Membaca Sinyal Daya Beli Masyarakat
06 Februari, 2026
Daya beli masyarakat masih terjaga, namun tertekan. Konsumsi stabil, tetapi upah riil melemah dan rumah tangga kian hati-hati belanjakan pendapatan.
Keterangan foto: Ilustrasi ibu-ibu sedang memegang belanjaan.
Ringkasan
• Konsumsi Stabil, Daya Beli Mulai Tertekan
Konsumsi rumah tangga masih tumbuh stabil dan menopang ekonomi. Namun, upah riil melemah sejak paruh kedua 2025 karena inflasi melampaui kenaikan upah, sehingga daya beli mulai tertekan meski belum melemah tajam.
• Kerja Bertambah, Pendapatan Terasa Rapuh
Serapan tenaga kerja tetap meningkat, tetapi lajunya melambat. Persepsi penghasilan rumah tangga berfluktuasi dan melemah pada 2025, menandakan tantangan utama ada pada kualitas pendapatan, bukan sekadar jumlah pekerjaan.
• Rumah Tangga Kian Hati-hati dan Tidak Merata
Tabungan nasional meningkat, tetapi terkonsentrasi di kelompok berpendapatan tinggi. Kelompok menengah-bawah stagnan. Konsumsi bertahan, namun didorong kehati-hatian, penundaan belanja, dan rasa aman yang menurun.
MOST POPULAR
- Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan
- Rapuhnya Kemandirian Fiskal Daerah, 449 Kabupaten/Kota Masih Bergantung Dana Pusat
- Pariwisata Nasional Masih Bertumpu pada Kelas Menengah
- Sasar Kelas Menengah, Insentif Bebas PPh 21 dan PPN Properti Punya Efek Ganda
- Atasi "Akal-akalan" Misinvoicing, Pemerintah Harus Nyatakan Penghindaran Pajak dan Tetapkan Bea Keluar Ekspor Batu Bara
NEXT Indonesia Center - Daya beli masyarakat merupakan indikator kunci dalam menilai kualitas pertumbuhan ekonomi karena mencerminkan kemampuan rumah tangga untuk mempertahankan dan meningkatkan konsumsi di tengah perubahan pendapatan dan harga. Apalagi, sebagian besar perekonomian nasional ditopang oleh konsumsi rumah tangga.
Belakangan, muncul perbedaan pandangan soal daya beli atau kemampuan masyarakat berbelanja dan kemauan mengeluarkan dana untuk membeli barang. Jika melihat berbagai data, daya beli masih teraga dengan baik. Namun, keinginan untuk berbelanja (spending) cenderung tertahan.
Sikap hati-hati masyarakat dalam membelanjakan uangnya tentu tidak terjadi tiba-tiba. Banyak faktor yang memengaruhinya, dari kasus pandemi Covid-19, persepsi terhadap situasi politik dan ekonomi nasional, maupun faktor lainnya. Bahkan kelompok masyarakat kelas menengah dan atas –kemampuan konsumsi sekitar Rp2 juta per orang/bulan atau lebih–semakin hati-hati dalam membelanjakan uangnya. Mereka lebih memilih menabung (precationary saving), berinvestasi, atau menunda pembelian besar hingga kondisi dianggap membaik.
Para pelaku usaha juga mencermati terjadinya perlambatan penjualan pada sektor-sektor non-esensial. Jadi, lemahnya aktivitas belanja tidak selalu mencerminkan ketiadaan pendapatan, melainkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga dalam mengelola keuangan.
Dalam publikasi ini, NEXT Indonesia Center mencoba mengurai indikator daya beli masyarakat merujuk pada beberapa indikator yang telah digunakan oleh National Statistical Institute (NSI) Bulgaria dan Institut National de la Statistique et des Études Économiques (INSEE) Prancis. pilihan pada dua acuan tersebut lantaran pemerintah Indonesia belum memiliki indeks yang menunjukkan kondisi daya beli masyarakat.
Kedua lembaga yang dirujuk tersebut mendefinisikan daya beli sebagai kemampuan rumah tangga untuk membeli barang dan jasa riil, yang ditentukan oleh hubungan antara pendapatan dan tingkat harga. Perubahan daya beli dilihat melalui dinamika pendapatan riil, yakni selisih antara pertumbuhan pendapatan dan inflasi.
Berdasarkan kerangka tersebut, kajian ini menggunakan kenaikan upah dan inflasi sebagai indikator inti, yang dilengkapi dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga riil sebagai indikator realisasi daya beli pada tingkat makro. Untuk menangkap perbedaan antara kemampuan belanja (ability to pay) dan keinginan belanja (willingness to spend), analisis juga memasukkan indikator pelengkap yang memengaruhi keputusan belanja rumah tangga, antara lain serapan tenaga kerja, indeks penghasilan saat ini, penjualan ritel, tabungan masyarakat, dan indeks keyakinan konsumen.
Pendekatan ini memungkinkan pembacaan daya beli secara lebih komprehensif. Konsumsi yang masih tumbuh tidak serta-merta diartikan sebagai penguatan kesejahteraan, sementara pelemahan sentimen, peningkatan tabungan, dan fluktuasi penghasilan yang dirasakan dapat menjadi sinyal bahwa rumah tangga memilih bersikap defensif. Dengan demikian, review ini tidak hanya menelusuri kondisi kemampuan berbelanja masyarakat, tetapi juga apakah mereka merasa cukup aman dan percaya diri untuk membelanjakan pendapatannya, serta bagaimana kondisi tersebut memengaruhi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan.
Mengukur Beragam Sinyal Daya Beli
National Statistical Institute (NSI) Bulgaria dan Institut National de la Statistique et des Études Économiques (INSEE) Prancis memaknai daya beli (purchasing power/pouvoir d’achat) sebagai kemampuan pendapatan rumah tangga untuk membeli barang dan jasa riil. Indikator tersebut ditentukan oleh relasi antara pendapatan dan tingkat harga.
Mengacu pada metodologi NSI Bulgaria, daya beli dipahami sebagai jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli dengan pendapatan rumah tangga dalam kondisi harga tertentu. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan daya beli tidak dapat dilepaskan dari dinamika harga, sehingga ukuran daya beli harus bersifat riil, bukan nominal.
Sementara INSEE secara operasional mendefinisikan perubahan daya beli sebagai selisih antara pertumbuhan pendapatan rumah tangga dan pertumbuhan indeks harga konsumen. Indikator ini dihitung berbasis national accounts dan distandardisasi secara internasional.
Berdasarkan kerangka tersebut, NEXT Indonesia Center menggunakan kenaikan pendapatan dan inflasi sebagai fondasi utama pengukuran daya beli. Pendapatan masyarakat digambarkan melalui kenaikan upah nominal tahunan (year-on-year, yoy), sedangkan tingkat harga direpresentasikan oleh inflasi (yoy).
Selisih antara dua indikator tersebut digunakan sebagai pendekatan upah riil, yang mencerminkan perubahan kemampuan pendapatan rumah tangga dalam mempertahankan atau meningkatkan konsumsi. Pendekatan ini sejalan dengan praktik INSEE dalam membaca daya beli sebagai fungsi langsung dari pendapatan dan harga.
Untuk menilai realisasi daya beli pada tingkat makro, kajian ini juga menggunakan pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga riil. Konsumsi rumah tangga diperlakukan sebagai indikator hasil (outcome) dari daya beli: konsumsi yang tumbuh menunjukkan bahwa rumah tangga masih mampu menjaga volume belanjanya, namun tetap dianalisis bersama dinamika upah dan inflasi guna menghindari bias pembacaan agregat.
Selain indikator inti tersebut, NEXT Indonesia Center memperluas kerangka pengukuran daya beli dengan mengadopsi pendekatan pelengkap yang sejalan dengan praktik statistik internasional dan literatur ekonomi. Serapan tenaga kerja digunakan untuk menangkap dimensi keberlanjutan pendapatan, mengingat daya beli yang sehat mensyaratkan akses terhadap pekerjaan yang stabil. Indeks penghasilan saat ini dimanfaatkan untuk membaca kondisi pendapatan dari sisi persepsi rumah tangga, yang sering kali memengaruhi perilaku konsumsi dan tabungan lebih cepat dibanding data pendapatan formal.
Dari sisi perilaku ekonomi, kajian ini juga memasukkan penjualan barang sebagai indikator mikro realisasi konsumsi, khususnya untuk mendeteksi penyesuaian belanja pada barang non-esensial. Tabungan masyarakat digunakan untuk membaca bantalan daya beli: peningkatan tabungan dapat mencerminkan kehati-hatian dan penundaan konsumsi, sementara penurunan tabungan dapat mengindikasikan konsumsi yang dipertahankan dengan mengorbankan cadangan keuangan.
Terakhir, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) digunakan untuk menangkap ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi, pendapatan, dan lapangan kerja ke depan—faktor yang dalam banyak kasus mendahului perubahan konsumsi riil.
Dengan menggabungkan indikator pendapatan, harga, konsumsi, ketenagakerjaan, tabungan, dan persepsi, NEXT Indonesia Center mengadopsi kerangka pengukuran daya beli yang konsisten dengan metodologi NSI dan INSEE, sekaligus relevan dengan karakteristik perekonomian Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan daya beli secara lebih utuh, tidak hanya dari stabilitas konsumsi agregat, tetapi juga dari kualitas, daya tahan, dan keberlanjutan kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Konsumsi Rumah Tangga Relatif Stabil
Dari sisi konsumsi, pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Sepanjang 2023–2024, konsumsi tumbuh konsisten di kisaran 4,53%–5,22% (yoy), dan pada 2025 masih bertahan sekitar 4,98%. Sebagai komponen terbesar PDB, stabilitas ini mengindikasikan bahwa secara agregat, volume konsumsi riil masyarakat belum melemah, dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Namun, pendekatan berbasis daya beli menuntut pembacaan lebih dalam terhadap sumber pertumbuhan konsumsi tersebut. Data upah dan inflasi menunjukkan bahwa pada 2024, kenaikan upah masih sedikit melampaui inflasi, sehingga upah riil berada di zona positif, meskipun dengan selisih yang tipis. Kondisi ini sejalan dengan konsumsi yang tumbuh stabil dengan laju pertumbuhan yang kencang—menandakan daya beli terjaga, namun ruang ekspansi konsumsi relatif sempit.
Memasuki 2025, dinamika daya beli menjadi lebih kontras. Pada Februari 2025, inflasi yang sangat rendah—bahkan mencatat deflasi pada Februari 2025—membuat kenaikan upah nominal yang lebih rendah tetap menghasilkan pertumbuhan upah riil yang cukup kuat. Namun, situasi ini tidak berlanjut.
Pada Agustus 2025, inflasi meningkat menjadi 2,31% (yoy), sementara kenaikan upah hanya 1,94%, sehingga upah riil terkontraksi sekitar -0,37%. Mengacu pada metodologi INSEE, kondisi ini merupakan sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga.
Dengan demikian, kondisi daya beli masyarakat Indonesia saat ini dapat disimpulkan bahwa secara umum masih terjaga, tetapi mulai menghadapi tekanan. Konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh menunjukkan ekonomi belum melemah, namun pelemahan upah riil mengindikasikan bahwa pertumbuhan konsumsi berpotensi semakin ditopang oleh penyesuaian pola belanja, bukan oleh peningkatan kesejahteraan riil.
Dalam kerangka daya beli, tantangan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan konsumsi, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut didukung oleh pendapatan riil yang memadai agar berkelanjutan dan inklusif.
Serapan Tenaga Kerja Masih Positif
Serapan tenaga kerja Indonesia menunjukkan tren yang masih positif dalam tiga tahun terakhir. Jumlah penduduk yang bekerja meningkat dari 138,63 juta orang pada Februari 2023 menjadi 139,85 juta orang pada Agustus 2023. Tren kenaikan berlanjut pada 2024, dengan jumlah orang bekerja mencapai 142,18 juta pada Februari, lalu naik signifikan menjadi 144,64 juta orang pada Agustus.
Namun, pada 2025 terjadi perubahan yang cukup nyata dalam laju penambahan orang yang bekerja. Serapan tenaga kerja pada Februari 2025 bertambah 3,59 juta orang, relatif sebanding dengan tahun sebelumnya. Tetapi, pada Agustus 2025, jumlah tenaga kerja hanya bertambah 1,90 juta orang, jauh lebih rendah dibanding tambahan pada Agustus 2024. Pola ini menunjukkan bahwa momentum penciptaan lapangan kerja mulai menurun pada paruh kedua tahun.
Dalam kerangka daya beli, serapan tenaga kerja yang tetap meningkat merupakan sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menjamin penguatan daya beli secara berkelanjutan. Ketika pertumbuhan kesempatan kerja mulai melambat dan pada saat yang sama kenaikan upah tertinggal dari inflasi, tekanan terhadap daya beli rumah tangga berpotensi meningkat.
Dengan demikian, meskipun pasar kerja Indonesia masih menunjukkan ekspansi, kualitas pertumbuhan ketenagakerjaan—termasuk laju penciptaan kerja dan pertumbuhan pendapatan—menjadi faktor kunci dalam menentukan arah daya beli masyarakat ke depan.
Naik Turun Penghasilan Rumah Tangga
Peningkatan serapan tenaga kerja memperluas basis rumah tangga yang memiliki sumber pendapatan, namun tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan pendapatan yang dirasakan. Untuk menangkap dimensi ini, kajian ini menggunakan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) sebagai indikator persepsi rumah tangga terhadap kondisi penghasilannya.
IPSI adalah komponen dari Survei Konsumen Bank Indonesia yang mengukur persepsi masyarakat mengenai pendapatan rumah tangga saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya. Indeks ini mencerminkan optimisme atau pesimisme masyarakat, dengan angka di atas 100 menunjukkan peningkatan, sedangkan di bawah 100 menunjukkan penurunan.
Pergerakan IPSI menunjukkan bahwa kondisi penghasilan rumah tangga bersifat fluktuatif. Pada 2023, indeks menguat di pertengahan tahun sebelum melemah pada paruh kedua. Pada 2024, IPSI kembali membaik menjelang akhir tahun, sejalan dengan stabilnya konsumsi dan pasar kerja.
Namun pada 2025, IPSI melemah cukup tajam pada paruh kedua tahun, sebelum pulih terbatas di akhir tahun. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan inflasi dan melemahnya upah riil, sehingga mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup.
Dalam konteks daya beli, pergerakan IPSI memperkuat temuan bahwa tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan pekerjaan, melainkan pada daya beli pendapatan. IPSI berperan sebagai indikator dini yang menjembatani dinamika pasar kerja, upah, dan perilaku konsumsi.
Tabungan Bertambah, Namun Tersegmentasi
Perkembangan tabungan masyarakat menunjukkan bahwa bantalan keuangan rumah tangga Indonesia masih bertambah secara agregat, tetapi dengan pola yang semakin tersegmentasi antarkelompok simpanan. Data pertumbuhan tabungan (yoy) memperlihatkan bahwa pada 2023, pertumbuhan tabungan total sempat tinggi di awal tahun sebelum melandai tajam pada kuartal empat, terutama akibat perlambatan tabungan kelompok Tabungan >Rp1 miliar. Sementara itu, kelompok ≤Rp100 juta dan Rp100 juta– Rp1 miliar relatif lebih stabil, meski dengan laju pertumbuhan yang terbatas.
Pada 2024, tabungan kembali menguat dan mencerminkan meningkatnya kehati-hatian rumah tangga. Pertumbuhan tabungan total bertahan di kisaran 6–9% sepanjang sebagian besar tahun, dengan kontribusi kuat dari kelompok Tabungan >Rp1 miliar. Namun, memasuki akhir tahun, pertumbuhan kembali melemah seiring perlambatan tabungan kelompok atas. Pola ini berlanjut pada 2025, ketika pertumbuhan tabungan total meningkat signifikan pada paruh kedua tahun—bahkan mencapai 12,1% (yoy) pada November 2025—yang kembali didorong hampir sepenuhnya oleh lonjakan tabungan kelompok >Rp1 miliar.
Segmentasi ini semakin jelas ketika dikaitkan dengan rata-rata tabungan per rekening. Sepanjang periode pengamatan, rata-rata tabungan per rekening pada kelompok ≤Rp100 juta relatif stagnan dan bahkan cenderung menurun tipis, dari sekitar Rp2,0 juta pada awal 2023 menjadi sekitar Rp1,7–1,8 juta pada 2024–2025.
Kelompok rekening dengan tabungan Rp100 juta–1 miliar juga menunjukkan pola yang nyaris datar, bertahan di kisaran Rp282–284 juta per rekening tanpa tren peningkatan yang berarti. Sebaliknya, kelompok Tabungan >Rp1 miliar mencatat kenaikan yang konsisten, dari sekitar Rp7,9 miliar per rekening pada awal 2023 menjadi lebih dari Rp9,0 miliar per rekening pada November 2025.
Temuan ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan tabungan nasional lebih banyak berasal dari penambahan nilai simpanan pada rekening besar, bukan dari peningkatan kapasitas menabung kelompok menengah dan bawah. Dengan kata lain, secara agregat tabungan bertambah, tetapi ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Bagi kelompok menengah-bawah, tabungan cenderung stagnan, bahkan tergerus secara riil ketika dihadapkan pada tekanan inflasi dan fluktuasi pendapatan.
Dalam kerangka daya beli, kondisi ini mengirim dua sinyal penting. Pertama, tabungan yang tetap tumbuh membantu menjelaskan mengapa konsumsi rumah tangga belum melemah tajam, karena sistem keuangan rumah tangga masih memiliki bantalan secara keseluruhan. Kedua, meningkatnya konsentrasi tabungan pada kelompok berpendapatan tinggi memperkuat indikasi bahwa sebagian besar rumah tangga bersikap lebih defensif, dengan kecenderungan menahan belanja.
Segmentasi tabungan ini mempertegas temuan sebelumnya: daya beli masyarakat Indonesia masih ada, tetapi semakin tidak merata dan lebih berhati-hati, terutama di luar kelompok atas.
Efek Musiman Penjualan Ritel
Indeks Penjualan Riil (IPR) yang dikeluarkan Bank Indonesia memberi gambaran paling “membumi” soal daya beli karena menangkap aktivitas belanja ritel secara langsung. Data 2023–2025 menunjukkan pola yang konsisten: penjualan ritel cenderung menguat pada Maret–April (efek musiman, biasanya terkait periode Ramadan/Idulfitri) lalu melemah di pertengahan tahun sebelum kembali membaik di akhir tahun. Pada 2025, indeks penjualan mencapai level tertinggi dalam tiga tahun dan bertahan relatif tinggi hingga akhir tahun.
Kekuatan penjualan ritel ini membantu menjelaskan mengapa konsumsi rumah tangga masih tumbuh stabil secara agregat. Namun, ketika dibaca bersama indikator pendapatan dan tabungan, kondisi ini juga dapat mencerminkan konsumsi yang dipertahankan melalui penyesuaian pola belanja, promosi ritel, atau pergeseran ke barang yang lebih terjangkau, bukan semata karena penguatan daya beli riil.
Rasa Aman Jadi Tantangan
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi penutup penting dalam membaca kondisi daya beli masyarakat karena menangkap ekspektasi dan sentimen rumah tangga terhadap kondisi ekonomi ke depan. Sepanjang 2023–2025, IKK Indonesia konsisten berada di atas level 100, yang berarti konsumen masih berada dalam zona optimistis.
Namun, pergerakan indeks ini menunjukkan perubahan yang signifikan, terutama pada 2025. Setelah berada pada level tinggi di awal tahun, IKK melemah tajam hingga paruh kedua tahun sebelum pulih terbatas di akhir tahun.
Dalam kerangka daya beli, pelemahan IKK pada 2025 mempertegas bahwa tantangan utama bukan pada ketiadaan konsumsi, melainkan pada rasa aman ekonomi rumah tangga. Konsumsi dan penjualan ritel masih bertahan, tetapi optimisme konsumen menurun ketika penghasilan terasa tertekan dan biaya hidup meningkat. Optimisme yang melemah dapat membatasi keberlanjutan konsumsi, meskipun indikator agregat masih terlihat stabil.
Daya Beli Tertekan Tapi Belum Melemah
Hasil pengamatan pada indikator-indikator di atas menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia belum mengalami pelemahan tajam. Konsumsi rumah tangga tetap tumbuh stabil, penjualan ritel berada pada level relatif tinggi, dan serapan tenaga kerja terus meningkat. Ketiga indikator ini menjelaskan mengapa perekonomian domestik masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.
Namun, di balik ketahanan tersebut, sejumlah indikator kunci mengisyaratkan melemahnya kualitas daya beli. Tekanan mulai terlihat dari dinamika upah riil yang terkontraksi pada paruh kedua 2025, pelemahan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), serta pergeseran pola tabungan yang semakin terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi.
Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menurun cukup tajam sebelum pulih terbatas di akhir tahun. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian dan berkurangnya rasa aman ekonomi rumah tangga.
Dengan demikian, tantangan utama daya beli Indonesia saat ini bukan terletak pada ketiadaan konsumsi, melainkan pada ketahanan pendapatan riil dan kepercayaan rumah tangga. Selama konsumsi masih ditopang oleh penyesuaian belanja, bantalan tabungan, dan optimisme yang fluktuatif, risiko pelemahan dapat tertunda.
Namun, tanpa penguatan pendapatan riil yang lebih merata dan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam belanja. Pembiaran terhadap kondisi ini dapat membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya.