Daya Beli Masyarakat Tertekan, Masyarakat Pilih Nabung Dibanding Belanja
08 Februari, 2026
Daya beli masih terjaga, namun konsumsi tertahan tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, membuat rumah tangga makin berhati-hati berbelanja.
Keterangan foto: Ilustrasi troli belanja kosong.
DOWNLOADS
Siaran Pers - Daya Beli Masyarakat Tertekan, Masyarakat Pilih Nabung Dibanding Belanja
Ringkasan
• Daya Beli Ada, Konsumsi Ditahan
Daya beli masyarakat masih terjaga dan konsumsi tetap tumbuh stabil. Namun, rumah tangga menahan belanja karena tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, dan sikap hati-hati pascapandemi. Konsumsi bertahan bukan karena optimisme tinggi, tetapi strategi defensif menjaga keuangan.
• Upah Riil dan Penghasilan Mulai Tertekan
Tekanan muncul dari kontraksi upah riil sejak paruh kedua 2025 ketika inflasi melampaui kenaikan upah. Serapan tenaga kerja melambat, dan IPSI melemah, menandakan penghasilan yang dirasakan rumah tangga tergerus biaya hidup meski lapangan kerja masih bertambah.
• Tabungan Tumbuh, Namun Tidak Merata
Tabungan nasional meningkat tajam, tetapi didominasi kelompok berpendapatan tinggi. Kelompok menengah dan bawah stagnan bahkan menurun secara riil. Pola precautionary saving menguat, mencerminkan ketimpangan bantalan finansial dan meningkatnya kehati-hatian belanja.
NEXT Indonesia Center - Daya beli masyarakat Indonesia saat ini memang masih tumbuh dan terjaga, namun keinginan masyarakat untuk membelanjakan pendapatan mereka justru semakin tertahan, lantaran meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, hingga kehati-hatian pascapandemi.
MOST POPULAR
- Pariwisata Indonesia Kalah Telak dari Vietnam, Bali Tak Bisa Terus Jadi Andalan
- Rapuhnya Kemandirian Fiskal Daerah, 449 Kabupaten/Kota Masih Bergantung Dana Pusat
- Pariwisata Nasional Masih Bertumpu pada Kelas Menengah
- Sasar Kelas Menengah, Insentif Bebas PPh 21 dan PPN Properti Punya Efek Ganda
- Atasi "Akal-akalan" Misinvoicing, Pemerintah Harus Nyatakan Penghindaran Pajak dan Tetapkan Bea Keluar Ekspor Batu Bara
"Dari hasil riset yang kami lakukan, daya beli memang ada dan tumbuh, tapi masyarakat kini lebih memilih bersikap defensive. Mereka menahan konsumsi bukan karena tidak punya uang, melainkan lebih memprioritaskan keamanan finansial karena ketidakpastian ekonomi di masa depan,” ujar Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, di Jakarta, Minggu (8/2/2026).
Kondisi ini, kata Sandy, tercermin pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan tumbuh konsisten di kisaran 4,53% - 5,22% (yoy) pada 2023-2024, serta bertahan pada level 4,98% di tahun 2025. Angka agregat ini mengindikasikan bahwa ekonomi domestik belum melemah, dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Kendati demikian, tekanan mulai muncul pada sisi upah riil pekerja yang diprediksi mulai tertekan pada paruh kedua tahun 2025. Jika pada 2024 kenaikan upah masih melampaui inflasi, data Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94% (yoy), lebih rendah dibandingkan laju inflasi yang mencapai 2,31% (yoy).
“Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar -0,37%, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” ungkap Sandy.
Sementara dari sisi ketenagakerjaan, serapan tenaga kerja pada Februari 2025 bertambah 3,59 juta orang, relatif sebanding dengan tahun sebelumnya. Tetapi, pada Agustus 2025, jumlah tenaga kerja hanya bertambah 1,90 juta orang, jauh lebih rendah dibanding tambahan pada Agustus 2024 sebesar 4,79 juta orang.
Penurunan gairah ekonomi ini juga tercermin dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang dirilis oleh Bank Indonesia. Meskipun indeks masih berada di atas level 100, terjadi pelemahan yang cukup tajam pada paruh kedua tahun 2025 sebelum pulih terbatas di akhir tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup.
Sandy juga menjelaskan, kondisi keuangan rumah tangga juga memperlihatkan pola yang semakin tersegmentasi dan tidak merata. Tabungan masyarakat secara total memang tumbuh hingga 12,1% (yoy) pada November 2025, tetapi pertumbuhan signifikan ini didominasi hampir sepenuhnya oleh kelompok simpanan besar dengan saldo di atas Rp1 miliar.
Sebaliknya, kapasitas menabung kelompok menengah dan bawah justru mengalami stagnasi. Rata-rata tabungan per rekening untuk kelompok simpanan di bawah Rp100 juta cenderung menurun tipis, dari sekitar Rp2,0 juta pada awal 2023 menjadi sekitar Rp1,7 juta pada 2024-2025.
“Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung dan berinvestasi, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi,” ungkap Sandy.
Adapun pada sektor ritel, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat masih cukup kuat dan mencapai level 248,3 pada Maret 2025. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, melampaui capaian pada periode yang sama di tahun 2023 dan 2024. Lonjakan aktivitas belanja ini dipicu oleh efek musiman periode Ramadhan dan Idulfitri.
Sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia sepanjang 2023–2025 konsisten berada di atas level 100, yang berarti konsumen masih berada dalam zona optimistis. Namun, tingkat keyakinan ini melemah tajam pada paruh kedua 2025 sebelum pulih terbatas di akhir tahun.
“Dari hasil pengamatan pada indikator-indikator tersebut, tantangan utama daya beli Indonesia saat ini bukan terletak pada ketiadaan konsumsi, melainkan memastikan pertumbuhan pendapatan riil yang lebih merata dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Tanpa penguatan fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya,” tutup Sandy.