA berisiko penuh paling lambat 2028. Sampah kini berdampak pada kesehatan, lingkungan, iklim, dan fiskal daerah, sehingga perlu respons kebijakan yang lebih serius dan terukur.
• Sisa Makanan dan Plastik Jadi Tekanan Utama
Sampah makanan menyumbang 39,73% dari total 20,4 juta ton pada 2025, dengan Jakarta Timur tertinggi secara volume dan Banjarmasin tertinggi per kapita. Untuk plastik, Jakarta memimpin total timbulan, tetapi Morowali tertinggi per kapita akibat lonjakan industri dan penduduk tanpa dukungan infrastruktur memadai.
• Kertas Menumpuk, Solusi Harus dari Hulu
Sampah kertas dan karton terkonsentrasi di Jakarta, sementara Banjarmasin tertinggi per kapita karena penggunaan dokumen fisik dan peran logistik. Solusi perlu bergeser ke pengurangan dari sumber melalui digitalisasi layanan, skema EPR untuk plastik, dan pelaporan SIPSN yang menyeluruh agar kebijakan tepat sasaran.

NEXT Indonesia Center - Sampah menjadi salah satu persoalan paling mendesak di Indonesia. Pertumbuhan penduduk, laju urbanisasi yang cepat, dan pola konsumsi yang makin boros memicu volume sampah tidak terkendali. Presiden Prabowo Subianto bahkan memperingatkan bahwa hampir seluruh tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia diproyeksikan tak lagi mampu menampung timbulan sampah paling lambat 2028.

“Ini alarm bagi kita semua bahwa pola konsumsi saat ini tidak lagi berkelanjutan. Masalah sampah bukan lagi sebatas urusan kebersihan, tetapi sudah menyentuh kesehatan publik, kerusakan lingkungan, krisis iklim, dan beban fiskal pemerintah daerah,” ungkap Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, di Jakarta, Minggu (15/2/2026).

NEXT Indonesia Center pun mencoba menganalisis data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mengetahui tata kelola sampah di berbagai daerah di Indonesia, dengan fokus pada tiga jenis sampah penyumbang terbesar, yaitu sisa makanan, plastik, serta kertas/karton. 

Jakarta Timur Penghasil Sampah Sisa Makanan Tertinggi

Masalah utama sampah sebenarnya sangat dekat dengan urusan dapur seperti makanan yang terbuang, baik dari rumah tangga, pasar, hingga rantai distribusi. Dari total timbulan sampah nasional sebanyak 20,4 juta ton di tahun 2025, sampah sisa makanan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 39,73%. 

Secara volume total, Jakarta Timur menempati posisi teratas dengan timbulan sampah makanan sebanyak 432.155 ton, disusul Kota Jakarta Barat (402.933 ton) dan Kota Jakarta Selatan (365.040 ton). Di luar Jakarta, beberapa daerah juga mencatat timbulan sampah makanan yang tinggi, seperti Kabupaten Cianjur mencapai 244.299 ton, Kota Banjarmasin 228.152 ton, dan Kota Surabaya 227.894 ton.  

Namun, jika dilihat dari angka per kapita atau per orang, Kota Banjarmasin mencatat angka tertinggi nasional terkait sampah makanan sebesar 311 kg/kapita/tahun.

"Angka di Banjarmasin menunjukkan adanya tingkat pemborosan individu yang jauh melampaui kota-kota besar di Jawa. Hal ini dipicu oleh perilaku sosial, seperti kebiasaan menyediakan makanan berlebih saat acara keluarga atau hajatan, sehingga perlu diintervensi melalui edukasi budaya konsumsi,” ujar Sandy.

Warga Morowali, Penimbun Sampah Plastik Terbanyak 

Berbeda dengan sampah sisa makanan yang mencerminkan pemborosan pangan, sampah plastik menunjukkan perubahan gaya hidup masyarakat. Plastik tumbuh seiring maraknya kemasan sekali pakai, belanja daring, dan layanan pesan-antar yang kian mendominasi aktivitas harian.

Secara volume total, wilayah metropolitan Jakarta masih menjadi pengumpul sampah plastik terbesar. Jakarta Timur menghasilkan 198.876 ton dan Jakarta Barat dengan 185.428 ton, disusul Kabupaten Cirebon sebanyak 182.492 ton.

Namun Sandy mengatakan, ada fenomena menarik jika dilihat dari rata-rata per kapita, puncak timbulan sampah plastik justru ada di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan 105 kg/kapita/tahun. 

“Lonjakan ini merupakan efek samping dari pertumbuhan masif industri nikel. Datangnya ribuan pekerja ke kawasan industri memicu timbulan sampah yang tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur, seperti armada pengangkut dan fasilitas TPA yang memadai,” pungkasnya. 

Sampah Kertas/Karton Menumpuk di Jakarta

Sementara dari sisi total timbulan sampah kertas/karton paling besar masih terkonsentrasi di wilayah metropolitan dan pusat aktivitas jasa di Jawa. Tiga kota di DKI Jakarta mendominasi, dipimpin Jakarta Timur dengan 149.395 ton, Jakarta Barat (139.293 ton), Jakarta Selatan (126.194 ton).

Akan tetapi, secara per kapita, Banjarmasin kembali menonjol dengan angka 103 kg/kapita/tahun untuk sampah kertas. Banyaknya dokumen fisik di birokrasi pemerintahan disinyalir menjadi salah satu pemicu utama sampah kertas di kota ini. Selain itu, peran Banjarmasin sebagai pusat distribusi barang di Kalimantan memperbesar timbulan karton kemasan. 

Sandy menekankan, bahwa strategi penanggulangan sampah tidak bisa lagi disamaratakan. "Kita harus bergeser dari sekadar angkut-buang menuju pengurangan nyata dari sumbernya. Misalnya program seperti digitalisasi layanan publik sangat efektif untuk mengurangi sampah kertas secara signifikan," tegasnya. 

Lebih lanjut Sandy menjelaskan, langkah lain yang diusulkan adalah pembatasan kemasan sekali pakai alias skema tanggung jawab produsen atau Extended Producer Responsibility (EPR). Menurutnya produsen harus bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produknya untuk menekan limbah plastik. 

Selain itu, penguatan pelaporan data melalui SIPSN juga harus menjadi prioritas agar mencakup seluruh 514 kabupaten/kota, karena pada tahun 2025 ini, baru ada 209 kabupaten/kota yang melaporkan datanya terkait timbulan sampah.

"Data yang lengkap adalah senjata utama kita untuk merumuskan kebijakan sampah yang efektif bagi masa depan. Tanpa program yang konsisten dan terukur, ancaman TPA penuh pada 2028 akan sulit dihindari,” tutup Sandy Pramuji. 

Related Articles

blog image

Daerah-daerah Boros Sampah

TPA diproyeksi penuh 2028, sementara sampah makanan dan plastik terus naik, menuntut perubahan serius pengelolaan dari sumbernya.

Selengkapnya
blog image

Daya Beli Masyarakat Tertekan, Masyarakat Pilih Nabung Dibanding Belanja

Daya beli masih terjaga, namun konsumsi tertahan tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, membuat rumah tangga makin berhati-hati berbelanja.

Selengkapnya
blog image

Membaca Sinyal Daya Beli Masyarakat

Daya beli masyarakat masih terjaga, namun tertekan. Konsumsi stabil, tetapi upah riil melemah dan rumah tangga kian hati-hati belanjakan pendapatan.

Selengkapnya